"Hah... hah... akh..."
Caterine terbangun dengan napas memburu. Rasa sakit yang tajam langsung menghantam kepalanya, membuat pandangannya berputar sesaat. Seluruh tubuhnya terasa berat, seolah baru saja dihantam batu raksasa.
Sebuah suara panik segera menyambut kesadarannya.
"Caterine-heichou sudah sadar!" seru Connie dengan wajah lega begitu melihatnya bangun.
"Cate-heichou, jangan bangun dulu." Historia segera menahan bahunya dengan hati-hati. "Dokter bilang kau mengalami gegar otak ringan akibat ledakan uap Titan Kolosal. Kalau memaksakan diri, kondisimu bisa memburuk."
Caterine mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengusir pandangan yang masih kabur. "Terima kasih... aku sudah ti—"
Kalimatnya terputus. Matanya langsung bergerak liar, mencari seseorang.
"Hange?!"
Tanpa memedulikan rasa nyeri di kepalanya, ia bangkit setengah duduk.
Tak jauh darinya, Hange masih terbaring tak sadarkan diri. Perban membalut sebagian tubuhnya, sementara bercak darah masih terlihat di balik kain putih itu.
Napas Caterine tercekat. Ia segera merangkak menghampiri Hange, memeriksa denyut nadinya, dan itu stabil.
Barulah ia mengembuskan napas panjang.
"Bagaimana keadaan sekarang?" Suara Caterine kembali terdengar tenang.
Armin menundukkan kepala. "Eren berhasil dibawa kabur." Kalimat itu terdengar begitu berat.
"Eren berhasil dibawa kabur," jawab Armin, raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang mendalam. "Banyak perwira yang terluka parah."
Keheningan sejenak menyelimuti mereka.
Tatapan Caterine perlahan beralih kepada para prajurit muda yang berada di sekelilingnya. Connie, Historia, Armin, Mikasa.
Satu per satu diperhatikannya.
"Bagaimana dengan kalian?"
"Hanya beberapa luka kecil. Selebihnya kami baik-baik saja," jawab Connie, mewakili yang lain.
Caterine menghela napas lega. "Baguslah. Untuk sekarang, istirahatlah sampai bala bantuan tiba."
.
.
Tak lama kemudian, suara derap kaki kuda menggema di atas Tembok Rose.
Beberapa prajurit spontan menoleh.
"Bukankah itu Erwin-danchou?!"
"Polisi Militer juga ikut bersama mereka!"
"Mereka... berkuda di atas tembok?"
Suara-suara heran mulai terdengar di antara para prajurit.
Di barisan paling depan, Erwin Smith memacu kudanya dengan wajah setenang biasanya. Di belakangnya mengikuti pasukan Pengintai dan sejumlah anggota Polisi Militer yang dikirim sebagai bala bantuan.
Begitu menghentikan kudanya, Erwin langsung turun menghampiri Caterine.
Setibanya di hadapannya, Erwin segera bertanya, "Bagaimana situasi sekarang?"
"Eren berhasil diculik oleh Titan Zirah dan Titan Kolosal." Jawabnya "Ledakan uap dari Titan Kolosal juga menyebabkan banyak prajurit terluka."
Tatapan Erwin segera menyapu seluruh area. Jejak kehancuran masih terlihat jelas disekelilingnya.
Mata Erwin meneliti kondisi sekitaran sebelum kembali menatap Caterine. "Apa kau baik-baik saja?"
"Hn... Tapi Hange terluka cuku-"
KAMU SEDANG MEMBACA
-SAPPHIRE- (Shingeki No Kyojin X Reader)
Fanfiction"We get our hands dirty, so the world stays clean" •◇◇◇• "Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi" "Jadi jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kau ambil" •◇◇◇• "Ada apa kalian kemari" "Kau...
