Dear 5

30.8K 1.7K 12
                                        

"Ares." Ucap laki-laki yang mengulurkan tangannya lebih dulu kepada Mona, Ares merasa belum memperkenalkan diri kepada gadis yang nampak ayu pake banget yang ada dihadapannya ini, mata bulatnya yang indah, bibir plumpnya yang berwarna pink alami dan pipi yang sedikit cuby dengan bentuk wajah yang sedikit mungil terasa pas saat dipandang mata.

"Oh?, Iya.. saya Mona." jawabnya menyambut uluran tangan Ares.

Dahi Ares berkerut sempurna saat suara lembut itu mengalun di telinganya, siapa coba yang tidak tertarik dengan wajah ayu milik seorang Monalysa. Namanya saja seperti mengingatkan Ares pada seseorang yang sudah lama tidak pernah lagi di temuinya.

"Mas Ares makasih banyak ya bantuannya, mau masuk dulu atau ?"

"Nggak dulu deh mbak, saya harus pulang ke rumah orang tua kebetulan ada acara. Mungkin lain kali ya."

Mona menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Padahal sebenarnya Mona merasa lega luar biasa, bagaimana kalau Ares mengiyakan ajakannya untuk mempir? Apa yang akan orang-orang pikirkan nanti, bisa dikira maksiat di siang bolong kalau perempuan single sepertinya membawa masuk laki-laki yang entah sudah beristri apa belum itu.

"Saya duluan ya mbak"

"Oh, iya mas. Sekali lagi terimakasih." Mona menganggukkan kepalanya sebagai tanda terimakasih sebelum si pemilik range rover abu-abu itu lenyap dari pandangan untuk kedua kalinya.

Setelah Mona berhasil masuk kedalam rumah, gadis itu mengambil ponselnya yang tadi tertinggal kemudian segera merebahkan tubuhnya di sofa depan ruang televisi, pikirannya menerawang jauh ke masa lalu, sepertinya nama Ares juga tak asing dari kepala Mona, tapi entahlah Mona tidak mau terlalu banyak berfikir lagi pula apa hubungannya juga jika memang mereka adalah orang yang sama.

Tangannya mulai mengetikan sesuatu di ponselnya kemudian suara seseorang menyapa Mona dari seberang sana.

"Pa.."

"Asalamualaikum Mona!"

"Waalaikum salam pa."

"Gitu dong sayang, kalau nelvon orang tua itu biasakan ucap salam dulu."

"Iya papa, maaf. Papa lagi apa ?"

"Ini baru pulang dari rumah sakit."

"Emangnya ada cito pa?"

"Iya tadi subuh, syukurlah masih bisa ketolong. Kamu gimana disana ? Om Reynaldi sudah ngasih tau apa pekerjaan kamu disana?".

"Udah pa, kok papa nggak ngasih tau Mona kalau dokter Rey punya cucu?".

"Ya itu kan ranah pribadi beliau sayang, papa gak bisa ngasih tau gitu aja dong".

"Tapi papa tau ?"

"Ya kurang lebihnya tau, terus gimana kondisi cucu beliau ?".

"Semakin membaik pa, cuma ya gitu harus ada operasi lagi. Jaringan kankernya masih keliatan walaupun sudah jinak".

"Syukurlah, semoga kamu bisa bantu ya. Papa percaya anak papa adalah dokter ortopedi terbaik".

"Jangan gitu dong pa, Mona nggak mau mendahului yang di atas"

"Bukan mendahului sayang, tapi optimis dengan kemampuan kita itu penting".

"Hem em, doain aja pa".

"Tentu".

"Yasudah, papa istirahat. Mona juga mau nyuci, udah numpuk banget. Bye pa".

"Asalamualaikum Mona".

"Iya ,wa'alaukum salam papa".

Mona mematikan panggilan itu terlebih dahulu sebelum dokter adi kembali menceramahinya perkara ucapan salam yang selalu saja Mona lupakan.

Dear tomorrowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang