Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu:)
ya kali baca doang 😭😭
Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya
Heppy Reading....
Vote, komen & share
_____
Senja adalah sebuah pembatas antara siang dan malam. Senja adalah pemisah, agar keduanya tidak berjumpa—senja, sebuah penanda berakhirnya cerita. Hadirnya seperti sebuah kata pinta agar sang mentari segera menenggelamkan dirinya. Membuat cahaya mentari itu meredup dan membiarkan awan hitam berganti menjadi penguasa sang langit.
Hening, tanpa suara, dan sinar hangat hanya bisa menyorot lembut dari kaca bening lantai tujuh gedung tersebut. Dimana dengan angkuh seorang gadis berdiri bersedekap dada menyaksikan dimana langit yang tenang temaram diterangi semburat warna api matahari yang enggan terbenam.
Sejujurnya Rain pernah membenci senja, karena ia pikir setelahnya hanya akan ada kegelapan dimana-mana, namun senja juga yang mengajarkan Rain sebuah arti rela. Bahwa tidak selamanya keindahan yang di damba itu abadi, seperti senja yang mengundang banyak mata untuk melihatnya namun akan hilang dengan cepat, membuat kita bergegas menyalakan lampu rumah berharap tidak tersesat.
Setelah semuanya usai Rain menghela nafas lemah, dirinya dengan balutan baju santai segera membalikkan badan bersamaan dengan matahari yang sempurna tenggelam. Menapaki lorong yang lumayan sepi membuat gema alas kaki yang dikenakan berbunyi nyaring.
Setelah memilih tombol lantai dasar pada lift, tidak lama suara denting menggema bersama dengan pintu yang terbuka, membuat Rain segera bergegas masuk.
Di jalanan kota yang ramai mobil merah yang dinaiki Rain berjalan lambat, bersamaan dengan nyalanya penerangan di setiap sisi jalan. Rain tidak bisa langsung pulang dan meredakan lelahnya dengan berendam, karena ia harus menjemput adiknya yang sekarang berada dirumah pemuda yang akhir-akhir ini cukup mengusiknya.
Seharusnya memang tidak selarut ini, membiarkan adiknya berada di kediaman laki-laki yang biasanya menghukum dirinya di sekolah. Tapi karena ada hal yang harus diselesaikannya membuat Rain terlambat.
Setelah kurang lebih dua puluh menit berkendara, mobil merah milik Rain sudah terparkir di depan gerbang tinggi dengan teknologi canggih. Tapi hal tersebut tidak membuatnya heran karena ia tahu seberapa sukses bisnis yang bergerak pada bidang pariwisata milik orang tua seorang Aidan.
"Mau cari siapa mbak?" tanya satpam dengan baju dinas dan nada ramah melalui interkom.
"Saya mau jemput adik saya Pak, boleh saya masuk? Atau bisa tolong bawa adik saya keluar saja?" ujar Rain memberikan pengertian sebagaimana tujuannya kemari.
"Mbak bisa masuk saja ke dalam, saya akan buka pintu gerbangnya." Satpam tersebut mengakhiri percakapan pada interkom dengan terbukanya pintu tinggi di hadapan Rain.
Rain segera membawa mobilnya masuk ke halaman luas rumah tersebut. Halaman yang terlihat asri dan indah dengan banyak tanaman hias berwarna hijau dan kolam ikan yang menambah nilai estetika walaupun hanya terlihat temaram—karena hanya diterangi beberapa lampu taman dan cahaya bulan.
Setelah memastikan mobilnya berada di tempat yang seharusnya, Rain bergegas keluar dan menghadap pintu kayu tinggi dengan ukiran indah milik rumah tersebut. Rain memencet bel yang ada pada sisi kanan kusen, kemudian tidak lama terbuka lebar pintu tersebut dengan sosok wanita yang ia yakini adalah pekerja di rumah itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Teen FictionSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
