SERENITY-8

180 72 262
                                        

Suara musik terdengar mendominasi suasana di ruangan itu. Untuk merayakan ulang tahun ketua geng mereka, anak Albatros membuat pesta kecil kecilan di markas. Shelter Albatros tepatnya.

Ruang gym yang biasanya digunakan untuk latihan itu disulap menjadi ruang pesta dengan tembok kaca yang menghubungkan dengan kolam renang dibuka lebar-lebar.

"Tambah tua aja lo, Gi." Kavin menepuk bahu Gio pelan. Dalam Albatros, cowok ini berperan sebagai informan. Terlebih dengan kemampuannya dalam bermain komputer yang tak lagi diragukan. Umurnya sembilan belas tahun dan saat ini menyandang status sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Teknologi.

Gio hanya tersenyum sebagai respon. Cowok itu meraih jus miliknya di atas meja lantas meneguknya. Ia menatap anak Albatros lain yang tengah bersenang- senang sambil bercanda ria di seberang kolam sana.

"Lo pernah mikir nggak? Kalau Albatros makin lama makin berhubungan erat sama kita?" Pertanyaan itu dilontarkan oleh Kavin setelah cowok itu menatap ke arah yang sama dengan Gio.

"Karena Albatros itu bukan hanya sekedar nama, Kav. Albatros itu keluarga bagi gue. Sebagai bagian dari Albatros seharusnya lo juga ngerasain itu," balas Gio sembari mengalihkan pandangannya pada Kavin.

Adilta Kavin ini bergabung dengan Albatros satu tahun lebih lama daripada Gio. Dan Gio adalah ketua Albatros kesepuluh. Dan dari kesepuluh turunan ketua Albatros tersebut,yang membawa Albatros menuju masa terang dari masa temaram adalah Gio dan ketua Albatros periode sebelumnya. Ketua Albatros ke sembilan. Entah bagaimana kabarnya sekarang. Sejak memberikan posisinya pada Gio, cowok itu tak pernah menampakkan batang hidungnya.

Memang. Dahulu, Albatros adalah geng ugal-ugalan yang terpandang buruk oleh masyarakat. Berandal dan suka membuat masalah di manapun mereka berada sebelum akhirnya bertemu dengan ketua yang baik yang membawa Albatros kepada masa baru. Masa yang lebih baik dari sebelumnya. Yang dulunya terpandang buruk kini terpandang lebih dari sekedar kata baik.

"Sakra!" panggil Gio pada kawannya itu.

"Apa?"

"Arslan mana?" tanya Gio. Ia mencari keberadaan si pemilik nama itu. Namun ia tak melihatnya di sekitarnya.

"Mana gue tahu! Tanya aja sono sama mbah gue!" Kavin yang mendengar jawaban dari Sakra itu kontan mengerutkan keningnya heran. "Mbah lo? Siapa? Mbah Sugiono?" tebaknya asal yang justru membuat tawa di tepian kolam itu pecah. Termasuk Gio. Kavin ini, kalau bicara suka melantur. Sedikit tak berfikir dua kali kedepan. Sebelas dua belasan dengan Sakra.

Lain halnya dengan Sakra yang menampilkan wajah datarnya, sejenak kemudian ia berdecak pelan. "Mbah lo itu Sugiono!" balasnya.

Kavin tak peduli. Cowok itu hanya memeletkan lidahnya lalu meneguk jus miliknya.

"Mbah gue itu, orang yang paling pinter sedunia! Nggak ada yang bisa ngalahin! Lo tandingin tu Albert Einstein atau Isac Newton sama mbah gue! Pasti kalah!" Sakra berujar sembari menunjukkan wajah sombongnya.

Gio dan Kavin saling tatap satu sama lain. Tak mengerti dengan apa yang Sakra lanturkan. Anak Albatros yang mendengarpun sama halnya saling tatap satu sama lain.

"Isac Newton liat apel jatuh dari pohonnya lalu mencetuskan teori hukum Newton. Albert Einstein bapak fisika. Lah mbah gue, dia si paling tahu segalanya!" lanjut Sakra dengan raut wajah bangga yang dibuat-buat.

Gio tertawa pelan. Sepertinya ia tahu siapa yang Sakra maksud. "Mbah Google maksud lo?" tebaknya dengan sisa tawanya yang langsung diacungi dua jempol kanan kiri oleh Sakra. "Benar sekali! Silahkan ambil hadiah anda. Dipotong pajak ya!"

Sekali lagi anak Albatros tertawa.

"Lah? Apa hubungannya mbah google sama Arslan?" tanya Kavin heran.

SERENITY (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang