"Kesempitan enggak, Mon.?"
"Enggak ma."
"Kalau kesempitan bilang lo, mama nggak mau cucu mama kegencet korset begini."
"Iya ma." Mona tersenyum, melirik Yasmin yang juga berada di sana.
Minggu ini adalah hari-hari terakhir Yasmin berada di Indonesia, yang Kebetulan bertepatan dengan tujuh bulanan Mona, yang digelar di rumah Mona yang baru di Jogja.
Setelah ini Yasmin harus kembali ke Australia untuk menemani study suaminya.
Dua bulan yang lalu, Yasmin juga telah resmi di persunting oleh tunangannya yang kebetulan sedang melanjutkan studynya di Monash university. Dan Yasmin ikut bersamanya.
Beberapa bulan lalu, setelah acara empat bulanan di Jakarta dan Mona telah mendapatkan kabar baik bahwa dia bisa kembali melakukan aktivitasnya sebagai dokter, Mona langsung di ajak kembali ke Jogja oleh Ares dan menempati rumah baru mereka yang sebenarnya telah Ares siapkan jauh jauh hari.
Lalu bagaimana dengan Mona saat itu? Tentu saja Mona sangat terharu. Bagaimana tidak, jika ternyata Ares telah menyiapkan begitu banyak hal untuk dirinya dan anak mereka.
Acara pernikahan mereka juga telah selesai di gelar satu setengah bulan setelah acara empat bulanan dilaksanakan yang hanya mengundang kerabat dekat, kolega, rekan kerja dan tetangga.
Meskipun begitu hampir lima ratus undangan mereka sebar.
Semakin hari hubungan Mona dan Arester pun semakin dekat. Usaha yang Ares lakukan juga tidak sia-sia.
Mona semakin luluh dan semakit terlihat lengket padanya. Dan tentu saja Ares merasa sangat beruntung akan hal itu.
Rasa cinta keduanya semakin hari semakin bertumbuh subur, keduanyapun tak sabar untuk menanti kehadiran buah hati mereka.
"Apa diganti aja deh mbak, ini kan mantu saya kasian perut buncit begini di pakei korset."
"Ini korset ibu hamil bu, jadi aman untuk dipakai."
"Ah, enggak deh. Saya mau di ganti ini. Pakein yang kemben tapi bawahnya lebar aja. Lalu ini bahunya kan bisa di tutup melati yang tadi."
"Tapi nanti mbak Mona nya jadi keliatan lebih besar lo bu."
"Halah kan cuma keliatan, pinter-pinter aja ngambil gambarnya. Yang penting mantu saya nyaman makeknya."
"Baik bu," Penata rias yang mendandani Mona mematuhi setiap perintah yang diberikan oleh Yuli.
Sedangkan Mona , ia hanya cengar cengir bersama Yasmin dan pasrah saja mau di apakan oleh ibu mertuanya itu.
Sebenarnya korset yang Mona pakai juga sudah di sediakan khusus untuk ibu hamil oleh penata riasnya. Tapi ya mau bagaimana lagi. Ibu mertua tetaplah harus di patuhi.
Mona tau ibu mertuanya itu ingin memberikan yang terbaik dan kenyamanan untuk Mona selama prosesi siraman. Jadi Mona mau tidak mau harus menurut saja, terlebih adik iparnya selalu mengatakan kepada Mona jika Mona harus menurut pada mamanya agar mamanya tidak tambah ribet sendiri. Dan Mona memahami itu.
Mona mengganti pakaiannya dengan kemben warna hijau berbentuk daster tanpa ikat, tidak ketat seperti yang sebelumnya dan memang benar pakaian ini jauh lebih nyaman dari yang sebelumnya.
"Nah gini kan enak, mama aja yang liat nyaman apalagi yang makai."
Yuli membantu merapikan pakaian yang Mona pakai sembari meneliti apakah ada kekurangan dari pakaian adat itu.
"Nyaman kan Mon ?."
"Iya ma, lebih lega." Jawab Mona membuat Yuli mengangguk bangga atas idenya.
"Panggilin mas mu Yas, suruh ganti. Sumimu jg."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
