Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

《44》Sole Salvation

1.3K 136 2
                                        

Langit pagi masih diselimuti kabut tipis ketika keluarga kecil itu menaiki menara pengawas di pinggir Liberio.

Dari ketinggian, hamparan kota Marley membentang sejauh mata memandang. Jalan-jalan batu yang rapi, bangunan bata yang menjulang, rel kereta, hingga kapal udara yang perlahan melintas di langit.

Bagi dua anak kecil itu, dunia di luar zona pengasingan terasa begitu luas.

Grisha menggendong Zeke di lengan kirinya sementara tangan kanannya menggenggam tangan kecil Caterine.

"Lihat baik-baik, Zeke... Caterine."

Ia mengangkat dagunya ke arah kota. "Itu Liberio. Tempat kita tinggal."

Tatapan kedua anak itu mengikuti arah jarinya.

"Dibandingkan dunia yang sesungguhnya..." suara Grisha pelan, "...tempat itu hanyalah kandang burung kecil. Kita dilahirkan di dalam sana. Dan menurut mereka, kita akan mati di sana."

Zeke memiringkan kepalanya. "Kalau begitu... kenapa kita tidak keluar saja?"

Grisha tersenyum tipis, senyum yang menyimpan kepahitan. "Karena kita adalah Eldia."

Belum sempat ia menjelaskan lebih jauh, suara seorang lelaki tua terdengar dari balik pintu menara.

"Oh? Jarang sekali ada tamu sepagi ini." Seorang penjaga menara berjalan mendekat sambil membawa ember dan sapu.

"Aku masih harus membersihkan menara. Kalau hanya ingin melihat pemandangan, datang lagi nanti."

Grisha segera membungkuk sopan. "Tidak apa-apa. Kami memang sudah hendak pergi."

Mereka berbalik. Namun langkah si penjaga tiba-tiba berhenti. Matanya terpaku pada ban lengan yang melingkar di lengan Grisha. "Orang Eldia?"

Tatapan ramahnya lenyap seketika. Tanpa berkata apa pun, ia mengangkat ember di tangannya.

Byuur!

Air kotor bercampur debu dan lumpur mengguyur tubuh Grisha.

Zeke memekik kaget. Caterine refleks berdiri di depan adiknya.

"Ayah!"

Grisha hanya memejamkan mata menerima siraman itu.

"Apa yang kau lakukan?!" seru Caterine marah.

"Kami punya izin resmi untuk keluar zona!" kata Grisha menahan putrinya.

Penjaga itu mendengus jijik. "Tugasku membersihkan menara."

Ia menunjuk keluarga Jaeger. "Lalu kalian datang mengotorinya, dasar iblis. Kalian membantai dunia selama ribuan tahu dan sekarang masih berani membawa anak-anak keluar?"

Caterine mengepalkan tangan. "Aku—" Grisha menahan bahunya.

"Cukup." Tatapan mereka bertemu sesaat. Pelan-pelan Caterine menurunkan kepalanya.

Tanpa berkata apa-apa lagi, mereka meninggalkan menara.

Namun hinaan itu tidak berhenti di sana. Begitu memasuki jalan utama Marley, tatapan sinis langsung mengarah kepada mereka.

"Itu orang Liberio."

"Menjijikkan."

"Tetaplah di zona pengasingan!"

"Iblis!"

"Jangan kotori jalan kami!"

Beberapa orang sengaja meludah ke arah mereka, yang lain menyingkir seolah keluarga itu membawa penyakit menular.

Zeke menundukkan kepala. Tangannya menggenggam erat baju Grisha.

"Kenapa mereka membenci kita?"

Grisha menghentikan langkah.

-SAPPHIRE- (Shingeki No Kyojin X Reader)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang