BAB 22 // Jenguk Ara

438 56 12
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu, ya kali baca doang 😭😭

Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Aidan memasuki lobi salah satu rumah sakit swasta terbaik di kota Jakarta, ia menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruang rawat orang yang akan di jenguknya. 

Aidan berpikir, ia sebenarnya kurang paham dengan dirinya sendiri.
Sudah tiga hari Aidan selalu memikirkan gadis berambut pendek yang sering ia hukum jika di sekolah karena melakukan kesalahan. 

Bahkan hanya karena ingin tahu tentang gadis tersebut yang tadi tidak masuk sekolah, Aidan harus membantu si kembar dalam menjalani hukuman membolos mereka. Benar-benar tidak terduga. 

Setelah mengantongi informasi di mana kamar rawat orang yang akan ia jenguk, Aidan segera menuju lift dan menekan angka lima. Tiba di salah satu pintu, Aidan memperhatikan terlebih dahulu bahwa benar kamar di depannya sesuai dengan apa yang disampaikan suster di meja resepsionis tadi. Setelah yakin barulah Aidan segera menggeser pintu ke arah kiri untuk membukanya. 

Terlihat seorang gadis kecil yang sedang duduk bersila di ranjang perawatan dengan mainan di tangannya. Ara yang melihat kehadiran sosok Aidan membulatkan mulut dan matanya, namun tidak lama Ara menempelkan satu jari telunjuk miliknya di bibir. Menyuruh Aidan agar tidak berisik. 

Aidan yang mengerti maksud Ara mengangguk kecil dan menutup kembali pintu kamar rawat Ara. Terlihat seorang gadis tertidur di sofa dengan dengan nyenyak saat dirinya mengedarkan pandangannya. 

Rain terlihat meringkuk di sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang Ara. Aidan dengan hati-hati mendekat untuk meletakkan salah satu paper bag yang ia bawa di atas nakas dan satu lagi di serahkan kepada Ara. 

"Buat Ara dari Abang Aidan sama Izza ya," ujar Aidan lirih sambil mengusap puncak kepala Ara yang masih terasa hangat di telapak tangannya. 

"Makasih Abang Aidan dan jangan lupa bilangin Izza juga ya!" Ara berujar lirih namun bersemangat. 

Dari arah pintu kamar mandi datang Bi Tuti keluar dengan raut muka terkejut mendapati Aidan di ruang rawat milik nonanya. Aidan hanya tersenyum tipis—menyapa  wanita itu.

"Saya mau jenguk Ara sebentar," ujar Aidan meminta izin dan dibalas senyum dari wanita paruh baya tersebut. 

"Kebetulan ada Mas Aidan disini, saya mau izin ke kantin sebentar. Mau beli makan siang buat Mbak Rain."

"Iya silahkan Bi. Biar saya yang jagain mereka sebentar."

"Makasih banyak Mas," kata Bi Tuti sebelum berlalu keluar dari ruang rawat Ara. 

Aidan menengok ke arah sofa yang terdapat Rain yang sedang tertidur, memastikan gadis tersebut tidak terganggu dengan obrolannya dengan Bi Tuti tadi. Entah sihir apa yang menguasai dirinya, Aidan kemudian dengan otomatis merendahkan badannya. 

Aidan meneliti wajah Rain yang setengahnya tertutup oleh rambut sebahu miliknya. Dengan hati-hati Aidan menyingkirkan helaian rambut tersebut agar tidak menutupi wajah gadis tersebut. Bisa Aidan rasakan rambut milik gadis tersebut terasa sangat halus di tangannya. 

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang