"hung?" Aileen menatap Leva dengan tatapan bertanya, jangan lupakan sesenggukannya yang belum hilang.
"Sini Aileen, gue peluk" kata Leva sambil menepuk pahanya.
"Bo- hiks boleh? Na- Nanti Aileen berat"
"Gue hitung sampe tiga, kalo ga pindah ga bakal gue mau peluk peluk lagi. Satu.."
Ailen yang mendengar Leva mulai berhitung langsung loncat ke pangkuan Leva dan memeluk Leva erat, lalu kembali menangis.
Sementara Leva hanya terkekeh melihat kelakuan Aileen. Ia terlihat kecil dalam pelukan Leva. Leva mengusap rambut belakang Aileen untuk menenangkannya.
"Maaf ya?" Leva hanya mengatakan itu, tapi Aileen malah menangis lagi lebih keras dan lebih heboh.
"Ngebut jangan, Takut, Pukul pukul, hujan gelap gelap, jangan. Ileen takut, Ileen ga nakal, janji janji" Aileen terus mengoceh kata kata itu berulang ulang. Sepertinya Aileen benar benar memiliki trauma mendalam tentang ini.
"Iyaa Ailen ga nakal, ga ada apa apa, tenang ya?" Leva merasa agak panik sekarang, karena tiba tiba Leva merasa Aileen badannya panas, jadi cepat cepat leva memutuskan untuk menghidupkan mobilnya.
"Ngebut jangan" kata Aileen sambil menatap Leva dengan air mata yang masih menetes dan memegang erat kedua lengan Leva.
"Iyaa Aileen, gue ga ngebut, bobo dulu yaa" kata Leva dengan nada lembut, tanagan satunya ia gunakan untuk menyetir dan satunya lagi untuk mengelus punggung Aileen agar ia bisa lebih tenang.
Saat Leva mulai menjalankan mobilnya isakan Aileen kembali terdengar dalam pelukannya dan pegangan tangannya kembali mengerat.
Leva sontak memeluk Aileen dengan lebih erat agar Aileen tau, kalau Leva tetap ada dalam pelukannya dan dia aman bersama leva.
"Maaf ya Aileen" Leva terus menggumamkan kata maaf di telinga Aileen. Ia benar benar merasa bersalah pada Aileen. Ia pikir Aileen hanya bercanda tetapi ternyata Aileen sepertinya memiliki trauma besar terhadap itu.
Levana terus mengelus punggung Aileen hingga Aileen tertidur di pelukannya.
Saat sampai di alamat yang Aileen berikan, Leva disambut oleh satpam rumah yang berjaga disana. Saat Leva membuka kaca mobilnya dan satpam tersebut melihat Aileen berada di pelukannya, satpam tersebut langsung memberikan jalan pada Leva dan membiarkan mereka masuk ke dalam rumah tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, levana langsung menggendong Aileen tanpa membangunkannya. Bukanya terganggu karena Leva yang terus bergerak karena berjalan, Aileen justru malah mengeratkan pelukannya pada Leva.
Bahkan jika Leva melepaskan pegangannya pada Aileen, Aileen tidak akan jatuh dan tetap menggantung di badannya saking eratnya Aileen memeluk tubuhnya.
Baru saja Leva ingin mengetuk pintu, ada wanita paruh baya yang membuka pintu tersebut dan menatap Aileen dengan panik.
"Den Aileen kenapa non?" Sepertinya beliau adalah ART rumah Aileen.
"Ini tadi, saya bawa mobil ngebut karna saya ga tau dia ternyata punya trauma"
"Ya udah non, nanti aja ngobrolnya, den Aileen dibawa aja ke kamarnya non, biasanya kalo kaya gini dia ga mau di lepas pelukannya non"
"Iya, ini dia meluk saya bener bener eret banget ga bakal jatuh kalo saya ga pegang kayanya, kamar Aileen ada di sebelah mana ya?"
Wanita tersebut terkekeh mendengar jawaban Leva, lalu menunjukkan kamar Aileen dan meninggalkan mereka di ruang tamu.
Setelah di tunjukkan arah menuu kamar Aileen, Leva langsung membawa Aileen ke dalam kamarnya.
Sampai di dalam kamarnya, Levana terkejut melihat suasana kamarnya yang benar benar terlihat bersih dan rapi, tetapi Leva tidak heran dengan kamar yang seperti ini dan adanya seorang ART.
Levana mendekati kasur Queen size Aileen dan menundukkan sedikit badannya diatas kasur untuk melepaskan pelukan Aileen. Tetapi Aileen benar benar tidak meu melepaskan pelukannya dan malah mulai terisak kembali.
"Aileen.. stt gue di sini" kata Leva berbisik tepat di telinga Aileen sambil mengelus punggung Aileen, dan trik itu berhasil. Aileen tak lagi menangis.
Karena Aileen benar benar tidak mau lepaskan pelukannya, Leva terpaksa melepas paksa pelukan Aileen dan langsung menidurkannya diatas kasur.
Karena perlakuan Leva yang tiba tiba, Aileen langsung terbangun dan sudah bersiap untuk menangis. Tapi Leva dengan sigap langsung mengelus rambut Aileen sambil duduk di pinggiran kasur.
"Bobo di sini" kata Aileen sambil menepuk nepuk kasur di sebelahnya.
"Gue mau balik dulu Aileen, mau ngawas latihan buat tanding"
"Ga mau! Jangan tinggalin! Ga mau! Bobo!" Kata Aileen sambil menangis sesenggukan.
Ya, Leva benar benar kapok tidak ingin mengerjai Aileen lagi jika ujung ujungnya ia tak bisa pergi dari sini.
"Oke oke, gue tidur, tapi nanti malem gue pulang ya?"
"eung!" Jawab Aileen sambil mengucek matanya. Sebenarnya jawaban Aileen tidak membuatnya tenang karena ia menggeleng tapi meng-iya-kan.
Leva berjalan ke sisi kasur yang satunya dan menidurkan badannya disana.
"Jangan dikucek matanya, lanjut tidur dulu, gue di sini" kata Leva.
Namun setelah itu Aileen langsung naik ke atas badan Leva dan kembali tertidur diatas badannya dengan memeluknya se-erat tadi.
"Di maklumin ya non, Aileen biasanya kalau traumanya kumat cuma mau di peluk sama mamanya, dia juga ga mau di lepasin seharian. Tapi tadi bibi kaget liat Aileen malah meluk non erat banget sampe ga mau lepas kaya gini"
Jujur saja Leva kaget mendengar suara tiba tiba ART itu, ia juga merasa agak panik karena takut dianggap melecehkan Aileen. Tapi malah sebaliknya, ART tersebut memaklumi itu dan malah merasa heran Aileen mau memeluk orang lain.
"Bibi sudah telpon nyonya, katanya non kalo mau menginap disini ga masalah, karena nyonya ga bisa pulang malem ini"
"Ini Aileen bakal kaya gini sampe kapan ya bi?" Tanya Leva, bisa bisa badannya kaku karena posisi tidur yang seperti ini.
"Biasanya besok pagi, paling lambat 2 hari lagi" mendengar itu, Levana meringis dan berdoa dalam hati semoga Aileen sembuh besok pagi dan ia bisa meninggalkan Aileen sendirian.
"Ya udah, bibi tinggal dulu ya, kalo ada apa apa panggil bibi aja"
"Iya bi, terimakasih" setelah itu ART Aileen pergi dari kamar tersebut dan menutup pintu kamarnya.
ting
ting
ting
ting
bunyi notifikasi dari hp Leva tak ada habisnya. Dengan susah payah leva mengambil HP dari kantongnya dan membuka notifikasi yang ternyata berasal dari group tim basketnya.
Isinya mereka menanyakan posisi Leva karena latihan akan dimulai 10 menit lagi dan Levana belum datang ke tempat latihan.
Banyak juga anggota timnya yang melakukan chat pribadi dengan Leva dan melakukan spam chat juga spam call karena Leva tak kunjung menjawab chat mereka.
Leva bingung harus menjawab dengan bagaimana. Tidak mungkin ia menjawab sedang menemani Aileen jadi tidak bisa ikut latihan. Jadi Leva memilih untuk mengatakan kalau ia sedang menjaga adiknya yang sakit.
Ya Leva punya adik, namanya Aldric Myron Jericho, tetapi adiknya sedang berada di luar negri, Sedang berlibur. Untungnya tidak ada yang tau tentang hal itu. Jadi mereka percaya percaya saja.
Jangan lupakan chat group yang berisi Diva, Evans, dan Leva. Evans dan Diva juga memberikan spam chat pada Leva karena tidak ada kabar sejak tadi pagi.
Langsung saja Leva mengambil foto selfie dengan Aileen yang sedang memeluknya erat. Tak lupa juga Leva menyuruh mereka berdua untuk tidak menyebarkan foto tersebut kemanapun. Setelah itu Leva mematikan HPnya dan ikut pergi ke alam mimpinya
KAMU SEDANG MEMBACA
Mellifluous
Roman pour Adolescents"Lebih mending gue pura pura ga liat lo terus lanjut bareng dia, atau gue nyamperin lo?" "Ih! Samperin Aileen lah!! Ga boleh sama yang lain! Leva punya Aileen!" "Emang gue mau?" •───────•. ° ☾ .•───────• "Rasanya nyaman... Aman... Aileen suka d...
