Pukul sepuluh malam, Mona baru sampai di kontrakannya setelah sempat berkeliling kota kecil nan istimewa itu.
"Apakah Ares juga akan seperti Akbar dan Dewa yang akan meninggalkannya begitu saja? Meninggalkan Mona dan calon bayi mereka."
Pikiran Mona hanya seputar itu saja sepanjang jalan ia berkendara. Ya tuhan apa yang Mona harapkan sampai ia berani melakukan hubungan itu tanpa ada kata sah dihadapan tuhan dan hukum.
Apakah ini karma yang ia dapatkan dari perilaku papanya dulu ? Tapi apa salah Mona hingga semua dilimpahkan ke Mona seperti ini. Lagipula Mona juga tidak bisa terus menerus menyalahkan papa nya yang telah bertobat dan menebus kesalahannya di masa lalu.
Entahlah Mona tak ingin lagi berfikir yang rumit-rumit. Dia hanya ingin menenangkan hatinya. Dia tidak ingin terlelap dalam keadaan bersedih.
Mona memarkirkan mobilnya di garasi rumah, mematikan mesinya lalu menghela nafasnya sejenak.
Mona harus berfikir jernih, mereka adalah dokter. Siapapun pasiennya tentu saja mereka wajib berlaku profesional.
Ares adalah dokter bedah syaraf. Renatha membutuhkan tangan Ares untuk membantunya. Lalu salahnya dimana ? Mona mencoba menggali kewarasan dan rasionalnya.
Beberapa kali Mona menghela nafasnya lalu menghembuskannya, kemudian membereskan isi tasnya lalu turun dari mobilnya saat sosok itu sudah berdiri tegak disamping mobil menunggu kedatangan Mona.
"Ya Allah." Mona lagi-lagi terkejut atas kehadiran seseorang yang tidak Mona prediksi sebelumnya. Dari mana laki-laki ini tau dimana alamat rumahnya.
"Mas Dewa? Kok bisa ada disini. Ada perlu apa?." Tanya Mona saat Dewa menyambutnya dengan senyuman.
"Mampir aja. Tadi habis dari rumahnya Peter."
Mona mengangguk. "Kok tau aku tinggal disini, mas?."
"Tadi ngobrol sama Peter di depan terus liat plat motor kamu yang nggak asing parkir di depan rumah."
Mona kembali mengangguk. "Terus mas Dewa ada perlu apa?."
"Cuma pengen nyapa kamu aja, udah makan belum ?" Tanya Dewa tanpa memperdulikan rasa tidak nyaman yang Mona tunjukan.
Ya gimana bisa nyaman, ini sudah pukul sepuluh malam, dan dia adalah perempuan lajang. Memangnya apa yang orang-orang pikirkan tentang kunjungan laki - laki ke rumah perempuan lajang di jam segini.
"Udah kok, ngomong-ngomong kenapa mas Dewa enggak di rumah sakit. Aku denger dokter Renata habis kecelakaan."
Bukannya terkejut, Dewa malah tampak keheranan. "Memangnya untuk apa saya ada disana Mon ? Kan saya ndak di butuhkan."
"Bukannya kalian dekat ya ?."
"Siapa yang bilang ?."
"Nggak ada yang nggak tau kali mas, pak Prapto satpam rumah sakit juga tau kalau mas Dewa lagi deket sama dokter Ren."
Bukannya tersinggung medengar kalimat ketus dari Mona, Dewa malah tertawa. "Kalian itu suka menyimpulkan sendiri."
"Duduk boleh Mon ? Nggak enak juga ngobrol berdiri begini."
Mona celingukan melihat situasi komplek perumahannya lalu mengangguk. "Boleh." memangnya mau diusir, kan enggak juga.
Lagian Mona juga sedang butuh teman untuk mengobrol agar pikirannya bisa teralihkan.
"Mas mau minum apa ?." Tanya Mona setelah keduanya duduk di teras rumah kontrakan Mona.
"Nggak usah Mon, nanti ngerepotin."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
Fiksi PenggemarMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
