Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu, ya kali baca doang 😭😭
Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya
Heppy Reading....
Vote, komen & share
_____
Axel dengan muka datar dan rahang mengeras menarik pergelangan gadis yang sedang memberontak dengan erat—tidak menghiraukan bahwa mungkin apa yang ia lakukan bisa saja menyakiti gadis tersebut.
"Lepasin kak!" seru Sania untuk kelima kalinya, minta dilepaskan dari cekalan tangan yang menarik dirinya paksa.
Sania benci menjadi pusat perhatian para siswa yang akan menjadikan dirinya sebagai topik hangat untuk bergosip, apalagi gosip tersebut hanya karena seorang Axel—si ice boy yang tiba-tiba peduli terhadapnya. Sangat tidak menguntungkan nama baiknya.
Axel membawa Sania ke dalam ruangan UKS sekolah, membuat siswi yang berjaga segera bangkit untuk membantu mengobati luka Sania yang masih mengeluarkan darah.
"Tolong beliin rok di koperasi, biar gue aja yang obati dia," ujar Axel datar namun dengan nada tak terbantahkan. Membuat salah satu siswi yang awalnya mulai membuka kotak kesehatan bermaksud akan mengobati luka Sania mengurungkan niatnya.
Siswi tadi segera mengangguk saat Axel memberikannya uang tiga ratus ribu dan dengan cepat menarik keluar temannya yang sedari tadi hanya melihat dari meja jaga. Tidak berani berurusan dengan cowok paling irit bicara yang dimiliki Sma Scienze.
Setelahnya didalam ruangan itu hanya tersisa mereka berdua—dengan pintu yang tetap terbuka. Axel segera mengambil alih tugas penjaga ruang kesehatan tadi dan berdiri di samping bangkar tempat Sania duduk, ia meraih telapak tangan gadis tersebut yang terluka dan membersihkan darahnya perlahan.
"Lo tadi sengaja nabrak Nesha?" Axel bersuara dengan suara tajam dan beratnya membuat atmosfer di ruangan sepi itu menjadi lebih mencekam.
"Bukan urusan kakak," jawab Sania sinis. Axel memang satu angkatan dengannya, namun laki-laki itu lebih tua satu tahun darinya.
"Harusnya lo tadi tinggal minta maaf. Jadi gak akan perlu berdarah-darah gini!" ujar Axel penuh penekanan.
"Mereka jahat, ngapain aku harus minta maaf, memang perlu?" Sania berujar dengan muka polosnya.
Axel mulai meneteskan obat merah saat darah di tangan gadis itu sudah bersih dan sebelumnya lukanya sudah ia bersihkan dengan alkohol. Namun, bukannya mendesis nyeri, gadis di hadapannya ini sedari tadi tidak bereaksi apapun. Seakan sudah terbiasa dengan rasa sakit.
"Kalau lo mau balas mereka, cara lo tadi kayak pengecut tau gak? Yang pertama harus lo lakuin adalah lo harus jadi lebih kuat, atau sampai kapan pun lo bakal terus terluka."
"Tapi aku emang nggak sekuat mereka kak, dan tujuan aku memang agar semua orang menganggap mereka jahat," lirih Sania dengan tatapan lurus ke depan dan muka yang amat datar. Raut muka yang sangat jarang orang ketahui nampak pada gadis yang terkesan polos dan naif tersebut—terasa asing.
"Kalau mereka dianggap jahat, selayaknya, yang tahu kalau aku jahat dan egois cuma beberapa orang," lanjutnya tanpa beban.
Axel tidak bereaksi apapun, dirinya fokus menatap pada kegiatan membalut luka di tangan gadis tersebut. Setelah luka tersebut terbalut rapi dengan perban, ia kemudian membereskan semua sampah dan tidak lupa menaruh kotak kesehatan tadi di atas nakas. Namun, tanpa Sania tahu bahwa pemuda itu membuang nafas berat akan posisi dirinya yang sialnya tahu banyak tentang gadis tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Teen FictionSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
