Dear 18

17K 877 3
                                        

Dua hari berlalu kini tiba saatnya Mona, Ares , Denis dan Bella dibantu beberapa co-ass atau lebih tepatnya Mona dan Ares hanya bisa berdoa dibalik ruang OK karena peraturan yang berlaku bahwa yang boleh melakukan tindakan di rumah sakit itu hanya dokter yang memang bekerja disana walaupun Mona pernah bekerja di tempat itu namun itu tetap tidak berlaku, setidaknya Mona dan Ares sudah tau gambaran tindakan apa saja yang akan dilakukan dan semua sudah mendapat persetujuan dari dokter Reynaldi.

"Makan dulu Mon." Ares yang baru saja datang menawarkan sandwich yang dibawanya kepada Mona.

"Mas Ares aja deh, aku belum laper."

"Jangan gitu dong, nanti malah kamu yang sakit"

"Yaudah." Tak mau berdebat, Mona menerima uluran sepotong sandwich dan sebotol air mineral yang Ares angsurkan kepadanya.

"Beli di kantin ya?"

Ares mengangguk sembari menggigit sandwichnya "kok tau ?"

"Rasanya masih sama"

Ares kembali mengangguk, mengerti.

"Belum ada kabar dari dalem ?"

"Belum mas, kayaknya bener deh kata Bella kalau bakal makan waktu lama."

"Bedah ulang Mon, jelas lama"

Mona mengangguk. "Iya sih, tapi ini uda hampir empat jam belum ada titik terang."

"Sabar." Ares mengusap pundak Mona dengan lembut membuat Mona menghela nafasnya lalu mengangguk dan kembali melanjutkan makannya.

Tadi pagi karena terburu-buru Mona tidak sempat membuat sarapan alhasil Ares pun ikut terseret untuk tidak sarapan jadilah perutnya keroncongan dan Ares berinisiatif untuk membeli sandwich itu.

Bukan karena Ares tidak merasa sedih atau apa tetapi melihat Mona dalam keadaan yang sangat khawatir seperti itu Ares pun mengalah untuk menyiapkan sarapan mereka, ya walaupun hanya beli di kantin. Tapi lumayan lah.

***

Ruang pulih yang Zifa tempati tampak begitu sunyi dan tenang, anak kecil itu masih terbaring belum sadarkan diri. Tadi kata Denis, Zifa akan bangun sekitar dua jam lagi dan ini sudah hampir dua jam tapi Zifa belum juga sadar.

Mona terus mengusap tangan Zifa harap -harap cemas, siapa tau dengan usapannya anak itu bisa merasakan dan segera terbangun meskipun belum ada penelitian tentang hal itu, tetapi besar harapan Mona jika itu akan terjadi.

"Zifa, tante nungguin loh. Bangun yuk sayang." Mona kembali mengusap-usap tangan gadis kecil itu.

"Balik dulu aja deh Mon, biar aku yang disini nanti ku kabari kalau Zifa udah bangun."

"Enggak mas, aku disini aja."

Ares menghela nafasnya namun kemudian mengangguk mengiyakan. Seperti biasa tidak ada gunanya berdebat dengan si keras kepala Mona.

Tak berselang lama anak itupun tersadar dari obat biusnya dan Mona segera menghubungi dokter Denis untuk memeriksa keadaan Zifa.

Ya walaupun sebenarnya Mona ataupun Ares sendiri bisa melakukannya tetapi tidak, mereka sangat menghormati dokter penanggung jawabnya anak itu.

"Zifa ada yang dirasain sayang ?"

Zifa menggeleng, "Engga ada om dokter"

"Ada yang sakit ? Gak papa cerita aja sama om dokter"

"Enggak ada om"

Denis tersenyum kemudian mengangguk, "Baik kalau begitu nanti tunggu tiga puluh menit lagi Zifa makan ya, kalau ada yang dirasain pusing atau mual setelah makan Zifa kasih tau om dokter ya"

Dear tomorrowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang