Sudah hampir seminggu Mona berada di kota Jogja namun kegiatannya hanya itu-itu saja, hanya pulang dan pergi rumah sakit karena memang dia sekarang sedang disibukkan untuk membantu terapi Zifa, cucu dari pemilik rumah sakit dimana tempatnya mengabdi saat ini.
Meskipun Mona bukan ahli fisioterapi, tapi Mona yang baru saja mempelajari riwayat penyakit Zifa merasa perlu untuk mengikuti sesi itu untuk mengetahui perkembangan tubuh Zifa paska operasi bedah. Selain itu ya karena memang tugas utama Mona di rumah sakit adalah membantu kesembuhan Zifa.
Beberapa hari lalu Mona mengunjungi Zifa dan entah kenapa hati Mona mencelos melihat kondisi gadis cilik itu rasa-rasanya Mona harus ribuan kali merasa bersyukur karena meskipun dia kehilangan mamanya tapi dia tidak kehilangan kesehatan seperti Zifa kecil.
Mona harus menghela nafas jika ingatannya kembali ke beberapa hari lalu saat dia menemani Zifa kecil untuk pengobatannya.
Mona melangkahkan kakinya keluar dari dalam rumah, hari ini adalah hari minggu, dan Mona berencana untuk berjalan-jalan di sekitar perumahan, siapa tau dia akan menemukan pasar pagi untuk membeli sarapannya, karena Mona sangat malas sekali untuk memasak, apalagi dia tidak bisa memasak sama sekali.
Kata Dea di dekat-dekat sini ada sunmor atau sunday morning dimana para pedagang berkumpul pada hari minggu pagi untuk menjajakan berbagai macam makanan dan Mona ingin melihatnya.
Meskipun Mona adalah seorang dokter namun jangan pernah salahkan jiwa tukang jajannya, Mona akan mengendap-endap keluar dari rumah hanya untuk datang ke tempat-tempat yang menjual banyak jajanan seperti yang akan Mona kunjungi hari ini, takut jika papanya akan mengomelinya.
Dokter Adi adalah dokter spesialis jantung dan beliau sangan concern dengan kesehatan, terlebih yang berhubungan dengan makanan yang tidak sehat seperti yang sering Mona konsumsi.
Jika dokter Adi menemukan Mona menyimpan makanan pinggiran seperti itu maka dokter Adi akan mengoceh sampai lupa waktu hingga membuat telinga Mona terasa kebas untuk mendengarnya.
Mona mamacu sepeda motor yang baru dibelinya dengan kecepatan empat puluh kilometer per jam, cuaca hari ini cukup sejuk karena memang masih pukul setengah enam pagi, banyak orang pejalan kaki yang berseliweran kesana kemari, tapi Mona malah mengendarai motor, benar-benar bukan tipikal dokter yang baik. Pantas saja dokter Adi, papa nya itu selalu mengomeli putri tunggalnya.
Tiba di sunmor Mona memarkirkan motornya di tempat khusus parkir motor kemudian mulai berjalan kaki mengelilingi stand-stand yang menawarkan jajanan disepanjang jalan yang Mona lewati.
"Mona". Saat Mona berhenti di salah satu stand penjual nasi uduk, Mona tiba-tiba mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.
Gadis itu celingukan kekanan dan kekiri namun tak mendapatkan apapun, memangnya hanya dia yang memiliki nama Mona di tempat sebesar ini? Pikir Mona.
Mona menedihkan bahunya kemudian hendak melanjutkan langkahnya ke stand berikutnya, namun lagi-lagi dia mendengar namanya di panggil, dan sekarang suara itu semakin dekat.
"Hey Mon. Sendirian aja?". Seorang perempuan berpawakan tinggi semampai dengan topi baseball berwarna hitam menoel lengannya dari samping.
"Loh, Yasmin. Ngagetin aja kamu. Kirain siapa manggil-manggil. Iya aku sendirian aja, kamu kok ada disini ?".
"Ya jalan pagi lah Mon, itung-itung olah raga."
"Sama siapa ?" Mona menoleh ke kanan dan kekiri memastikan bahwa Yasmin memang tidak sedang bersama siapapun.
"Sendirian, lagian ngapain harus sama siapa coba. Orang deket ini".
"Oh, iya juga sih". Ujar Mona setuju
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
