BAB 40 // Mental Health

363 17 2
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya.

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____


Hari ini Oma Aeri harus pergi ke sekolah cucunya, yaitu Ara untuk mendatangi undangan tahunan. Pembahasan pun tidak jauh-jauh dari tahun sebelumnya seperti; iuran tahunan, jadwal ujian kenaikan kelas, kegiatan class meeting dan liburan tahunan. Guru juga akan memaparkan secara pribadi perkembangan anak kepada orang tuanya selama satu tahun.

"Wali murid ananda Aira Yovana Ganendra," panggil seorang guru perempuan di depan sana.

Oma Aeri segera berdiri dari duduknya dan mendekati meja didepan ruangan untuk kemudian kembali duduk menghadap guru yang menjabat sebagai wali kelas cucunya.

"Maaf sebelumnya, kalau boleh tau apa hubungan anda dengan murid?" tanya Guru tersebut sebelum menjelaskan lebih jauh tentang anak muridnya.

"Saya neneknya," jawab Oma Aeri singkat.

"Sebelumnya, terimakasih sudah memenuhi undangan. Saya selaku wali kelas yang mengampu Aira selama satu tahun ini akan menjelaskan tentang perkembangan Aira."

Guru itu mengambil map yang sudah disiapkan dan membukanya, lalu perlahan-lahan mulai menjelaskan dengan rinci.

"Nilai raport Ananda Aira selama satu tahun ini tidak ada yang mengkhawatirkan, Aira selalu baik dalam kegiatan akademik maupun non akademik. Namun, saya perhatikan bahwa Aira akhir-akhir ini terlihat lebih pendiam dari biasanya. Saya sering menemui Aira sedang murung sendirian disaat teman-temannya bermain."

Oma Aeri terdiam membiarkan guru dari cucunya menyelesaikan penjelasannya. Sementara itu hatinya terasa sakit mendengar penuturan guru tersebut. Tidak menyangka bahwa cucunya yang selalu terlihat ceria saat di rumah ternyata berbanding terbalik dengan saat berada diluar. Apakah ini akibat dari keegoisannya selama ini?

"Saya hanya mengingatkan kepada anda sebagai wali murid, bahwa sangat penting untuk menjaga kondisi psikis anak. Selama ini Aira tidak pernah mau jika ada yang menyuruhnya bercerita  tentang keluarga, bahkan saat ada tugas yang berhubungan tentang keluarga, Aira tidak pernah mengerjakan tugas tersebut. Jujur saja saya merasa khawatir dengan kondisi ini.

"Selama ini juga, jika ada acara sekolah seperti hari ibu dan perayaan lainnya, Aira  selalu didampingi oleh kakaknya. Kalau boleh tau, dimana sebenarnya orang tua Aira?" tanya guru tersebut dengan setengah hati. Bagaimanapun apa yang barusan ia tanyakan termasuk hal privasi.

"Orang tua cucu saya sudah bercerai dan ibunya sudah menikah lagi, sementara itu ayahnya Aira sudah meninggal dunia tiga tahun lalu."

Tatapan guru tersebut berubah menjadi sendu. Beberapa kali guru itu juga meminta maaf atas kelancangannya. Tidak menyangka bahwa salah satu anak muridnya ada yang memiliki masalah hidup sebesar itu disaat usianya masih sangat kecil. Pasti Aira selama ini selalu merasa ingin seperti temannya yang lain, memiliki kedua orang tua yang utuh.

"Apakah ada hal lain yang perlu saya ketahui tentang cucu saya?" tanya Oma Aeri yang ingin segera pulang dan bertemu Ara.

Guru tersebut menggeleng kecil. "Hanya itu yang perlu saya sampaikan kepada anda selaku wali murid. Maaf jika dalam menyampaikan penjelasan tadi, saya ada salah kata," ucap guru tersebut merasa bersalah melihat raut wajah wanita paruh baya didepannya tidak sebaik sebelumnya.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang