Dear 42

19.3K 770 18
                                        

Ares mengecupi leher Mona dengan tergesa, melepaskan kancing piamanya satu persatu hingga pakaian yang Mona kenakan terlucuti tanpa sisa. Sedangkan ia, tanpa di bantupun sudah melucuti bajunya sendiri.

Lampu tamaran yang ada di kamar itu semakin membuat Ares gelap mata. Ares benar-benar menginginkan Mona, Ares hilang akal. Janjinya untuk tidak kembali meniduri Mona ternyata ia lupakan begitu saja.

Ares tidak mampu menahan hasratnya yang menggebu, ia harus mendapatkan Mona seutuhnya. Termasuk menanamkan benihnya di dalam rahim pujaannya itu.

Berkali-kali keduanya bergelum di bawah selimut yang sama, hingga Mona sudah tidak mampu lagi untuk mengikuti ritme Ares. Mona kewalahan hingga ia tidak sadar tertidur di dalam pelukan Ares.

xxx

"Mas, dimana pil aku ? Kenapa aku cari nggak ada ?" Mona menggoyang-goyangkan tubuh Ares yang masih nyaman bergelum di bawah selimut.

"Pil, apa ? Mas nggak tau."

"Aku taruh disini mas. Kenapa nggak ada."
Ujar Mona kesal sembari membuka satu per satu laci.

"Kamu kan yang ngumpetin mas.!" Mona berkacak pinggag menatap Ares, yang hanya menikmati pemandangan di hadapannya.

Mona memang cantik, tapi entah kenapa saat ini Mona yang hanya memakai kimono sehabis mandi dengan rambutnya yang masih basah terlihat jauh lebih memukau.

"Sini dulu."

"Mana Pil nya mas."

"Nanti mas kasih. Sini dulu." Ujar Ares merayu Mona agar mau mendekat kepadanya.

Mona yang sedari tadi kesal karena tidak juga menemukan pil yang pernah ia minum setelah berhubungan dengan Ares, mau tak mau harus menuruti keinginan Ares agar Mona bisa segera mendapatkan pil nya kembali.

"Kamu cantik banget sih, Mon." Begitu Mona duduk di atas kasur , Ares segera menyeret Mona ke dalam dekapannya lalu menindih tubuh Mona agar perempuan itu tidak bisa kemana-mana.

"Mas Ares geseran dikit dong mas. Berat loh ini!." Protes Mona.

"Nggak mau, Mon. Enakan begini." Gumam Ares memper erat pelukannya.

"Seriusan ih mas, berat tau nggak." Mona berusaha menyingkirkan tubuh Ares dan menggeser tubuhnya sendiri kesamping agar laki-laki itu tidak menempelinya.

"Tadi malam enggak berat Mon, kenapa sekarang jadi berat sih." Jawab Ares Jail, membuat Mona memutar bola matanya malas.

"Ayo dong mas." Rajuk Mona , karena Ares kembali menarik Mona kedalam selimut bersamanya.

"Dingin, Mon." Ucap Ares manja, mendusel di leher jenjang Mona menghindu wangi tubuh Mona yang membuat Ares kelimpungan.

"Kalau dingin ya pakai baju dong mas, dari tadi disuruh pakai baju ngeyel banget."

"Enakan nempelin kamu. Mas suka bau tubuh kamu, Mon."

"Mandi dong, udah siang ini. Bentar lagi kita ke rumah sakit loh mas."

"Iya, sebentar lagi."

"Sebentarnya kamu itu udah dua jam tau nggak."

"Iya sayang, sini dulu makanya." Ares menarik pinggang Mona agar lebih merapat dengannya.

Mau bagaimana lagi, Mona sepertinya memang harus menuruti permintaan bayi besarnya itu, atau mereka akan terlambat datang ke rumah sakit untuk mendampingi Zifa, cek kesehatan terakhirnya. Padahal kan memang itu tujuan mereka datang kesini.

"Jangan di situ, geli mas. Aku udah mandi loh ini." Mona menjauhkan kepala Ares.

"Nanti mandi lagi." Jawabnya acuh. Bukannya melepaskan Mona dari dekapannya, Ares malah memiting tubuh Mona agar tidak bisa melepaskan diri.

Dear tomorrowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang