Mona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
Monalysa Admaja melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah rumah sakit swasta yang cukup ternama di kota Jogja setelah menurunkan koper super besar yang ia titipkan di pos satpam karena merasa risih dengan beberapa orang yang menatapnya keheranan, ya karena ini adalah rumah sakit bukan bandara dan Mona mebawa koper super besar seperti akan pergi ke luar negeri.
Lokasi rumah sakit yang Mona datangi cukup strategis karena berada di tengah-tengah kota Jogja yang tampak sangat ramah untuk ditempati.
Meskipun Mona masih saja merasa asing dengan kota kecil ini, tapi setidaknya Mona pernah mendengar cerita mengenai kota pelajar itu dari mamanya yang memang asli Yogyakarta.
Dulu saat kecil Mona beberapa kali diajak oleh keluarganya mengunjungi kota ini, tapi setelah mamanya meninggal ketika usiannya baru mencapai tujuh Mona tak lagi datang ke kota itu.
Kota dengan adat yang masih cukup kental dengan Sultan sebagai kepala daerahnya.
Rasanya nyaman sekali saat pertama kali Mona menginjakan kakinya di kota ini, orang-orang yang is temui sangat ramah bahkan supir taxi yang tadi mengantarnya pun cukup membuatnya nyaman selama diperjalanan.
Dan disinilah kehidupan baru Mona akan dimulai.
"Permisi mbak, saya mau nanya ruangan dokter Reynaldi ada disebelah mana ya?"
"Dokter Mona ya ?" Jawabnya memastikan.
Mona mengangguk, mengiyakan tebakan dari seorang resepsionis ber nametag April itu.
"Iya , saya Mona yang baru dipindah kesini dari Jakarta." Jawab Mona, membuat April mengangguk mantap
"Mari-mari saya anter dok, kebetulan dokter Rey sudah menunggu di ruangannya".
Mona tersenyum kemudian mengikuti kepergian April yang lebih dulu berjalan untuk menunjukkan dimana ruangan dokter Reynaldi berada.
Sesampainya didepan ruangan bertuliskan direktur utama, April mengetuk pintu ruangan itu kemudian membukanya tanpa menunggu jawaban dari pemilik ruangan.
"Dok, dokter Mona sudah datang"
"Masuk"
Dokter Reynaldi menjeda pekerjaannya kemudian menyambut sosok perempuan yang tampak seperti seumuran dengan putrinya.
"Selamat siang dok", Ujar Mona sembari berjalan masuk ke dalam ruangan.
"Halo Mona, sudah lama tidak bertemu ya. Gimana kabarnya?, Papa sehat?".
Dokter Rey menyambut uluran tangan Mona dengan senyum menawan khas pria berusia lebih dari setengah abad itu.
"Baik dok, alhamdullilah papa sehat".
Dokter Rey meng angguk-anggukkan kepalanya, laki-laki paruh baya itu mempersilahkan Mona untuk duduk di sofa berwarna biru muda yang ada di ruangan itu.
"Ayo duduk dulu Mona, jangan formal begitu."
Mona tersenyum mengiyakan kemudian mengikuti instruksi dokter Reynaldi untuk duduk.
"Om sangat berterima kasih sama papa kamu loh Mona, beliau sudah mau mengijinkan kamu untuk sementara pindah kesini Mon, apalagi kamu juga baru pulang dari Jerman." Reynaldi menghela nafasnya sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya. "Tadinya om sanksi kalau papamu bakalan ngasih ijin kamu membantu om di rumah sakit kecil ini."
Reynaldi mengangsurkan satu botol air mineral dan gelas kosong kehadapan Mona. "Minum dulu kamu baru sampai kan, pasti haus".
"Terima kasih dok". Mona menuang air mineral ke dalam gelas yang diberikan oleh dokter reynaldi kemudian menegak air meneral itu perlahan.
Memang benar Mona rasanya hampir dehidrasi karena belum juga menyentuh air sejak dirinya turun dari pesawat hingga datang ke rumah sakit ini.
"Mona sudah dapet tempat tinggal disini ?" Tanya dokter Rey.
Dokter Reynaldi mengangguk, "sebenernya om sudah nawarkan ke papa kamu biar kamu tinggal sama keluarga om aja, toh kan disini sebentaran ngapain harus ngontrak rumah apalagi nanti bakal sendirian. Kalau di rumah kan ada Yasmin yang nemenin kamu"
"Yasmin ada di Jogja dok ?"
"Iya, anak nakal itu" Reynaldi menggelengkan kepalanya jika mengingat kenakalan anak bungsunya itu yang membuat hatinya selalu dipenuhi rasa khawatir.
Yasmin adalah sosok gadis trendi yang menggeluti bidang penyiaran pers, hal itu tentu saja menyimpang dari profesi keluarganya yang rata-rata adalah seorang dokter spesialis, termasuk ayah dan kakak tertuanya.
Mona tersenyum mengangguk, meskipun tidak terlalu mengenal baik dengan sosok Yasmin tetapi Mona pernah beberapa kali bermain dengan gadis itu saat mereka masih remaja.
Ayah Mona, Aduguna Admaja adalah junior Reynaldi saat menempuh pendidikan doktor di Jerman, kampus yang sama dimana Mona juga menempuh pendidikannya.
Bedanya Adi hanya menempuh doktornya disana sedangkan Mona sudah berada disana sejak awal kuliah hingga menuntaskan spesialisnya sebagai dokter bedah.
"Ngomong-ngomong nanti malam kalau kamu nggak terlalu capek dateng ke rumah om ya, kita makan malam bersama. Tante sudah masak banyak buat nyambut kedatangan kamu".
Tanpa ragu Mona mengangguk mantap, mengiyakan ajakan dokter reynaldi untuk datang ke rumahnya.
"Terimakasih dok, jadi ngrepotin."
"Enggak dong, kamu kan sudah om anggep anak sendiri."
Mona tersenyum seolah mengiyakan apa yang dokter Reynaldi ucapkan.
Mona adalah sosok mandiri yang meskipun dia adalah anak satu-satunya dari seorang direktur rumah sakit terbesar di Jakarta tapi Mona tidak pernah bergantung dengan nama besar yang ayahnya miliki.
Gadis itu selalu menanggalkan nama Admaja jika berinteraksi dengan sesama dokter, karena siapa sih yang tidak mengenal nama Admaja dilingkungan profesi itu.
Mona hanya mau berbaur tanpa ada embel-embel anak ditektur yang terkadang membuat orang segan berteman dengannya atau bahkan menyepelekannya karena nama besar ayahnya.
"Yasudah, selamat datang di rumah sakit ini ya. Semoga kamu betah disini. Sekarang kamu bisa istirahat dulu besok baru kita mulai pembahasan pekerjaan kamu disini."
Mona mengangguk mengerti, kemudian berpamitan setelah sedikit berbincang mengenai tujuan kenapa dokter Reynaldi meminta Mona untuk membantunya.
----
Mau cek ombak dulu, ada yang tertarik sama kelanjutannya engga?
----
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.