Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya.
Heppy Reading....
Vote, komen & share
_____
"Rain. Stop!" Sandra berteriak, menghentikan Rain yang masih meminum Vodka, dan itu sudah gelas ketiga. Harusnya jika gadis itu sudah terbiasa minum, efeknya tidak sebesar sekarang, tapi sepertinya Rain tidak kuat dengan alkohol. Rain kembali menolak untuk berhenti. Gadis itu benar-benar gila.
Sandra sudah menyerah. Jujur saja, dirinya tidak pernah dihadapan dengan masalah seperti ini, membuat Sandra kalut sekaligus khawatir. Akhirnya Sandra memutuskan untuk menghubungi Aidan dan menyuruh cowok itu untuk membawa pulang Rain.
"Sumpah Rain, lo bikin gue bingung anjir. Mau mulangin lo ke rumah takut di marahin keluarga lo, tapi kalau stay di sini lebih lama lo makin gila dan itu berbahaya." Sandra berceloteh dengan kepala yang ditaruh diatas meja dengan menghadap Rain.
Tadi sepulang dari rumah sakit untuk menjenguk Sania, tiba-tiba Rain meminta untuk gadis itu saja yang menyetir mobil, dan tanpa rasa curiga Sandra menyetujuinya. Sandra terkejut saat Rain tiba-tiba memberhentikan mobilnya disebuah club malam. Sandra sempat menolak untuk masuk, namun akhirnya ia kalah oleh keras kepala seorang Rain.
Sandra menatap Rain dengan lekat. Mata gadis itu sudah memerah, mungkin sebentar lagi akan kehilangan kesadaran. Sandra bisa melihat bagaimana Rain seakan lelah menjalani hidup, gadis itu sedang merasakan hancur di hidupnya. Mungkin karena jalan takdirnya sedang tidak bersahabat dengannya.
"Kebahagiaan itu tidak benar-benar ada."
"Gue merasa dikhianati, mereka terlalu dalam melukai."
Sandra sudah beberapa kali mendengar Rain berucap lirih seperti itu.
Seakan pertemuan dengan Sania hanya pemantik kecil untuk Rain meledak— seperti sekarang. Kemarahan karena perpisahan kedua orang tuanya, perasaan kesepian karena kehilangan seorang Papa, dan entah berapa banyak ekpektasi yang sudah dijatuhkan oleh orang-orang terdekatnya. Masalah-masalah itu sudah masa lalu, namun belum terselesaikan. Akhirnya tanpa Rain sadari, perlahan-lahan membuatnya terkikis.
"Aidan lama banget sih," gerutu Sandra. Masalahnya sudah tidak terhitung banyaknya pria-pria brengsek yang Sandra halau untuk melindungi dirinya dan Rain.
***
Aidan melajukan mobilnya dengan gila-gilaan dijalanan yang masih padat kendaraan lain—meningat malam belum terlalu larut. Aidan tahu apa yang Rain sekarang rasakan. Tentu tidak mudah berada dalam situasi saat semua masalah yang semulanya redam, berbalik seperti air bah yang datang tak terduga.
Tapi kenapa harus menyakiti diri sendiri?
Padahal Aidan akan selalu menyediakan bahu untuk tempat bersandar gadis itu. Sungguh, sejak Aidan memutuskan untuk berteman dengan gadis itu, ia berjanji akan selalu ada untuknya.
Setelah memarkirkan mobilnya, Aidan segera masuk kedalam club malam tersebut. Begitu masuk kedalam, Aidan merasakan kepalanya sedikit pusing karena menghirup asap rokok yang berbaur dengan bau khas alkohol. Laki-laki itu memang belum begitu sehat setelah jatuh sakit selama dua hari, namun Aidan juga tidak mungkin membiarkan Rain begitu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Novela JuvenilSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
