(Sania POV) Letter

318 15 2
                                        

10 Juni 20xx

Aku tidak ingin menulis sesuatu yang terlalu suram. First of all, aku ingin meminta maaf kepada sahabat terbaik yang pernah aku miliki, Sandra. Bermacam-macam hal dan kegiatan sudah banyak kita lakukan bersama, walaupun dalam waktu yang singkat.

Sandra.....
Aku tahu, ini sangat terlambat. Aku terlambat untuk memberikan kebenaran ini, karena aku terlalu takut. Aku merasa bersalah, sangat bersalah. Aku tahu aku sangat jahat untukmu. Tapi bukankah kebenaran harus tetap terbuka?

Sewaktu tahu bahwa aku diserang penyakit mematikan, kepalaku langsung kosong. Aku selalu cemas, lalu menangis setiap saat, bahkan aku kehilangan semangat untuk tetap hidup, jika pada akhirnya aku akan segera mati. Hidupku benar-benar berada dititik terbawah.

Akhir-akhir ini rumah menjadi dingin. Mama Clara dan Ayah selalu bertengkar setiap saat, berbicara tetang berbagai pengobatan untuku dan berdebat keras tentang biayanya. Mereka ingin aku sembuh, tapi Mama Clara mengharapkan bayaran setimpal atas setiap biaya yang ia keluarkan untuk pengobatanku.

"Setelah minum obat, kamu jangan lupa belajar."

"Sania! Obatnya kenapa nggak diminum?!Kamu kira biaya yang saya keluarkan murah untuk menebus semua obat itu?! Kamu mau mati dengan sia-sia?!"

"Mama itu biayain pengobatan kamu supaya kamu bisa hidup lebih lama, jadi jangan kecewakan Mama karena kegagalan-kegagalan yang kamu buat."

Aku selalu bertanya-tanya apakah Mama benar-benar menyayangiku? Tapi jawaban yang kudapat hanya kekecewaan. Aku tahu Mama selalu memperhitungkan segala hal yang ia keluarkan agar saat aku dewasa, Mama memiliki hak untuk meminta balasan. Mama membiarkan aku bertahan hidup, karena aku adalah satu-satunya aset masa depan Mama. Mama sebisa mungkin tidak membiarkan aku gagal.

Tapi tanpa sadar, sebenarnya Mama membuatku hancur.

"Mama, Sania ikut seleksi untuk lomba melukis loh." Sania mengungkapkan dengan wajah berseri-seri, berharap mendapatkan apresiasi yang layak dari wanita itu.

"Bagus. Kamu harus lolos dan ikut lomba." Mama hanya berucap seperti itu.

Akhirnya besoknya, kita ikut seleksi bersama. Kamu melukis dua orang gadis yang sedang bermain di pantai yang dihiasi semburat jingga, cantik sekali. Sementara aku hanya melukis seorang gadis kesepian yang sedang duduk sendirian di ayunan. Aku sangat egois bukan? Aku hanya menggambarkan diriku sendiri.

Benar saja, kamu yang lolos seleksi dan akan mewakili sekolah kita untuk lomba itu. Sandra memang sangat hebat!

"Gimana? Kamu lolos seleksi dan akan mewakili sekolah kan?" tanya Mama waktu itu.

Saat itu aku hanya bisa menundukkan kepala, kemudian menggelengkan kepala kecil. Mama langsung melemparkan gelas berisi jus jeruknya kepadaku dan mengenai kepalaku. Sakit sekali.

"Kamu tuh emang nggak becus jadi anak. Cuma bersaing sama teman sekolah kamu aja nggak bisa, apalagi mau ikut lomba."

Aku tetap diam dengan kepala yang pusing karena terluka oleh gelas lemparan dari mama. Aku sadar, aku memang selalu gagal dan mengecewakan Mama. Tapi kata Papa, aku adalah anak yang sangat pintar dan cantik. Lalu aku harus percaya sama siapa?

Keesokan paginya, Mama menitipkan aku sebuah bekal untuk kamu, mama juga memberikan untukku juga. Walaupun heran, kenapa Mama mendadak baik, di satu sisi aku bahagia karena Mama sebelumnya nggak pernah masak.

Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf.Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf.

Sandra pingsan. Sandra dilarikan ke rumah sakit. Sandra tidak bisa mewakili sekolah untuk lomba melukis. Semua kata-kata itu membuat gelombang yang menyakitkan di kepalaku. Aku merasa ada sesuatu yang salah. Dan ternyata benar, aku yang bersalah.

Aku terpaksa harus menggantikan posisi kamu untuk lomba. Aku tidak mungkin menang, disaat pikiranku terus memikirkan kondisi kamu. Aku takut Sandra, sangat takut. Kamu adalah sahabat satu-satunya yang kumiliki.

Setelah lomba selesai, aku berlari untuk ke rumah sakit. Aku melihat orang tuamu menangis. Aku tidak berani mendekat ke ruanganmu. Aku adalah pengecut. Aku hanya melihat bahwa kamu sedang tertidur setelah diperiksa dokter.

Besoknya aku kembali untuk menjenguk kamu di rumah sakit, karena aku yakin kondisi kamu akan lebih baik. Aku masuk ke ruanganmu.

Tapi, tatapan mata kamu sudah berubah dingin. Kamu membenciku.

"Kalau berambisi ikut lomba, harusnya lo ngomong sama gue. Nggak perlu sampai bikin gue hampir mati."

Bahkan kamu mengganti panggilan aku- kamu menjadi lo-gue.

"Jadi kamu yang bikin anak saya seperti ini?! Dasar pembunuh!" hardik namamu. Setelah mengatakan itu, mama kamu mengusirku dan kamu tetap diam. Ya iyalah, kan kamu udah nggak mau temenan sama aku lagi.

Walaupun saat itu diusir, aku tetap tidak kapok. Setiap pagi, sebelum sekolah aku ke rumah sakit dan berharap kamu mau mendengarkan penjelasan dariku. Tapi ternyata, kamu memilih pergi. Setelah satu minggu hilang kabar, kamu ternyata pindah sekolah dan meninggalkan aku sendirian di sekolah itu. 

Aku marah. Kecewa terhadap Mama. Aku selalu berdebat dengan Mamaku dan aku melupakan kesehatanku. Kondisiku benar-benar tidak sehat.

Hari-hariku terasa sangat berat. Sampai aku jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit hanya untuk mendengar vonis dokter bahwa penyakit kankerku semakin parah. Disaat yang sama, Ayah memberikan surat cerai untuk Mama. Entahlah, aku saat itu juga bingung. Disaat mereka bersama, aku berharap keduanya berpisah. Tapi saat hal itu benar-benar terjadi, ternyata tetap menyakitkan. sangat menyakitkan. Semua orang sangat egois. Satu persatu meninggalkanku sendirian. Bukankah lebih baik aku yang pergi duluan?



Untouchable RainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang