Ares itu seperti pria mati rasa dengan perempuan namun selalu menerima jika ada sosok line pemuja dokter Ares mengajaknya -mencoba- sebuah hubungan, entah apakah memang Ares malas untuk menolak atau apa, Yasmin juga tidak tau.
Adik perempuan Ares itu terus saja mengeluhkan perilaku kakaknya yang terlalu baik kepada setiap perempuan yang ditemuinya, membuat mereka menaruh harapan lebih yang berakibat membuat Ares sendiri kesusahan.
"Asalamualaikum."
"Waalaikum salam, masuk Mona." Teriak tante Yuli dari arah dapur mempersilahkan tamu undangannya itu untuk masuk.
Sejak awal kedatangan Mona di kota Jogja, Yuli jadi lebih sering mengundang anak dari teman sahabat suaminya itu untuk datang berkunjung ke rumahnya, entah hanya sekedar untuk makan bersama, belanja bersama atau hal lainnya seperti yang sering Yuli lakukan bersama Yasmin, karena mereka sudah menganggap Mona sebagai keluarga mereka sendiri.
"Mona baru pulang ya? mas Ares nggak bareng Mon?."
"Iya nih tant, maaf telat. tadi mas Ares bilang mau nyusul masih ada pasien?." Ujar Mona sembari meletakkan tas bahunya di salah satu sofa ruang tengah yang tak bersekat dengan dapur dimana Yuli saat ini berada.
"Yasudah kamu cuci tangan dulu, ini bentar lagi selesai." Teriaknya lagi.
"Halo mbak Mona yang cantik."
"Ih mbak Suti bisa aja deh." Mona menoel pinggang Suti, asisten rumah tangga di kediaman Dwipangga yang sedang sibuk membantu majikannya menyiapkan makan malam mereka.
"Aduh. Mbak Mona bikin kaget aja."
Mona memeletkan lidahnya jail saat mbak Suti menggelinjing kegelian karena ulah Mona, tak hanya keluarga Dwipangga saja yang akrab dengannya bahkan mbak Suti pun ikut akrab dengannya karena saking seringnya Mona datang ke rumah atas undangan keluarga itu.
"Yasmin belum pulang tante ?." Mona mencium pipi tante Yuli dari samping sesaat setelah membersihkan tangannya seperti yang biasa anak-anak dirumah itu lakukan.
"Belum sayang, tadi katanya suruh ninggal aja makanya tante kesel banget. udah tau lagi mau makan melem bareng, tapi anak itu selalu aja ngilang." Omel Yuli sembari tangannya terus mengaduk sayur nangka yang dibuatnya.
"Woah, harum banget tante, ini sayur nangka ya?."
Yuli mengangguk, mengiyakan. "Iya sayang, katanya kamu suka masakan padang ya?."
Mona mengangguk mantap, "Kok tante tau?."
"Tau dong, mas Ares yang ngasih tau. katanya Mona sering jajan nasi padang di depan rumah sakit kan."
Mona kembali mengangguk. "Tukang ngadu nih mas Ares." Ujar mona sembari mengerucutkan bibirnya, mencibir ulah Ares yang selalu mengadu kepada ibunya mengenai Mona.
"Ya nggak papa dong Mona, kan tante jadi tau apa kesukaan kamu. Habisnya kamu nggak pernah mau jujur sama tante kalau di tanya makanan kesukaanmu."
Mona tersenyum haru, ternyata hal sekecil itu pun membuat Mona merasa seperti memiliki sosok ibu yang menyayanginya. "Makasih banyak ya tante." Ucapnya sungguh-sungguh dengan mata yang berkedip-kedip cukup menggemaskan.
"Iya sayang, dah sana kamu duduk dulu tante siapin masakannya." Yuli mengusap lengan Mona yang masih berdiri di sisinya kemudian menyiapkan piring saji untuk menyajikan masakannya.
"Sini aku bantu siapin piringnya." Mona melipat lengan bajunya kemudian membantu mengangkat piring saji yang sudah terisi dengan masakan untuk dihidangkan diatas meja.
Satu demi satu piring-piring itu Mona tata dengan rapi membuat matanya berkilat penuh gairah, lapar rasanya.
Mona memandangi satu persatu menu yang sudah tersaji diatas meja seperti goreng krispy ayam, rebus daun singkong, rendang, gulai kepala ikan, ikan asam padeh, sayur nangka, paru goreng dan masih banyak lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
