BAB 42 // Close Eyes

334 19 15
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt

komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya.

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Melihat sosok Axel yang hilang di balik pintu, Sania mulai terisak pilu. Bagaimana mungkin Sania memberikan Axel harapan, jika dirinya saja hanya berharap satu hal setiap harinya. Sania hanya ingin hidup lebih lama di dunia ini. Sania tidak mau melukai Axel lebih dalam lagi jika dia ditakdirkan Tuhan harus pergi lebih cepat.

Dari kemarin, Sania telah merasakan tubuhnya aneh. Rasa sakit di dadanya seperti tidak pernah hilang dan mereda, bahkan setiap jamnya bertambah nyeri, ditambah perutnya yang mual jika dimasukkan makanan. Tentu hal itu membuat hati Sania dipenuhi ketakutan yang luar biasa.

Sania tidak memberi tahu orang tuanya tentang keluhan yang ia alami, gadis itu memilih diam, karena tidak mau orang tuanya semakin khawatir. Sania dapat melihat binar harapan dimata ayahnya saat dirinya tidak mimisan atau muntah darah sejak kemarin.

"Putri Ayah kenapa nangis?" tanya Irfan begitu memasuki ruangan Sania.

Sania tersenyum tipis. Gadis itu segera mengambil tangan sang ayah untuk di genggam erat dengan tenaga lemah. "Ayah, aku kangen dipeluk ayah," ujar Sania membuat Irfan tanpa lama segera mendekap tubuh ringkih putrinya.

Di pelukan sang putri, Irfan merasa rasa lelahnya selama ini menguap begitu saja. Irfan sangat rindu sosok Sania yang ceria dan cerewet saat bersamanya. Irfan selalu berdoa agar Tuhan berbaik hati memberikan putrinya kesempatan untuk bahagia. Sania sedari kecil sudah cukup menderita akan perlakuan buruk yang berasal dari mantan istrinya yang tak lain adalah ibu kandung Sania sendiri.

Wanita itu selalu menuntut Sania agar menjadi anak yang sempurna, alih-alih mengajarkan Sania menjadi anak yang baik. Tekanan dan tuntutan selalu sania dapatkan dari ibu kandungnya. Bahkan, tak sekali dua kali, Sania merasakan tangan ibu kandungnya sendiri melayang di tubuhnya karena wanita itu merasa kecewa akan kemampuannya.

Seperti belum cukup dengan ujian takdir itu, Sania kembali dituntut tidak menyerah oleh Tuhan saat dirinya dinyatakan mengidap kanker paru-paru. Dan sampai detik ini, sekalipun Irfan tidak pernah melihat putrinya itu menyerah akan kondisinya. Sania adalah sosok yang kuat, dan pantang menyerah. Gadis itu tidak benar-benar mengalah dengan keadaan, walaupun sering mengeluh capek.

"Aku kangen Mama," ujar Sania lirih di sela-sela pelukannya bersama Irfan.

"Kalau misalnya Sania belum sempat ketemu Mama, tolong Ayah bilangin Mama ya, kalau Sania selalu sayang sama Mama. Walaupun Mama sering bikin hati Sania sakit." Saat ini, Sania benar-benar sangat merindukan Clarisa.

Bagaimanapun sikap mamanya dulu, Sania tau maksud mamanya hanya ingin dirinya kelak menjadi orang yang sukses. Tidak seperti wanita itu yang berakhir menjadi wanita bayaran untuk teman berkencan.

"Kenapa tiba-tiba Sania rindu Mama?" Irfan mengernyit heran, karena semenjak ada sosok Lisa di kehidupannya, Sania hampir tidak pernah membahas kembali sosok mantan istrinya tersebut.

"Emang salah kalau aku rindu sama Mama kandungku?" Sania terkekeh pelan dan ternyata tanpa sengaja menambah rasa sakit di dadanya.

Sania menghela nafas panjang, lalu menghembusnya perlahan—hanya untuk menenangkan diri. Walaupun hidungnya terdapat alat bantu pernafasan, nyatanya Sania masih kesulitan bernafas.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang