"Dokter Mona!!"
Mona menghentikan langkah kakinya, tanpa membalikan tubuh, Mona sudah tau suara siapa yang baru saja menyapanya."Mesti enggak jelas deh." Tuduh Mona sembari memutar bola matanya malas.
"Uluh, uluh. Capek banget ya ?"
"Menurut lo aja dee." Jawab Mona sekenanya.
"Jangan jutek gitu dong nanti cakepnya ilang loh." dengan genit Dea mencolek dagu Mona untuk menggoda sahabat lamanya itu.
"Sini, aku bawain. Kapan sih nyampe? Kok nggak ngabarin? Kan udah dibilang kabarin kalau dah sampe nanti biar bisa ku jemput, eh tau-tau udah nemuin calon mertua aja."
"Mertua yang man." Ujar Mona masa bodoh.
Dea cekikikan dengan mode mengunci mulutnya kemudian mengambil salah satu barang bawaan Mona tanpa permisi agar tidak membuat teman sejawatnya itu sempoyongan karena barang bawaan yang terlalu banyak.
"Nggak usah ngambek deh." Dea menoel pinggang Mona membuat gadis itu mendelik kesal, dari dulu Dea memang teman Mona yang paling absurd.
"Inget wajahnya juga enggak, ngapain ngambek. Kamu jangan suka ngaco kalo ngomong, nanti kalau ada yang denger bisa jadi gosip dee."
"Enggak ngaco, tadi sih emang sengaja." Jawab Dea enteng
"Nggak pernah berubah absurd lo, emang."
"Nggak ada lo gue ya mon disini. Adanya kamu dan aku, jangan sampe belum apa-apa kamu udah dibilang sombong karena gaya bicara." Ujar Dea yang membuat Mona mendelik kesal.
"Ck,iya. Ya udah ah berat nih, buruan."
Mona berjalan lebih dulu meninggalkan Dea yang masih saja sibuk menggodanya.
Kedua perempuan itu berjalan bersisihan menelusuri lorong rumah sakit menuju sebuah mobil SUV berwarna putih milik Dea.
"Eh beneran, kenapa tadi nggak ngabarin dulu sih. ngeselin loh."
Dea terus saja memberondongi Mona dengan pertanyaan sembari membantu temannya itu memasukkan koper super besarnya ke dalam bagasi mobil.
"Nggak deh De. Kamu kan lagi ada poli, nanti ganggu dong. Inget ya pasien jauh lebih penting daripada apapun."
"Dih sok iya,"
"Iyalah, memangnya apa yang lebih penting bagi seorang dokter selain pasien?".
"Ya keluarganya lah mon."
Mona menedihkan bahunya namun kemudian mengangguk setuju, "iya sih."
"Asal keluarga gak selalu dijadiin kambing hitam aja."
Bahu Dea melorot, sepertinya dia benar-benar salah ngomong kali ini.
"Dah ah, gausah di bahas. Ayok Rumahnya uda dibersihin pak Tomo kemarin. Semoga gak kotor lagi ya."
Dea tersenyum berusaha mencairkan suasana menatap jail ke arah Mona yang sudah mulai cemberut.
Bukan Mona tidak mau membersihkan kontrakannya sendiri tapi jauh-jauh hari sebelum Mona datang, dia sudah mewanti-wanti Dea untuk membantunya mencari orang yang bisa membersihkan rumah yang akan Mona tempati karena jadwalnya datang ke Jogja bebarengan dengan jadwalnya selesai dari mengisi sebuah workshop di luar kota, tentu saja itu sangat membuatnya kelelahan, jadi dia berharap sesampainya di Jogja, Mona bisa langsung beristirahat.
"Enggak, enggak. aku tau kamu pasti capek banget, lagian tadi pagi udah dicek ulang sama pak Tomo kok."
Kalau Dea menebak Mona kecapean, maka tebakan Dea benar adanya. Jujur saja sekarang rasanya badan Mona remuk redam. belum lagi tadi Mona harus kesana kemari membawa koper super besarnya sendirian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
Fiksi PenggemarMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
