BAB 48 // First time

388 11 0
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya.

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Akhirnya, setelah perjalanan kurang lebih empat jam mereka sampai di rumah milik keluarga Aidan. Rain segera turun dari atas boncengan, lalu merenggangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama duduk diatas motor. Rain memindai bangunan didepannya dengan rasa takjub. Pasti rumah ini sangat nyaman, pikirnya.

"Hey, you okay?" tanya Aidan. Bukan tanpa alasan Aidan menanyakan kondisi gadis itu, karena setelah makan siang tadi, Rain terasa berbeda menurutnya. Rain lebih pendiam, dan sepanjang jalan hanya melamun.

Rain menatap Aidan, kemudian menjawab."I'm okey." Setelah itu, Rain meninggalkan cowok itu untuk menghampiri si kembar.

Apakah semua yang Aidan lakukan adalah wajar? Sebagai teman. Memperhatikan, membantu, dan selalu memastikan semuanya aman. Semua itu nyatanya membuat Rain bingung untuk membedakan bentuk-bentuk interaksi antara mereka, karena Aidan adalah yang pertama baginya.

Cuma reaksi karena simpati?

Atau

Setulus hati karena adanya sesuatu yang lebih dalam—seperti sebuah rasa sayang.

Rain menggelengkan kepalanya—tidak tahu. Sepertinya ia terlalu bodoh untuk memahami situasi ini.

"Kenapa lo?"

"Gak apa-apa, cuma capek aja," jawab Rain singkat.

Nesha menganggukkan kepalanya. "Asal intovert-nya jangan kumat disini aja."

Rain terdiam sambil terus mencari-cari tasnya didalam bagasi mobil si kembar. Udara ditempat ini memang sangat dingin, Tapi entah bagaimana si kembar bisa membawa selimut yang tebal.

Sementara disisi lain, ada sesosok cowok yang sibuk membantu temannya menurunkan barang-barang dari dalam mobil, dengan sesekali membenarkan posisi tasnya dipunggung. Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Aidan masuk kedalam rumah dan dengan otomatis matanya langsung menjelajahi ruangan didalam rumah yang sangat jarang ia kunjungi. Rumah ini dulunya milik neneknya yang sudah tiada, dan sekarang sudah menjadi hak bundanya.

"Cowok semuanya tidur di ruang keluarga, udah disiapin karpet disana. Kalau ceweknya ada dua kamar, tinggal bagi sendiri aja."

Setelah mendengar penjelasan Aidan tentang tempat tidur, Rain berunding sebentar dengan beberapa gadis lainnya. Dan diputuskan kalau ia harus berbagi kamar dengan si kembar dan Sandra. Setelahnya mereka berempat segera masuk kedalam salah satu kamar di rumah itu.

Kamar yang mereka tempati memiliki satu kasur dan disediakan juga kasur lantai, karena memang ukuran kamar itu tidak terlalu besar. Setelah menaruh tasnya di atas meja, Rain berjalan ke arah jendela untuk membuka gorden yang menutupinya. Jauh dari jangkauannya, terlihat tebing tinggi dihiasi pepohonan rindang hijau sejauh mata memandang.

"Dor! Hayo... lamunin apa?"

Rain terkejut, namun tidak sampai menampilkan reaksi keterkejutannya. Memejamkan mata sebentar, Rain kemudian berbalik badan. "Kebiasaan," gerutu Rain atas sikap Mesha.

"Kita disuruh rapihin bahan makanan yang tadi dibawa ke dapur," ujar Sandra sambil memperlihatkan isi pesan di grup.

"Ya udah ayo," ucap Rain kemudian. Daripada nggak ngapa-ngapain dan malah mikir kemana-mana.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang