"Mon, mas boleh minta tolong sama kamu?" tanya Ares membuat kening Mona berkerut, bingung. kenapa tiba-tiba Ares terlihat sangat serius sekali.
"Hemm gausa horor gitu deh mas" Jawab Mona.
"Mas serius, Mona."
"Iya serius mas, emangnya mas Ares mau minta tolong apaan sih?"
"Pikirin baik-baik dengan kepala dingin nanti kalau udah waktunya kamu harus ngomong sama mas Dewa."
Kalimat Ares sontak membuat sudut alis Mona menukik tajam,apa maksudnya? kenapa tiba-tiba Ares membawa pembicaraan pemulihan Zifa ke mas Dewa.
"Maksud mas gimana ? aku disuruh pake kepala dingin terus maafin dia gitu?." Mona sedikit merasa tidak nyaman dengan kalimat yang Ares ucapkan.
"Hey, jangan marah dulu. Maksud mas, pastiin dulu perasaan mas Dewa ke kamu gimana, jangan sampai apa yang kamu alami sebelumnya keulang lagi. Kamu itu, terlalu sayang kalau cuma dijadiin bahan pelarian laki-laki. mas cuma nggak mau itu terjadi lagi sama kamu."
Mona mencubit lengan Ares cukup keras membuat konsentrasinya mengemudi menjadi teralihkan, "Hati-hati dong Mon, mas lagi nyetir ini. kaget loh."
"Ya lagian baru kali ini liat kamu serius banget begitu mas, btw baru pertama kali juga aku liat mas Ares ngasih petuah begini sama aku, kan aku terkejut."
"Serius Mona."
"Kenapa ? mas Ares sekarang jadi kasian kan sama aku setelah denger ceritaku sama Akbar beberapa taun lalu ? terus sekarang lagi-lagi aku kejaring hati yang salah."
Mona menghela nafasnya sejenak, kemudian melanjutkan kalimatnya. "lagian aku nggak perlu dikasiani kali mas. Aku udah ngak apa-apa apapun situasinya ke depan."
"Buka kasian Mon, mas cuma ngga mau aja kamu salah pilih lagi." Ares melirik Mona yang sedang duduk disamping kemudi memperhatikan setiap sudut jalan yang mereka lewati.
"Iya, makasih uda kasih saran buat Mona ya mas. semoga aja nanti kami bisa menyelesaikan semuanya dengan baik-baik."
Bukannya merasa lega mendengar apa yang Mona ucapkan barusan, hati Ares malah semakin tidak karuan. Rasanya tidak rela sekali jika nanti ternyata Mona harus kembali ke sisi Dewa dan meninggalkan perasaannya yang mulai berkembang itu sendirian.
Keduanya kembali fokus dengan jalanan yang ada dihadapan mereka, mengabaikan sejenak fantasi mereka masing-masing mengenai masa depan yang akan mereka hadapi.
Setidaknya Mona tidak akan mengalaminya dalam waktu dekat ini karena Mona masih belum bisa bertemu dengan Dewa.
"Mas juga, nanti kalau udah sampai Indo baik-baik sama mbak-mbak pegawai bank itu. Jangan di php in mulu. Tarik ulur kaya layangan aja, kasian tante Yuli uda pengen banget liat mas nikah tu."
Ares tersenyum, sedikit terkekeh. Bagaimana bisa pikiran Mona sampai sejauh itu mengenai hubungannya dengan Tari nama asli dari mbak-mbak pegawai bank, sebutan yang Mona berikan untuknya.
"Kamu tau dari mana kalau mama pengen mas cepet nikah?."
Mona menyengir, melirik ke arah Ares yang sedang mengemudi. "Ya dari tante Yuli sendiri lah, tante kan sering curhat sama aku tentang lika -liku kehidupan percintaan mas Ares."
"Masa sih?"
"Beneran. Katanya tante sampe pusing soalnya sering denger mas Ares gonta ganti pacar tapi nggak pernah mau ngenalin ke orang tua."
"Kan belum ada yang cocok Mon, masa mau dikenalin."
"Kalau belum cocok ngapain di pacarin?."
"Ya mereka mau ngajakin nyoba ya ayoklah dicoba, kalau ternyata nggak cocok mau dipaksain gimana lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Dear tomorrow
FanfictionMona tiba-tiba saja ditugaskan untuk membantu salah satu rumah sakit milik universitas terkemuka di jogja karena rumah sakit itu baru saja kehilangan dokter bedah terbaiknya. Ia tak pernah mengira jika tugasnya kali ini membuatnya bertemu dengan sos...
