BAB 9 // Sisi Tersembunyi

537 69 20
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu :)
ya kali baca doang 😭😭

Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_______

Perpustakaan Sma Scienze sudah sepi dari pengunjung, bahkan staf penjaga juga tidak terlihat di meja yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk. Tapi nyatanya Rain malah tertidur pada salah satu meja baca yang ada disana. Padahal jam sekolah sudah berakhir satu jam yang lalu.

Rain yang merasakan pegal karena posisi tidurnya perlahan menunjukkan pergerakan, tidak lama mata yang tadinya terpejam itu terbuka dan berkedip pelan untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina, lalu disusul tubuhnya ditegakkan perlahan dengan ringisan kecil karena badannya yang terasa kaku.

"Sial, ketiduran gue. Mana udah sepi banget lagi." Rain mengomel pelan dengan tangan sibuk menali sepatunya, sebelum beranjak untuk mengambil tasnya yang pasti masih tertinggal di kelas.

Tapi saat netranya menemukan tas berwarna abu-abu di meja tempat penjaga, dirinya mengurungkan niat dan memilih bergegas menuju parkiran untuk pulang. Karena saat melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul empat sore.

Untung saja saat dirinya tahu akan pulang terlambat Rain sempat menyuruh supir untuk menjemput Ara di sekolahnya, jadi ia tidak begitu khawatir.

Tepat saat Rain keluar dari area lorong kelas dan memasuki area parkir, sialnya hujan turun menyirami kota lumayan deras, lantas dengan cepat Rain berlari menuju mobilnya agar seragamnya tidak terlalu basah. Dengan cepat Rain membuka pintu mobilnya hendak berteduh di dalam dengan rambut yang agak basah.

Tapi sepertinya kesialan Rain dihari itu tidak hanya pulang terlambat dan baju yang setengah basah, karena ternyata ban mobil depannya kempes- lebih tepatnya dikempiskan oleh seseorang.

"Sialan siapa yang berani giniin gue." Rain mengumpat saat netranya menemukan secarik kertas dengan tinta luntur yang bertuliskan ancaman untuk tidak mengganggu Sania. Terlanjur basah dan kesal, akhirnya Rain melemparkan tasnya kedalam mobil dan hanya membawa ponselnya untuk berteduh sambil memesan ojek.

Sania dan tingkah liciknya. Rain sangat yakin bahwa yang melakukan sesuatu pada ban mobilnya adalah dua cecunguk teman Sania. Karena Rain paham betul Sania tidak akan pernah mengotori tangannya untuk melakukan hal jahat, Sania akan selalu mempertahankan peran Protagonis melekat pada dirinya.

Sepuluh menit Rain mengotak-atik ponselnya, tapi tidak ada ojek atau taxi online yang mau menjemputnya. Mendengus sebal akhirnya Rain memutuskan untuk meminta jemput supir di rumahnya.

"Nih orang rumah pada ngapain sih, sampai nggak ada yang angkat telpon gue." Rain sekarang menyesal dirinya tidak pernah meminta nomor pegawai lain di rumahnya, selain supir dan Bi Tuti. Dirinya terlalu cuek untuk sekedar meminta nomor telepon jikalau kondisi sekarang terjadi.

Perlahan air hujan turun semakin deras dengan kilatan petir dan gemuruh dari langit, terlihat sangat menyeramkan ditambah awan hitam memenuhi langit. Rain merapatkan almamater yang basah dan bersedekap dada menyender pada tembok karena takut terkena percikan air yang jatuh dari atap.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang