Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya.
Heppy Reading....
Vote, komen & share
_____
Disinilah Rain dan Aidan sekarang, dua remaja berbeda gender tersebut duduk didepan ruang praktek psikolog. Aidan sengaja membawa Rain ke tempat praktek, bukan ke rumah sakit untuk meminimalisir ada orang yang mengenal mereka. Jika memang benar, Rain hanya butuh dukungan dari ahli untuk bisa mengendalikan emosinya, jadilah untuk memastikan Aidan hanya membawanya ke dokter spesialis kejiwaan atau psikiater.
"Gue takut ada yang ngenalin gue disini," bisik Rain disamping Aidan.
"It's okay, calm down."Aidan mengambil salah satu tangan Rain untuk digenggam."Ketakutan lo nggak akan terjadi, trust me."
Rain hanya menanggapi perkataan Aidan dengan menampilkan segaris senyum yang dipaksakan. Rain berharap psikolog yang akan menanganinya sesuai dengan harapannya agar besok ia bisa membawa Ara juga untuk berkonsultasi.
"Mbak Raina Zanaya," panggil petugas di meja pendaftaran yang bertugas memanggil pasien sesuai nomor antrian.
Rain merasakan rasa gugup dan cemas yang luar biasa saat namanya dipanggil. Simulasi buruk dan ketakutan terus menari-nari dipikirannya. Rasanya Rain ingin pulang lagi, tapi genggaman tangan Aidan semakin terasa kuat ditangannya.
"Ayo kita masuk Rain," ajak Aidan dengan menarik tangan Rain lebih kuat.
"Aidan?"
Terlihat jelas psikolog yang duduk itu terkejut mendapati kehadiran mereka. Rain mengerutkan keningnya bingung, kemudian membawa pandangannya melirik Aidan dan psikolog itu bergantian. Apakah mereka saling kenal?
"Selamat sore Tante Sarah. Aku kesini tidak untuk diriku, tapi temanku yang membuat janji dengan Tente." Aidan kemudian mempersilahkan Rain duduk dan disusul dirinya disampingnya.
Psikolog itu tersenyum kepada Rain, sementara Rain menatap wanita didepannya dengan cemas.
"Selamat sore. Perkenalkan, nama saya Sarah Aruna. Saya psikolog yang akan bertanggung jawab disini. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Wanita itu dengan ramah. Rain menghembuskan nafas lega, suara wanita didepannya cukup menenangkan kekhawatirannya.
"Tapi sebelum memulai sesi yang lebih intens, boleh saya tahu nama kamu?" tanya psikolog itu lagi.
"Nama saya Raina Zanaya, panggil Rain saja."
Psikolog itu tersenyum mendengar suara Rain yang terdengar tegang. "Aidan, boleh saya minta kamu untuk duduk lebih jauh ke belakang? Maaf sekali, tapi saya butuh ruang dengan Rain."
Aidan menganggukkan kepala, kemudian membawa kursinya menjauh. Aidan tahu, bahwa Tante Sarah berusaha untuk menjaga privasi pasiennya mengingat tidak ada hubungan keluarga antara dirinya dan Rain.
Setelah berkenalan dengan Rain dan sedikit mengobrol agar suasana hati Rain bisa sedikit santai, psikolog itu mulai sesi tanya jawab.
"Baik. Bisa kamu ceritakan dengan detail?" tanya wanita itu sambil membuka buku jurnal pasiennya. Psikolog itu mendengarkan setiap cerita Rain dengan seksama, berusaha untuk memahami keluhan dan masalah yang dialami Rain.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Подростковая литератураSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
