BAB 27 // Axel dan Sania

432 48 10
                                        

Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu, ya kali baca doang 😭😭

Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆

Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)

Jangan lupa spam 😈😈😈 untuk lanjut bab selanjutnya

Heppy Reading....

Vote, komen & share

_____

Bukan hal baru lagi jika Sania setiap sedang bad mood atau menginginkan sesuatu yang dilarang oleh orang tuanya akan datang kepada Axel. Dengan alasan belajar bersama, Sania malam-malam datang ke rumah Axel yang tepat berada disamping rumahnya.

"Ngapain kesini?" tanya Axel dengan muka tanpa ekspresi.

"Mau numpang makan ramen," ucap Sania dengan suara lirih.

Axel berdecak sebal, namun tetap mengizinkan gadis itu masuk kedalam. Akhirnya Sania diajaknya masuk ke kamar. Tenang aja. Axel tahu batasan.

Sesampainya didalam kamar Axel, Sania berdecak sebal. Sifat anak gadis Sania selalu memuncak kala melihat kamar Axel. Penuh buku yang bertebaran di kasur. Di atas meja belajar pun banyak kertas. Bantal, guling, selimut berantakan.

"Nanti gue bersihkan. Sekarang lo belajar aja, pamit lo sama Tante Lisa belajar bareng kan?"

Sementara Sania sibuk belajar dengan menguasai meja belajar miliknya, Axel memilih bermain di PC games  yang terletak tidak jauh dari meja belajarnya. Axel beberapa kali menatap Sania yang kedapatan sedang berusaha keras memahami materi.

Axel selalu tahu seberapa keras Sania berusaha untuk membuat dirinya lebih baik dari Raina Zanaya Ganendra—si primadona di sekolahnya.

"Menurut Kakak, apa hebatnya Rain sampai dia selalu dipedulikan sama orang-orang?" tanya Sania tiba-tiba.

Axel yang mendapatkan kekalahan di permainan yang ia mainkan mendorong kursinya kebelakang. Kemudian tatapannya langsung bermuara pada punggung ramping Sania.

"Sampai kapan lo akan jadikan dia sebagai standar hidup lo, Sania?"

Axel selalu bertanya-tanya, apakah Sania tidak capek selalu menginginkan hidup seperti orang lain dan meratapi hidupnya sendiri? Sampai kapan pun sulit untuk terpuaskan.

"Aku cuma pengen seperti Rain. Punya sahabat yang baik, keluarga yang sayang sama dia. Bahkan walaupun Mommy Lisa tinggal sama aku, dia terus mikirin Rain. Sementara aku?" Sania tertawa kecil, menertawakan hidupnya yang menurutnya sangat menyedihkan.

Insecurity nggak bisa dipisahkan dari coparison.

"Ya karena selama ini yang lo lihat cuma achievement-nya di publik doang? Lo nggak pernah tau keadaan Rain yang sebenarnya. Gue yakin seratus persen dia juga merindukan sosok ibu kandungnya."

"Tuh kan Kakak juga belain Rain. Semua orang selalu memuja dia." Sania menatap Axel dengan tajam.

Laki-laki itu seharusnya mendukungnya, bukan malah memperburuk suasana hatinya.

"Gue nggak belain dia Sania." Axel menarik kursi Sania dan menempatkannya di depan cermin.

"Gue mau lo sadar, bahwa lo berharga untuk orang yang sayang sama lo. Jadi jangan sakiti diri lo hanya agar orang-orang bisa menerima lo, cukup jadi diri sendiri aja."

Axel menatap mata sendu Sania melalui cermin dihadapannya—mengunci pandangan dengan tatapan serius. Sampai sejauh ini, Sania merasa bahwa Axel selalu menjadi yang ia butuhkan.

Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang