Di seberang lautan...
Konon terdapat kebebasan.
Begitulah yang dahulu diyakini banyak orang di dalam tembok.
Pertanyaan itu nampaknya tak sepenuhnya benar.
Setelah memakan waktu lama peperangan antara Marley dan untuk merebut benteng Slava akhinya peperangan di menangkan oleh bangsa Marley. Walau kemenangan itu mengorbankan ratusan pihak Eldia yang menjadi prajurit garda terdepan dalam perang tersebut.
Peperangan panjang itu kini berakhir dan para prajurit Eldia kini dipulangkan ke wilayahnya, zona penampungan Liberio.
.
.
.
Rumah Sakit Liberio.
Matahari sore memantulkan cahaya ke daun-daun maple yang mulai menguning.
Di taman kecil belakang rumah sakit, seorang pria berambut cokelat panjang duduk sendirian di sebuah bangku kayu. Perban menutupi mata kanan dan sebagian wajahnya, ia memakai seragam pasien yang membuatnya tampak rapuh.
"Kerja bagus, Falco," ujarnya.
Falco menunduk sejenak sebelum mengangguk. "Itu semua berkat kau, Kruger-san... Tapi jujur saja, aku masih ragu bisa mengalahkan Gabi. Meski begitu, aku akan terus berusaha."
Pria itu tersenyum tipis. Ada sesuatu dalam sorot matanya, sesuatu yang sulit ditebak. "Justru akulah yang harus berterima kasih padamu. Kau telah banyak membantuku... mengirimkan surat-surat itu."
Falco menatap sarung tangan dan bola kasti di pangkuan Kruger. "Apa keluargamu yang mengirim itu?" tanyanya.
Kruger menatap benda itu sekilas sebelum mendengus kecil. "Mereka pikir ini akan membuatku lebih sibuk... agar aku tak perlu tinggal di rumah sakit."
"Aku juga harus terus maju. Setelah festival, aku akan kembali ke kampung halamanku," sambungnya.
Falco tersenyum, kemudian bangkit dari bangku taman. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
Kruger mengangguk pelan, memperhatikan punggung kecil itu yang semakin menjauh. Langkahnya ringan, penuh semangat.
"Luar biasa." Sebuah suara perempuan terdengar dari belakangnya.
"Kau benar-benar memanfaatkan anak sebaik itu."
Kruger menutup matanya sejenak. Tanpa perlu menoleh, ia sudah tahu siapa yang datang.
"Lama tidak bertemu..." Ia menoleh perlahan. "...Nee-san." atau yang bisa kita panggil Eren.
Di bawah rindangnya pohon, seorang perempuan berambut pirang berdiri bersandar pada batang pohon.
Matanya menyapu Eren dari ujung kepala sampai kaki, perban, tongkat, seragam pasien, lalu ia mendecak pelan.
"Perban di mata?"
Eren mengangkat alis "Kenapa?"
"Kau mencuri gayaku?"
Eren tertawa kecil, tawa pertamanya hari itu. "Kurasa cocok."
Keheningan singkat menyelimuti taman.
Daun-daun berguguran perlahan tertiup angin.
Di kejauhan terdengar suara anak-anak yang sedang berlatih menyanyikan lagu untuk festival.
Eren memandang lurus ke depan. "Aku tak tahu bagaimana kau bisa mendapatkan semua informasi itu,"
Caterine mengangkat bahu ringan. "Menyamar, mendekat, membaca situasi... ternyata mereka tidak sepintar yang kuduga."
KAMU SEDANG MEMBACA
-SAPPHIRE- (Shingeki No Kyojin X Reader)
Fanfiction"We get our hands dirty, so the world stays clean" •◇◇◇• "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi" "Jadi jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kau ambil" •◇◇◇• "Ada apa kalian kemari" "Kau...
