Sebelum baca jangan lupa follow akun wattpad aku dulu:)
ya kali baca doang 😭😭
Vote juga dong, tinggal pencet bintang kan gak susah👆
Selain vote kasih komen juga ya, terserah mau ngetik apa aja. Yang penting masih wajar dan bukan hate speech :-)
Seperti judul bab-nya ini adalah kunci dari cerita ini, jadi kalian harus baca dengan baik.
Heppy Reading....
Vote, komen & share
__________
Saat ini Rain dan Ara sedang dalam perjalanan pulang, hanya hening yang menyelimuti mereka berdua. Rain yang fokus berkendara dan Ara yang sedari tadi melihat keluar jendela mobil yang berembun karena gerimis.
Bahkan sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki gerbang rumah, belum ada yang membuka suara di antara mereka. "Sore Om Reza!" sapa Ara kepada penjaga gerbang.
"Adek bersih-bersih, terus bobo," titah Rain kepada sang adik dan langsung mendapatkan anggukan dari Ara— adiknya memang selalu menurut.
Rain menghela nafas lelah dan langsung menaiki tangga, entahlah hari ini dirinya merasa sangat lelah, mungkin karena mood yang buruk. Tidak langsung membersihkan diri Rain hanya melemparkan asal tas dan almamaternya lalu langsung merebahkan badan di kasurnya. Mungkin dirinya bisa tidur sejenak sampai menjelang maghrib.
Tapi nyatanya sekuat tenaga Rain mencoba tertidur, hasilnya nihil. Dirinya tetap tidak bisa terlelap dengan tenang, membuat ia menghela nafas berat berkali-kali dan menghembuskan. Akhirnya Rain memilih beranjak dari kasur, kemudian berjalan menuju balkon kamarnya dan membuka pintu penghubung balkon yang terbuat dari kaca tersebut.
Rain duduk di ayunan rotan berbentuk setengah bulat yang berada di sana, menikmati gerimis yang terjatuh lebih lebat. Memperhatikan jutaan tetes air jatuh dari langit dan menimpa dedaunan, lalu jatuh ditanah menciptakan percikan yang kecil.
Perlahan hawa dingin memeluk Rain lembut membuat gadis berambut pendek itu menyilangkan tangannya di dada. Rain menyandarkan tubuhnya rileks pada ayunan, entah apa yang membuat orang tuanya menamainya dengan nama Raina yang berarti hujan. Tapi yang pasti, dulu dirinya suka bermain dengan hujan dan tidak pernah merasakan dingin saat bermain dibawahnya, bahkan Rain tidak akan berhenti sebelum teriakan seseorang membuatnya berhenti dan menyudahi berlari di tengah derasnya air yang mengguyur. Lalu malamnya dirinya demam.
Tok! Tok! Tok!
Sampai ketukan pintu membuyarkan lamunan Rain yang tanpa sengaja memutar memori masa kecilnya.
"Masuk aja," ucapnya tanpa beranjak dari duduknya.
Ternyata yang mengetuk pintu adalah sang adik yang sudah berganti dengan baju santainya. "Kakak di mana?" teriak Ara saat baru memasuki kamar Rain dan tidak menemukan sosok kakaknya di kasur.
"Di balkon adek kesini aja!"
Tanpa lama Ara menghampiri keberadaan sang kakak dan berdiri di depan kakaknya. "Kenapa gak bobo?" tanya Rain sambil merapikan rambut Ara ke belakang telinga.
"Ara nggak bisa bobo, jadi Ara kesini aja. Kata mbak-mbak kakak di kamar, jadi Ara samperin deh." Ara berbicara dengan nada paling polos yang pernah didengar Rain, karena Rain selama ini sangat mempercayai adiknya.
Rain mengangguk dan membawa adiknya ke dalam pelukannya. Dirinya terpejam sesaat merasakan wangi bayi yang menenangkan memasuki indra penciumannya.
"Ara mau makan?" tanya Rain saat melepaskan pelukan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Untouchable Rain
Novela JuvenilSEBELUM BACA WAJIB FOLLOW AKUN WP AKU DULU!! kalian dapat hiburan aku juga merasa dihargai dan semangat untuk update. Blurb Raina Zanaya Ganendra, seorang gadis terkenal di SMA Scienze, bukan karena prestasi akademiknya atau keaktifannya di organisa...
