Di luar jendela, langit mulai menggelap. Di markas, derap kaki prajurit yang sibuk mempersiapkan keberangkatan terdengar bersahut-sahutan.
Di dalam ruangan, dua pasang mata saling bertatapan.
Tak ada yang mengalah.
"Erwin."
Suara Caterine memecah keheningan. "Biarkan aku berangkat sekarang." Ia berdiri tegak depan Erwin dengan tatapan tajamnya.
"Tidak" satu kata mutlak keluar dari mulut Erwin.
Caterine menarik panjang napasnya. "Kita akan pergi ke Distrik Ehrmich terlebih dulu, dan itu akan memakan waktu lama saat kita bergerak dalam formasi pasukan,"
"Aku tahu" balas Erwin.
"Kau tahu titan tidak aktif di malam hari. Aku bisa membunuh mereka dengan mudah dan kembali sebelum fajar" lanjutnya.
"Aku tahu kemampuanmu" jawaban itu malah justru membuat Caterine semakin kesal.
"Kalau kau tahu, kenapa masih melarangku?"
"Karena aku bukan hanya mempertimbangkan kemampuanmu." Erwin berdiri berjalan kehadapannya.
"Aku mempertimbangkan kemungkinan yang bahkan tidak bisa kau bunuh dengan pedang."
Ruangan kembali sunyi.
"Kaki kudamu patah, gas odm habis, terutama kau bisa pingsan karena sakit kepalamu" alasan terakhir Erwin ucapkan dengan penekanan. Caterine mendecak sebal mengetahui Erwin tahu kondisinya akhir-akhir ini.
"Tidak ada jaminannya. Itu terlalu berisiko," Erwin tetap tak bergeming. "Aku tahu kau kuat, tetapi aku tidak akan mempertaruhkan nyawamu untuk sesuatu yang tak pasti."
"Aku tidak akan mempertaruhkan prajurit terbaikku hanya karena semua kemungkinan itu bisa terjadi"
Caterine mengepalkan tangannya. "Aku benci firasatku, Erwin…" Suaranya melemah, frustrasi memenuhi raut wajahnya.
Seorang prajurit yang tengah memberi laporan harus menjadi korban untuk menyaksikan perdebatan itu, ia hanya bisa menelan ludah merasakan aura kuat dari keduaanya. 'I-ini menyeramkan… Bagaimana bisa aku menyaksikan dua petinggi ini bertengkar? Aku ingin keluar dari sini…' batinnya, menggeser tubuhnya sedikit agar tak menarik perhatian.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Mike saat ini, dan Nanaba juga ikut bertugas mengawasi kadet 104."
"Aku tidak bisa duduk diam sementara mereka mungkin sedang bertarung." Ia menatap lurus ke arah Erwin.
"Aku tidak mau menyesal karena memilih menunggu."
Tatapan Erwin tak bergeser sedikit pun. "Dan aku tidak mau seluruh pasukan menyesal karena kehilanganmu."
Sunyi.
Keduanya saling menatap.
"Aku tetap akan pergi."
"Tidak."
"Kalau begitu aku pergi sendiri."
"Kalau kau melakukannya..."
Nada suara Erwin tetap stabil.
"aku akan menganggapnya sebagai tindakan melawan perintah komandan."
Kalimat itu membuat udara di ruangan terasa membeku.
Caterine terkekeh pelan. "Jadi sekarang kau mengancamku."
"Aku sedang menghentikanmu" balasnya.
"Caranya buruk"
KAMU SEDANG MEMBACA
-SAPPHIRE- (Shingeki No Kyojin X Reader)
Fanfic"We get our hands dirty, so the world stays clean" •◇◇◇• "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi" "Jadi jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kau ambil" •◇◇◇• "Ada apa kalian kemari" "Kau...
