BAB 25 // ILL Will

370 52 8
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu, ya kali baca doang 😭😭

Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Sania memasuki rumahnya yang nampak sepi di siang hari. Kedua orang tuanya masih sibuk bekerja mengurus restoran keluarganya. Namun yang tidak gadis itu sadari adalah adanya tamu wanita yang duduk di kursi ruang tamunya sudah menanti dirinya sejak lima belas menit yang lalu. 

"Hai anak Mama! Baru pulang sekolah?" 

Sania sangat mengenal suara itu. Otomatis Sania berhenti melangkah dan mematung ditempat. Wanita dengan rambut panjang bergelombang itu perlahan mendekatinya, membuat Sania perlahan membalikkan badannya. 

"Gimana sekolah kamu hari ini?" tanya Clarisa—ibu kandung Sania. 

"Baik Mah," jawab Sania dengan suara lirih. 

Seharusnya seorang anak akan menceritakan kepada Mamanya kegiatan sehari-hari yang dilalui dengan semangat, namun Sania malah merasakan takut. Sania merasa berhadapan dengan Mamanya sama saja seperti tenggelam di lautan. Terasa menyesakkan dan mencekik dirinya. Bedanya Sania tidak bisa bernafas karena ditenggelamkan oleh memori buruk masa lalu. 

"Itu pipi kamu kenapa?" tanya Clarisa dengan memegang dagu Sania dan menatapnya mata putrinya lekat. 

"Bukan apa-apa." Sania menggelengkan kepala kuat. 

"Jangan jadi anak yang suka bohong kamu. Jawab pertanyaan saya!" Clarisa menatap tajam Sania—menuntut jawaban jujur. 

"Teman aku yang lakuin," jawab Sania dengan mata menggulir ke arah lain, gelisah. 

"Ternyata kamu masih sama aja. Lemah dan bodoh. Sampai kapan kamu mau di bully terus?" Clarisa menggeram dengan mata menyorot lebih tajam.

"Mama lebih baik pulang. Aku mau istirahat." Sania memalingkan wajahnya ke sembarang arah. 

Sania bukannya tidak sopan atau tidak rindu kepada Mamanya. Hanya saja Sania tahu jika pertemuan dirinya dengan sang Mama hanya akan menyakitinya dan untuk saat ini dirinya tidak siap karena kondisinya sedang tidak baik. 

"Kamu berani ngusir saya?" Clarisa menggelengkan kepala melihat putrinya yang memalingkan wajahnya. 

"Aku capek banget Mah," ujar Sania lirih. 

"Kamu cuma sekolah bilang capek, mau jadi apa kamu besok?"

"Aku nggak tau dan nggak pernah bermimpi untuk jadi apapun. Aku cuma pengen hidup tenang sama Mommy Lisa dan Papa." 

Sania menatap wanita di depannya dengan mata memerah, menahan tangisnya. Sania terlalu kalut dengan emosinya sampai meneriaki wanita tersebut—wanita yang melahirkannya. 

"Kalau bukan karena saya, kamu nggak akan ada di dunia Sania Deana!" Satu tamparan keras mendarat di pipi Sania. 

Sania yang merasakan perih di pipinya meneteskan air mata. Ditampar memang sakit, namun itu akan sembuh cepat. Tapi bagaimana dengan hatinya yang sekarang terasa seperti ditikam ribuan pedang? Sania pikir itu tidak akan pernah sembuh. 

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang