Dahi Mona terus berkerut saat tiba-tiba merasakan mulas yang bertubi-tubi, biasanya mulas seperti ini ia rasakan hanya sesekali namun mulas kali ini rasanya berbeda, perut Mona terus terusan mengeras dan mengendur secara konstan.
Pikirannya sudah tidak beres, sepertinya Mona akan segera melahirkan.
Sebenarnya hari perkiraan lahir Mona masih kurang tiga hari lagi, namun semenjak Ares sering mengunjungi anaknya di dalam sana. Mona jadi sering merasa mulas-mulas seperti ini.
Ares sedang berada di rumah sakit karena ini jam poli, sedangkan Mona sudah kembali cuti untuk melahirkan.
Mona yang saat ini sedang berbaring di kasurnya berusaha untuk menikmati apa yang dirasakannya meskipun terasa sangat teramat nyeri.
Ia memiringkan tubuhnya kekanan dan kekiri, berjalan kesana kemari berharap segera mendapatkan bukaan.
Beberapa kali juga Mona mengatur nafasnya yang sudah mulai tersenggal karena rasa nyeri yang menimpanya.
Mona terus mengusap perut dan punggungnya sendiri menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit yang semakin lama semakin konsisten itu.
Keringat dingin mengucur di pelipis Mona,
Mona buru-buru ke kamar mandi untuk memastikan apa yang baru saja ia rasakan
"Ketuban." Mona menarik nafasnya mencoba untuk tenang. Ada sedikit cairan bercampur darah yang terlihat di celana dalam yang Mona pakai. Sepertinya perkiraannya kali ini benar, dia akan segera melahirkan.
Ia segera mencari ponselnya, mencoba menghubungi Ares.
Mona memejamkan matanya saat panggilan pertamanya tidak di angkat, lalu Mona mencoba peruntungannya yang kedua. Ia menghubungi Ares kembali namun masih sama. Ponsel suaminya itu tidak diangkat.
Ini memang masih jam sibuk Ares, karena baru memulai jam praktek polinya.
Mona menimbang-nimbang mencoba berfikir dengan jernih, kira - kira siapa yang bisa ia hubungi untuk membantunya.
"Mama" kata mama terlintas di otaknya.
Benar, Ibu mertuanya mungkin bisa membantunya meskipun jam - jam segini biasanya Yuli, cukup sibuk di toko kue miliknya.
Mona mencoba peruntungannya untuk menghubungi ibu mertuanya itu, namun sayang lagi-lagi panggilan Mona tidak di angkat. Masih belum menyerah, Mona kembali menghubungi Yuli namun lagi-lagi panggilannya tidak terjawab.
Mona menghela nafasnya sekali lagi. Mona menguatkan hatinya, mau bagaimana lagi, dia harus segera ke rumah sakit, dari pada harus melahirkan mandiri seperti ini.
Meskipun Mona adalah seorang dokter, tapi Mona juga masih butuh bantuan dokter lain untuk membantunya melahirkan.
Dengan kekuatan seadanya, Mona mulai mengeluarkan koper yang berisi pakaiannya dan calon bayi Mona yang sebenarnya sudah ia siapkan jauh jauh hari untuk mengantisipasi hal - hal semancam ini terjadi.
Apesnya lagi, hari ini asisten rumah tangga yang sehari-hari bekerja di rumah Mona ijin karena ada takziah dan dia harus melayat karena masih saudara.
Mau tidak mau Mona harus mengijinkannya. Dan kalau ditanya apakah tidak ada supir ? Tentu saja tidak.
Mona ini gen milenial, bukan lagi boomers yang masih membutuhkan hal-hal semacam itu.
Ia sangat mandiri, begitupula Ares. Mereka lebih nyaman jika rumah benar - benar menjadi privasi mereka dan mobil adalah alat transportasi yang bisa mereka jalankan sendiri tanpa harus menggunakan jasa supir.
Kecuali art yang memang Mona butuhkan untuk membersihkan rumah , karena memasakpun masih Mona yang melakukannya.
Mona mendorong koper nya pelan-pelan keluar dari dalam rumah menuju garasi dimana mobilnya berada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
