Kereta kuda yang membawa Erwin, Levi, dan Caterine akhirnya memasuki kompleks militer di dalam Tembok Sina. Roda kayu itu berderit pelan di atas batu jalan yang rapi, kontras dengan suasana tegang yang sudah lebih dulu menggantung di udara.
Di belakang mereka, satu kereta lain yang mengangkut Eren berhenti- atau lebih tepatnya, apa yang orang lain kira sebagai Eren.
Satu per satu, mereka turun.
Erwin lebih dulu melangkah, tenang seperti biasa, di susul oleh Caterine lalu levi.
Sebuah suara langsung terdengar menyambut mereka.
"Kalian tak pernah berhenti membuat masalah sejak dulu."
Seorang pria mengenakan mantel polisi militer berjalan mendekat menghampiri mereka.
Erwin menoleh ringan. "Nile. Lama tak bertemu."
Nile Dawk selaku komandan militer berhenti tepat di depan mereka beserta beberapa anak buahnya.
"Ya," balas Caterine singkat, suaranya datar tanpa emosi. "Sulit untuk diubah."
Nile menatapnya sekilas, tapi sebelum percakapan bisa berlanjut-
DUARRR!!
Ledakan mengguncang dari kejauhan diisusul dengan kilatan cahaya yang menembus langit distrik Stohess.
Semua orang membeku sepersekian detik memperhatikan hal tersebut.
Caterine mengangkat pandangan 'Sudah dimulai.'
Erwin tidak menunggu reaksi orang lain.
"Nile," suaranya tegas, memotong kepanikan yang mulai naik. "Sebarkan semua pasukan secepatnya. Anggap ini serangan Titan."
Kalimat itu jatuh seperti batu di tengah air tenang.
Polisi Militer di sekeliling langsung saling pandang, bingung dan tidak percaya.
"Apa kau gila?" bentak Nile. "Ini Tembok Sina! Tidak mungkin ada Titan di sini!"
Namun Erwin tidak bergeming.
Caterine sudah lebih dulu menoleh ke arah sumber kilatan tadi. Matanya menyipit, menghitung jarak, kemungkinan, seolah di kepalanya sudah terbentang seluruh skenario.
"Erwin," sahut Caterine, tanpa menoleh. "Aku akan membantu operasi." Sambungnya melangkah pergi.
Seketika suara klik senjata terdengar serempak.
"Berhenti!" teriak Nile, langsung mengangkat senapannya ke arah Caterine.
Dalam hitungan detik, puluhan laras lain ikut mengarah padanya.
"Kau tak boleh pergi!"
Caterine berhenti. Perlahan menoleh dengan wajahnya tetap datar. "Kau tahu hal seperti ini tidak bisa menghalangiku."
Nile menguatkan genggamannya pada senjata. "Bergerak satu langkah lagi, aku anggap itu perlawanan."
Caterine mendecak pelan. "Kalian buta? Titan muncul di Sina. Kalau kalian ingin melihat warga kalian diinjak sampai mati, silakan terus berdiri di sini."
Udara terasa semakin panas.
Erwin mengangkat tangan sedikit, menengahi. "Cate. Pergilah, aku akan mengurus ini."
Namun Nile langsung memotong.
"Kalian bertiga dalam penahanan Polisi Militer."
Seketika arah senjata beralih. Bukan ke Caterine lagi, namun ke Erwin.
KAMU SEDANG MEMBACA
-SAPPHIRE- (Shingeki No Kyojin X Reader)
Fanfic"We get our hands dirty, so the world stays clean" •◇◇◇• "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi" "Jadi jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kau ambil" •◇◇◇• "Ada apa kalian kemari" "Kau...
