"Itu dokter Mona ya dok ?"
"Hem, cantik kan? bilang aja iya!"
Arga mengangguk,"banget". Tatapannya masih tak terlepas dari Mona yang saat ini sedang duduk jarak beberapa meja dari diriya berdiri, sedang menikmati makan siang bersama dokter Reynaldi dan dokter bambang, dokter senior di rumah sakit itu dan sekaligus sahabat dekat papanya saat kuliah dulu.
"Ck, liat yang bening-bening melongo kamu ga."
"Ibarat kata nih dok, Dokter Mona ini seperti matahari pagi yang mencerahkan hariku yang gelap. gitu dok." Ujar Arga dramatis yang mendapatkan senggolan kaki dari Dea karena suaranya yang tidak kira-kira, membuat Arga mengaduh kesakitan.
"Tapi aku masih heran kenapa dokter sepintar dan setenar dokter Mona mau mengabdi disini ya walaupun cuma beberapa bulan sih." Arga melirik Dea yang sedang menggeser nampan berisi lauk pauk untuk makan siangnya di kantin yang sama dimana Mona berada.
"Ya anggep aja itu rejeki kalian bisa liat mentari pagi yang cerah kayak dokter Mona setiap hari". Tak memperdulikan ocehan Arga, Dea terus saja memilih menu makan siangnya kemudian meninggalkan Arga yang masih tercengang melihat paras ayu dokter baru yang beberapa hari ini menghebohkan seisi rumah sakit tak terkecuali anak koas seperti dirinya.
"Denger - denger dokter Mona ini anaknya petinggi rumah sakit Elizabeth Jakarta, pantesan kumpulnya sama senior-senior ya."
Dea memutar bola matanya malas, Arga ini tipe anak koas yang memiliki banyak rasa ingin tau, termasuk ingin tau urusan orang.
"Dokter Mona udah punya pacar belum sih dok?" tanyanya lagi.
"Kenapa? mau jadi pacarnya?". Kedua orang yang sedang sibuk membicarakan orang lain itu terkejut ketika tiba-tiba saja suara seorang perempuan menginterupsi kegiatan mereka.
"Eh dokter Meta, enggak kok dok. Sudah mundur halus saja, cukup tau diri apalah saya ini yang hanya anak koas. Cuman pengen tau aja, orang seberuntung apa yang bisa dapetin dokter Mona."
"Loh, memangnya kenapa? jodoh kan ditangan tuhan Ga." Meta menarik kursi disamping tempat duduk Dea kemudian ikut bergabung bersama keduanya.
"Ya nggak sama bocil juga kali Ta, Mona mana mau sama bocah macam Arga begini. Sudah banyak makan, keponya luar biasa lagi." Dea menyauti tak terima, lagian memang benar jika Mona sangat pemilih jika berkaitan dengan pasangan, makanya sampai saat ini Mona masih betah dengan kesendiriannya.
"Tapi beneran belum punya pacar dok?". Masih dengan rasa penasarannnya Arga kembali bertanya kepada Dea.
Dea menghentikan aktivitasnya, mendadak ingatannya kembali ke beberapa taun lalu saat Mona berada dititik terandahnya sedangkan Dea tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sahabatnya itu.
"Udah deh. Makan nasi kamu itu, keburu dingin!" ucapnya, membuat Arga menghela nafasnya pasrah dan mengikuti saja apa kata seniornya.
***
"Mon, om ada seorang pasien yang perlu bantuan kamu untuk menyembuhkannya makanya om meminta kamu dari papa kamu untuk datang kesini, semoga kamu adalah jodoh yang dikirimkan tuhan untuknya. Om dengar kamu pernah menyembuhkan orang yang mengalami hal yang sama sewaktu kamu di Jakarta."
Kening Mona mengkerut, siapa pasien yang Reynaldi maksud itu. Meskipun Mona merasa sangat penasaran tapi Mona masih menyimpan rasa penasarannya, tidak memotong kalimat dokter Reynaldi agar laki-laki paruh baya itu kembali melanjutan kalimatnya.
"Cucu om Mona," dokter Reynaldi menghela nafasnya membuat rasa penasaran Mona semakin memuncak, bagaimana bisa dokter Reynaldi memiliki seorang cucu sedangkan yang Mona tau anak Reynaldi ya hanya mas Ares dan Yasmin, sedangkan keduanya setau Mona belum ada yang berkeluarga.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
