"Kenapa mas Ares kesini? Emang nggak ada poli terus Zifa gimana?, padahal aku berani tinggal karena ada Mas Ares disana."
"Cuti."
"Terus Zifa sama siapa mas kalau dokter penanggung jawabnya pergi semua." ucap Mona penuh dengan tekanan.
"Kan ada opa nya, opanya kan juga dokter."
"Tapi kan kamu papanya. Lagian mas Ares ini gak ada kerjaan banget nyusulin kesini. Aku juga belum bisa balik ke Jogja kalau pasien ini belum delapan puluh persen aman."
"Loh, memangnya siapa yang ngajak kamu pulang ?."
Dahi Mona mengkerut sempurna. Selain jawaban Ares yang cukup ketus, Mona juga penasaran kenapa Ares datang berkunjung jika tidak ingin mengajak Mona kembali ke Jogja. "Tadi katanya mau jemput aku."
"Mau ketemu dokter Adi." Kini giliran alis Mona yang menukik tajam, terheran dengan jawaban Arester.
"Terus? Udah."
"Udah."
"Ada keperluan apa mas mau ketemu sama papa ?."
Pikiran Mona udah mulai nggak tenang nih, fokusnya terus bertanya kepada Ares mengenai maksud dan kedatangan Ares ke Jakarta.
"Ada pasien yang mas perlu konsul sama dokter Adi?."
Mona melirik Ares penuh ke sanksian sedangkan Ares sibuk menghabiskan air mineral yang di pesannya.
"Kalau cuma ngomongin pasien kan juga kayak biasanya sih mas, bisa daring kenapa harus kesini. Selalu aja kamu itu ngerepotin diri sendiri." Dengan sifat super tidak pekanya, Mona tetap mengejar jawaban dari Ares.
"Pasiennya agak lain, rumit."
"Halah, gayaan. Biasanya juga enteng aja nanganin pasien. Tumbenan minta pendapat dokter lain."
"Ya soalnya cuma dokter Adi yang bisa jawab."
"Serumit apa sih ? Jadi penasaran. Pasien baru ? Apa lama?." Tanya Mona beruntun.
"Baru stok lama." jawab Ares, membuat Mona mengangguk - anggukan kepalanya.
"Terus ini cuma mampir ke aku terus pulang ?."
"Iya, cuma tadi sempet janjian ketemu dokter Adi pengen ngobrol-ngobrol lagi. Kamu nggak ada tanggungan pasien lain kan."
"Nggak ada sih, kan belum buka konsul. Sk ku masih di Jogja gitu." Mona tertawa renyah, Mona memang belum membuka sesi konsultasi lagi di Jakarta karena seratusnya masih di Jogja. Selain memang prakteknya masih terikat di rumah sakit milik keluarga Ares, Mona tidak ingin menambah beban dokter lain jika membuka konsultasi namun tidak dilanjutkan karena harus kembali ke Jogja dan akhirnya cuma di angsurkan ke dokter lain yang memiliki spesialis yang sama.
"Masih betah kan di Jogja ?."
"Kenapa aku harus nggak betah, kota nya nyaman. Orang-orangnya juga baik. Aku juga masih belajar masak sama tante."
"Kamu juga belum belajar masak sop otak sapi kesukaanku kan, Mon."
"Enggak penting-penting amat, tapi ya okelah kan uda janji sama tante."
"Ya penting lah, nanti kalau suaminya mau makan masakan favoritnya harus minta sama ibunya. Kan nggak lucu Mon."
"Suami yang mana , aku belum punya suami." Mona mencubit lengan Ares sangat kecil hingga membuat Ares mengaduh kesakitan.
"Ya Allah Mon, perih ini. Kekerasan dalam rumah tangga ini sih." Ujar Ares sembari mengusap lengan nya yang masih terasa pedih.
"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan. Di dengerin orang dikira beneran."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
