BAB 43 // Rest in Peace

377 19 2
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt

komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya.

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Rain akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah Axel. Tidak sendirian—Rain juga ditemani si kembar. Bagaimanapun Rain tidak berani bermalam sendirian di rumah yang ia tahu hanya berisi laki-laki.

Mereka bertiga tidur di ruang tengah rumah Axel dengan beralaskan karpet tebal yang cukup nyaman. Tiba-tiba ditengah tidurnya, Nesha harus terbangun karena rasa ingin buang air kecil yang mendesak. Nesha biasanya selalu buang air kecil sebelum tidur, tapi karena saat ini gadis itu tidak tidur di rumahnya, membuat Nesha lupa akan kebiasaannya.

Nesha berjalan sesuai dengan instingnya, langkahnya ternyata membawanya menuju area belakang rumah. Tidak mengecewakan, karena akhirnya Nesha berhasil menemukan bilik kamar mandi yang berada tidak jauh dari kawasan dapur rumah tersebut. Setelah menuntaskan urusannya tersebut, Nesha hendak kembali ke ruangan semula untuk melanjutkan tidurnya, namun sesuatu membuatnya ragu.

"Kok lampunya nyala?" monolog Nesha dengan suara lirih.

Berbeda dengan ruangan lain yang hanya disinari lampu redup bertegangan rendah, dapur terlihat terang benderang. Tentunya hal janggal tersebut berhasil membuat Nesha penasaran dan ingin memastikan lebih dekat. Nesha menggigit kuku panjangnya, gadis itu dilema. Di satu sisi Nesha agu karena ini bukan wilayahnya.

Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Nesha memutuskan untuk mengambil langkah mendekat. Mungkin ini akan terbilang cukup lancang, namun apa daya, Nesha terlanjur dikuasai rasa penasaran. Saat sudah berhasil untuk melihat isi dapur dari balik tembok, Nesha bernafas lega karena ternyata yang berada disana adalah tuan muda pemilik rumah yang tak lain adalah Axel.

Nesha tidak bisa melihat jelas apa yang sebenarnya cowok itu lakukan karena posisi Axel yang duduk di mini bar dengan posisi memunggunginya. Tidak ingin mencari masalah, Nesha memutuskan untuk berbalik arah hendak meninggalkan ruangan tersebut.

"Ngapain lo keluyuran malam-malam?" Namun sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada Nesha. Sebuah husky voice membuat tubuh Nesha mematung ditempatnya berdiri.

Nesha tidak perlu berbalik badan untuk tahu siapa pemilik suara tersebut. Sangat jelas itu milik orang yang barusan ia intip. Oh shit, bahkan sebuah suara berhasil membuat tubuhnya merinding. Akhirnya mau tidak mau Nesha berjalan mendekati posisi Axel. Nesha harus berusaha keras untuk tidak membuat Axel curiga dengan keberadaannya.

"Gue habis pipis tadi, dan kebetulan juga haus," ujar Nesha dengan suara yang ia buat setenang mungkin.

"Oh ya? Bukan buat ngintip gue?" Axel menaikkan alisnya curiga, sontak Nesha mengerjap dengan tangan meremas jari-jarinya.

"Ngapain gue intip lo? Nggak penting banget," sanggah Nesha dengan sedikit rasa gugup dan takut ketahuan. Sial, sejak kapan Nesha menjadi takut kepada cowok sepantarannya.

Nesha membenarkan posisi rambutnya kebelakang telinga, lalu memilih menuangkan air yang berada di meja makan. Nesha menghembuskan nafas lega karena berhasil berjauhan dari sosok Axel yang tanpa sadar membuatnya merasakan hal berbeda saat mereka berhadapan. Setelah air mengalir di tenggorokannya, Nesha merasa sedikit tenang, padahal tadi tidak sedikitpun ia merasakan haus.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang