Entah sudah berapa lama Aileen berada di dalam bilik kamar mandi sambil menangis. Biarkan saja Leva lama menunggunya Aileen tak peduli, toh juga Leva sudah tak peduli dengannya.
Tok! tok! tok!
Mendengar suara pintu bilik kamar mandinya di ketuk Aileen menghapus air matanya.
"Halo, ada orang? Lagi kenapa ya?"
Aileen membuka pintunya yang membuat orang tersebut terkejut, karena tiba tiba pintu kamar mandinya terbuka.
Pria paruh baya berdiri didepannya dengan tatapan kasihan, kaget dan bingung menatap Aileen yang sedang menangis.
"Astaga, dek mama kamu dimana? SMP kelas berapa kamu? Kenapa nangis disini? Kamu ketinggalan mama? Ayo ke resepsionis" kata orang itu panik sambil menggoyangkan bahu Aileen.
"Itu cuci muka dulu, kita ke resepsionis" kata bapak bapak tersebut sambil menarik lengan Aileen menuju wastafel.
"Adeknya bawa tisu?" Aileen menunjukkan saput tangan yang diberikan Leva padanya.
"Cuci dulu mukanya cepet, biar kamu ga keburu ditinggal"
Aileen menurut dan mencuci wajahnya di depan wastafel, jujur saja ia juga terkejut melihat wajahnya sendiri.
Matanya terlihat mulai membengkak dan merah hidungnya juga memerah dengan beberapa rambut depannya yang terlihat basah.
Setelah selesai mencuci wajahnya, dan terlihat sedikit lebih baik walaupun tidak benar benar terlihat baik, bapak bapak tersebut mengajak Aileen berjalan keluar dari toilet, dan bapak bapak tersebut berjalan lebih dulu meninggalkan Aileen yang sedang berkaca.
"Mba, resepsionis dimana ya? Saya nemuin anak SMP lagi nangis sekitar 30 menit dari tadi mba, kayanya ditinggal ibunya" kata Bapak tersebut menanyakan Leva yang sedang berdiri sambil bersandar pada troli berisi bahan bahan makanan yang mereka perlukan.
Memang Aileen sering menjadikan chat Leva sebagai tempat penitipan list barang yang harus di beli. Karena Lama menunggu Aileen di dalam, Leva berjalan lebih dulu mencari bahan bahan yang Aileen kirimkan padanya tadi.
Saat Leva selesai mengambil keperluan mereka, Leva kembali diam di depan toilet sambil menelpon dan mengirimkan banyak chat pada Aileen karena tak kunjung keluar dari toilet tersebut.
Setelah bapak bapak tersebut bertanya, Aileen keluar dari kamar mandi sambil menundukkan kepalanya.
Leva ingin tertawa saja rasanya melihat Aileen dengan bajunya yang berbalapan antara baju dalam dan kemeja Leva, menggunakan sandal kotor, dan wajah yang membengkak karena habis menangis.
"Pacar saya itu pak, ini saya dari tadi telponin dia ga dijawab jawab taunya masih di dalem" kata Leva sambil terkekeh pelan dan menunjukkan chatnya.
"Oalah nak! Bapak kaget banget dari baru masuk toilet dengerin orang nangis udah 30 menit bapak diem di sana kok ga keluar keluar gitu nak, bapak sampe ga jadi buang air kecil gara gara dengerin orang nangis, soalnya lagi marak berita orang depresi bunuh diri, bapak takut tiba tiba dijadiin saksi hukum nak"
Leva tertawa mendengar perkataan bapak tersebut yang bercerita dengan wajah seriusnya.
"Ini ada masalah sedikit tadi makanya saya kasi waktu dia buat sendiri dulu pak"
"Oalah gitu toh, yaudah deh sehat sehat terus kalian, kamu juga, jangan gitu lain kali, untung bapak ga ada riwayat jantung, kalo ada kabar bapak sekarang gimana coba" kata bapak tersebut sambil menatap Aileen, sementara Aileen menunduk sambil memegang saput tangan Leva ditangannya.
"Maaf ya pak mengganggu waktu bapak, udah bikin panik juga. Makasi banyak bapaknya udah mau bikin dia keluar toilet pak" kata Leva sambil tersenyum ramah, dan di balas senyuman ramah lalu menepuk bahu Leva beberapa kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mellifluous
Novela Juvenil"Lebih mending gue pura pura ga liat lo terus lanjut bareng dia, atau gue nyamperin lo?" "Ih! Samperin Aileen lah!! Ga boleh sama yang lain! Leva punya Aileen!" "Emang gue mau?" •───────•. ° ☾ .•───────• "Rasanya nyaman... Aman... Aileen suka d...
