Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu. Zee_agt
Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya
Heppy Reading....
Vote, komen & share
_____
Axel dengan nafas memburu dan tangan yang terkepal disisi tubuhnya melangkah memasuki gerbang rumah Rain yang saat ini sedang tidak ada penjaga yang menjaga seperti biasanya.
Laki-laki itu mengetuk pintu rumah Rain dengan tidak sabaran.
Tidak begitu lama, seorang wanita membukakan pintu. Axel yang saat ini sedang diselimuti emosi segera menyuruh wanita itu untuk memanggil sang pemilik rumah.
"Tolong suruh cewek yang punya rumah untuk keluar," ujar Axel tanpa basa-basi.
"Maaf Mas, tapi Mbak Rain lagi kurang sehat dan sekarang sedang istirahat. Mas bisa datang lain waktu," ucap Mbak Ana dengan sopan.
Brakk!
Axel menggebrak pintu rumah Rain membuat wanita di depannya terkesiap karena kaget. Mbak Ana spontan berniat menutup pintu, namun usahanya digagalkan Axel yang lebih dulu menahan pintu agar tidak tertutup.
"Lo panggil Rain sekarang, atau gue akan masuk kedalam dan nemuin dia dengan cara gue?" Axel mengangkat sudut bibirnya membuat Mbak Ana terpaksa mengangguk dan segera berlari masuk.
"Ngapain lo marah-marah di rumah orang?"
Bukan suara Rain yang terdengar menyapa.
Axel membalikkan badannya dan langsung dihadapkan sosok cowok yang sudah lama menjabat sebagai sahabatnya berdiri di depannya. Kebetulan Aidan tadi berpapasan dengan pegawai yang ditemui Axel. Aidan akhirnya menemui Axel dan melarang pegawai tadi menyampaikan kepada Rain yang baru saja selesai diperiksa dokter pribadinya dan beristirahat.
"Gue nggak butuh ketemu lo, yang gue mau adalah ketemu sama cewek lo!" seru Axel sambil berusaha untuk menerobos masuk ke dalam rumah Rain.
"Lo nggak tau apa-apa, biarin mereka urusin masalah keluarga mereka sendiri, lo nggak usah ikut campur!"
Aidan menarik paksa Axel menjauh dari rumah Rain. Takut jika keributan mereka terdengar sampai ke dalam rumah.
"Lo ngapain sih sok belain dia segala? Asal lo tau dia itu penjahat. Nggak pantas untuk lo bela."
Aidan yang ikut terpancing emosi spontan mendekat dan mencengkeram kuat kerah kaos yang Axel kenakan.
"Orang-orang harus tau nih kalau seorang Aidan sekarang jadi bucin tolol," cibir Axel sambil terkekeh. "Lo dikasih apa sama cewek jahat itu sampai lo rela belain dia? Tubuh dia enak, bikin lo puas iya!?" imbuh Axel yang membuat Aidan mengepalkan tangannya.
Bughh, sebuah pukulan Aidan layangkan di pipi kiri Axel-sahabatnya yang selama ini tidak pernah ada pertengkaran. Membuat tubuh Axel lantas terjatuh.
"Apa yang lo omongin dari tadi itu gambaran diri lo sendiri, sadar nggak lo?"
Aidan mengusap wajahnya dengan kasar, kemudian berusaha menetralkan emosinya agar tidak sampai memperumit keadaan.
"Lo dan gue bukan siapa-siapa di keluarga mereka, kita nggak punya hak buat ikut campur urusan mereka, Jadi gue saranin mending kita diam aja. Lo dan gue sama-sama nggak tau tentang perasaan mereka. Biarin mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kasih mereka ruang untuk memahami satu sama lain. Dengan tingkah Lo yang kayak gini, nggak akan menyelesaikan apapun dan malah bikin masalah orang makin rumit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Teen FictionSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
