BAB 34 // Mulai Terbuka

367 32 12
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt

Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Saat ini Rain dan teman-temannya sedang duduk disebuah cafe yang berada tidak jauh dari sekolah. Keempatnya sibuk memakan macaron sambil mengobrol ringan.

"Kalau dipikir-pikir lo sekarang jarang telat ya, Rain," ucap Nesha sambil memasukkan potongan kentang goreng kedalam mulutnya.

"Lagi malas kena masalah," jawab Rain singkat.

"Aidan kayaknya beneran suka sama lo deh, Rain. Seriusan. Lo sadar nggak sih? Kalau lo itu cewek satu-satunya yang deket sama dia. Selama ini Aidan kan hidupnya lurus-lurus aja tuh, bahkan nggak pernah lirik kanan-kiri kalau jalan. Tapi kalau sama lo beda."

"Beda gimana?"

Mesha memutar bola matanya. "Jangan pura-pura goblok deh, Rain. Gue tahu lo paham apa yang gue omongin."

"Kenapa kalian ngira gitu? Gue sama dia cuma temenan aja."

Nesha berdecak pelan—sebal dengan sahabatnya yang sangat polos masalah percintaan. "Terus aja ngomong; kita cuma teman. Udah basi. Murid-murid yang lain aja tau bedanya."

Rain mengangkat bahunya, tidak lagi membalas ucapan si kembar. Munafik jika ia tidak merasakan perbedaan perilaku Aidan kepadanya. Rain sadar akan hal itu, namun Rain berusaha untuk selalu mendorong menjauh. Tidak—Rain tidak berani berharap. Harapan hanya akan membuatnya terpuruk, sama seperti dulu Rain selalu mengharapkan Mamanya datang.

Rain sadar bahwa cowok itu berada di level lain, entah dari segi akademik maupun non akademik. Apalagi dengan latar keluarga harmonis yang dimilikinya, Aidan pasti menginginkan cewek yang sempurna. Tidak berantakan seperti dirinya.

Sambil beralih membicarakan hal yang lain, mulai dari PR yang semakin hari, semakin menumpuk dan Nesha yang memperhatikan Axel yang beberapa hari ini tidak terlihat bareng dengan Aidan dan kawan-kawan. Memang—sedekat apapun mereka, Rain tidak terbiasa membagikan masalah keluarganya pada orang lain.

"Kalian udah baca grup kelas belum? Kita suruh mendoakan Sania agar cepat sembuh, memangnya dia sakit apa?"

Rain dan Mesha ikut melihat layar ponsel Nesha yang memperlihatkan chat dari wali kelas mereka yang memerintahkan agar seluruh siswa mendoakan kesembuhan Sania. Rain terdiam dengan pikiran rumit. Memangnya seberapa parah kondisi gadis itu sekarang?

Jika seperti ini, Rain tidak bisa lagi kabur.

"Menurut kalian dia sakit apa?" tanya Mesha dengan jidat mengerut.

"Entahlah, pantas aja kita nggak ketemu dia. Kalau nggak salah, dia ngilanginnya bareng sama lo deh, Rain."

"Ya karena dia sakitnya juga gara-gara gue."

"Maksudnya? Lo bully dia sendirian?" tanya Nesha memastikan.

Rain menggelengkan kepalanya. Rain tidak tahu seberapa jauh Sania menyembunyikan penyakit kangker yang di deritanya dan bagaimana kondisi gadis itu sekarang. Rain tidak tahu karena gadis itu juga tidak memiliki banyak waktu hanya untuk mencari tau kondisi orang lain disaat kondisi dirinya juga tidak baik-baik saja, walaupun memang dalam konteks yang berbeda.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang