"Lanjutkan!." Ucap Dewa cukup keras membuat Rio sebagai dokter anestesi yang membantunya tampak menelan salivanya kasar. Belum lagi dua anak koas yang meng asisteninya yang tak lain adalah Arga dan Bima nampak saling pandang dengan jantung yang bertalu-talu, wajah mereka memucat dengan dahi yang terlihat berkeringat dingin.
Selalu begini jika ada operasi dan dokter Dewa sedang dalam mood yang tidak baik.
Suasana begitu mencekam , bahkan dokter Rio yang selalu menggodainya karena mereka memang sahabat dekat tak mampu berkutik jika sejawatnya itu sedang dalam keadaan mood yang buruk seperti saat ini.
Jika dia berani menggoda dokter Dewa pada saat seperti ini maka hanya ada dua kemungkinan , yaitu tidak disapanya sampai beberapa hari atau anak koas yang berani tidak fokus dalam meng asisteninya akan disuruh mengulan stase bedah satu kali lagi. Benar-benar mimpi buruk.
Dokter Rio menghela nafasnya, sungguh dokter Rio tidak tau lagi harus melakukan apa jika hal seperti ini kembali terulang, yang ia tau adalah dia harus segera memyelesaikan tugasnya dan membantu para koas itu agar tidak disuruh untuk mengulang stase bedahnya lagi.
Dokter Dewa menyandarkan kepala di bahu kursinya, rasanya kepalanya sangat pening sekali. Baru saja dia pulang dari luar kota dan lagi-lagi harus menemukan Mona sedang berada di rumah Arester, rasamya ingin marah saja, tapi bagaimana dia bisa marah bagaimana jika dia meluapkan kekesalannya nanti malah membuat Mona menghindarinya.
Semenjak kepergian istri dan calon anaknya, dokter Dewa lebih sering terlihat emosionl walaupun beberapa bulan ini tampak melembut karena kehadiran Mona yang mengisi hari-hari dokter tampan itu, tapi entah kenapa tiba-tiba saja mood nya kembali anjlok karena untuk kesekian kalinya Mona menolak ajakannya untuk datang ke rumah kedua orang tuanya.
Dewa tersenyum kecut saat mengingat dirinya pernah menjadi pemenang hati mantan istrinya dari Ares, dan sekarang lagi-lagi sepertinya Dewa harus mengenyahkan Ares dari wanita yang di cintainya itu, semoga ini bukan obsesi karena saat melihat Mona bersama Ares rasanya hati Dewa terbakar api cemburu hingga membuatnya hilang akal. Beruntung semua sifat buruknya itu tidak pernah ia perlihatkan di hadapan Mona, kekasihnya.
Dewa melepaskan sneli putih yang sedari tadi masih dikenakannya kemudian menyaut jacket yang tadi dikenakannya untuk berangkat bekerja, karena Dewa harus menaiki motor agar tidak terjebak macet saat melakukan shift paginya yang bebarengan dengan berangkatnya para mahasiswa dan pelajar di kota itu.
Dewa melangkahkan kakinya menuju parkiran motor setelah operasi hari ini selesai dilakukan, Dewa harus menemui Mona, dia tidak ingin Mona berfikir macam-macam karena hari ini dia sama sekali tidak menghubungi gadis itu bahkan hanya untuk sekedar memberi kabar apalagi hari ini Mona sedang off setelah membantu terapi Zifa yang Dewa tau itu jelas bersama Ares.
Semenjak kejadian beberapa minggu lalu yang membuat Mona harus kembali ke Jakarta dengan Ares bersamanya tanpa memberi tau Dewa terlebih dahulu, rasanya Dewa sangat kesal sekali. Terlebih hari hari berikutnya yang mengharuskan Mona dan Ares sering berinteraksi rasanya Dewa ingin marah saja pada dirinya sendiri. Ia tidak menampik jika keduanya bisa dekat karena memiliki hubungan persahabatan antar keluarga. Tapi hal itu jelas membuat Dewa merasa tak adil karena Mona adalah kekasihnya.
***
Suara ketukan pintu terdengar beberapa kali saat Mona baru saja menyelesaikan shalat isyanya.
Hari ini Mona tidak datang ke rumah sakit karena memang jadwalnya sedang off.
Seharian Mona hanya menonton netflix dengan pikiran yang beterbangan kemana-mana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
