Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu, ya kali baca doang 😭😭
Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya
Heppy Reading....
Vote, komen & share
_____
Sudah tiga hari Ara di rawat di rumah sakit, selama itu juga Rain tidak pernah pulang ke rumahnya. Rain full merelakan waktunya untuk menemani dan menjaga Ara di rumah sakit. Selalu mendekap gadis itu saat akan diambil sampel darahnya setiap pagi dan selalu membujuk Ara untuk mau konsisten minum obat.
Setelah siang tadi mendapatkan kunjungan rutin dokter spesialis anak, Ara akhirnya diizinkan untuk pulang. Gadis kecil itu sedari tadi bernyanyi dengan senang karena akhirnya ia bisa terbebas dari infus di punggung tangannya dan bisa bergerak bebas di rumahnya.
"Ayo kita masuk rumah!" seru Ara begitu pintu mobil terbuka. Yeah malam ini Ara sudah bisa tidur di rumahnya.
Rain dengan sigap membantu Ara turun dan menggandeng tangan Ara untuk memasuki rumah. Dirinya senang melihat adiknya kembali sehat dan ceria. Setelah waktu itu Ara menanyakan keberadaan Mamanya, gadis itu sempat murung semalaman. Tapi esoknya Ara sudah kembali ceria.
Namun nyatanya Rain tahu betul, sebenarnya adiknya tetap berharap Mamanya datang, tetap rindu akan sosok wanita yang melahirkannya. Namun kembali lagi, bahwa Ara dan Rain sudah terbiasa tanpa kehadiran wanita tersebut—membuat keduanya hanya memendam kuat semuanya.
"Kak Rain aku boleh main di ruang tengah nggak?"
Rain menggelengkan kepala tidak mengizinkan. "Ara baru sembuh, belum boleh kecapean. Istirahat dulu yuk," ajak Rain dengan tangan mengusap rambut Ara.
"Cuma tidur sambil liat Tv ya! Aku nggak mau tidur!" tolak Ara dengan wajah masam.
Rain mengangguk tidak masalah. "Ayo ke kamar Kakak." Ajak Rain agar dia mudah mengawasi Ara.
Mereka berdua menaiki tangga untuk naik ke lantai atas dimana kamar Rain berada. Begitu memasuki kamar, Ara mencopot jaket yang tadi melekat di tubuhnya dan segera naik ke atas ranjang tidur kakaknya.
"Kakak mau mandi dulu ya."
"Oke," kata Ara dengan membulatkan jari telunjuk dan jempol.
Rain menaruh slingbag yang tadi ia pakai pada gantungan, lalu menuju lemari baju untuk mengambil pakaian bersih dan masuk ke dalam kamar mandi.
Kurang lebih lima belas menit Rain mandi, kemudian keluar dari kamar mandi dengan keadaan badan lebih segar. Rain menuju meja rias dan duduk pada kursi lalu menyalakan mesin pengering rambut. Saat melihat adiknya yang tertawa melihat animasi kartun di Tv Rain ikut tersenyum tipis.
Dirasa rambutnya sudah kering seluruhnya, tidak lupa Rain mengoleskan vitamin khusus agar rambutnya tidak rusak.
"Kakak belajar dulu, nanti setelah itu baru masak buat makan malam. Adek mau Kakak masakin apa?"
"Terserah kakak aja. Yang penting bukan bubur lembek kaya kemarin." Ara bergidik membayangkan bubur rumah sakit yang terasa hambar di lidahnya.
Rain tersenyum mendengar pernyataan adiknya yang trauma dengan bubur rumah sakit yang akan selalu menghabiskan banyak kesabaran Rain untuk membujuk Ara agar mau memakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Teen FictionSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
