"Kondisi Lisa sangat tidak memungkinkan," kalimat Dokter Kang sangat mengecewakan Gongyo. Kini pria itu menatap Dokter Kang sendu.
"Apa harapan hidup putriku sekecil itu?" pertanyaan Gongyo membuat Jennie membulatkan matanya. Tak ia sangka ayahnya akan mengatakan hal seperti itu.
"Bukan begitu maksudku tuan. Hanya saja-"
"Putriku hanya ingin ke pantai. Bahkan tidak ada yang tahu jika putriku mati besok. Apakah sesulit itu Dokter Kang?" Dokter Kang kini menatap pria dihadapannya salah tingkah. Ia bingung harus berkata seperti apa. Jika ia salah bicara, mungkin kariernya akan terancam.
"Appa, jangan memperlakukan Lisa seperti ia akan mati besok," sungguh Jennie sakit hati dengan kalimat ayahnya. Ayahnya seolah bertingkah bahwa hidup Lisa tak lagi panjang.
"Jennie-ya, dia hanya ingin ke pantai. Dia melakukan apapun untuk kita, sedangkan kita?" entah apa yang membuat Gongyo begitu teguh dengan keinginannya, namun Jennie sangat tidak menyukainya.
"Arasseo. Aku akan memberikan beberapa obat dan peralatan yang harus dibawa selama di pantai," saut Dokter Kang yang kini menengahi mereka berdua. Keinginan Gongyo terdengar mutlak. Kini tugas Dokter Kang adalah mendukung Gongyo sebelum pria itu murka dan melakukan hal diluar nalar.
"Tapi Dok-"
"Gwenchana, Jennie-ya. Selama minum obat teratur dan bisa menjaga diri, semua akan baik-baik saja. Lagipula ada kau," potong Dokter Kang pada Jennie. Walaupun dokter itu khawatir dengan kondisi Lisa, namun ia juga memperdulikan kariernya.
■
Lisa menatap satu-persatu keluarganya dengan tatapan gembira bukan main. Tak ia sangka, keinginannya akan terkabul secepat ini. Beberapa jam yang lalu Gongyo memberi tahu Lisa jika mereka akan ke pantai. Tidak main-main dengan tekadnya, setelah melakukan check up mereka langsung berangkat.
"Lisa-ya, kau seperti orang kasmaran. Pria mana yang mencuri hatimu?" goda Rosè sembari mencolek pipi adiknya. Selama Rosè bersama Lisa, ia lebih sering menggoda gadis itu, berbeda dengan Jennie.
"Berhenti menggodaku disaat kau sedang melakukan pendekatan dengan Eunwoo," kalimat Lisa membuat Rosè membulatkan matanya sempurna. Bahkan pipi gadis itu memerah saat ini. Sebenarnya Lisa sudah menyadarinya sejak pertemuan pertama mereka. Hanya saja gadis itu memilih untuk diam.
"Darimana kau tahu?" tanya Rosè yang membuat Lisa mengangkat sebelah alisnya.
"Aku tahu semua informasi anak buahku," jawab Lisa membuat Rosè menggeleng heran. Sebenarnya Eunwoo dan Rosè baru memasuki tahap pendekatan belakangan ini. Mereka bisa menjadi dekat karena Eunwoolah yang membantu Rosè untuk mendapat informasi mengenai Lisa.
"Sebentar lagi kita sampai," ucap Jennie sembari mengambil sebotol mineral dan obat-obatan untuk diberikan pada adik bungsunya.
Dengan sekali teguk, Lisa menelan habis obat-obatan pemberian Jennie. Setelah mobil terparkir sempurna, kini Jisoo mengambil kursi roda yang ada dibagasi mobil.
"Aku tidak lumpuh," ucap Lisa ketus membuat kakak-kakaknya menghembuskan nafas pasrah.
Kini Seisi keluarga Kim melotot kaget tatkala tiba-tiba Lisa langsung berlarian kearah pantai tanpa aba-aba. Tentu saja seisi keluarga Kim berhasil dibuat panik.
"YA! ANAK NAKAL, JANGAN BERLARIAN!" teriak Jisoo sembari mengejar Lisa dari belakang. Gongyo hanya bisa terkekeh menyaksikan pemandangan dihadapannya. Setelah puas berlarian, kini Lisa mulai menyipratkan air hingga pakaiannya dan kakak-kakaknya basah.
"LISA! AKU TIDAK BAWA BAJU GANTI!" pekik Rosè kesal sembari terus mencipratkan air pada adiknya.
"Aku tidak peduli,", jawab Lisa sembari menjulurkan lidahnya.
Jisoo kini memeluk tubuh Lisa dari belakang dan mencubit pipi adiknya gemas, "Kau sudah mulai berani dengan kakak-kakakmu, ne?"
Setelah mengatakan itu, Jisoo memberi kode pada Jennie dan Rosè yang langsung dapat dipahami oleh kedua gadis itu. Dengan erat, Jisoo memegangi tubuh Lisa hingga tak dapat bergerak. Saat itu juga Rosè dan Jennie mulai menggelitiki adiknya hingga tubuh mereka benar-benar basah kuyup.
Setelah puas menggelitiki adiknya, kini mereka memutuskan untuk menepi dan menikmati sunset. Anak buah Gongyo datang sembari memberikan mereka berempat handuk.
"Hari ini pantai sangat sepi," ujar Lisa membuka percakapan.
"Appa menyewa pantai ini," saut Rosè santai. Lisa hanya bisa menghembuskan nafas panjang mendengar penuturan kakaknya. Gongyo memang suka melakukan hal diluar nalar jika berhubungan dengan putri-putrinya.
"Apa kau bahagia?" tanya Jennie membuat Lisa terdiam sejenak.
"Aku bahagia dan sedih secara bersamaan," jawaban Lisa membuat ketiga kakaknya mengalihkan atensi mereka penuh pada Lisa.
"Aku bahagia sampai berharap waktu bisa berhenti pada momen ini," kini Lisa mendongakkan kepalanya sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Aku sedih karena waktu tidak dapat benar-benar berhenti. Entah apakah aku bisa memiliki cukup waktu untuk mengulang momen ini atau tidak," Rosè yang berada disamping Lisa sontak langsung menggelengkan kepalanya.
"Bahkan kau masih memiliki seribu kesempatan untuk mengulang momen ini."
■
Gongyo sudah menyewa penginapan untuk putri-putrinya bilas. Mereka memutuskan untuk pulang lebih larut untuk menikmati deburan ombak. Namun ditengah kegembiraan mereka, tiba-tiba Lisa izin untuk pergi ke toilet. Rosèpun menemani adiknya pergi ke toilet walaupun Lisa sempat menolaknya.
Tapi Rosè merasa ada yang janggal, sudah setengah jam sejak Lisa berada di toilet dan sampai saat ini belum juga keluar. Tentu hal itu membuat dirinya gusar. Saat hendak mengetuk bilik pintu adiknya, tiba-tiba pintu terbuka.
"Kau sangat lama, aku sampai khawatir," ucap Rosè sembari merangkul pundak adiknya. Lisa hanya membalasnya dengan senyum singkat. Saat hendak menggandeng tangan adiknya, secara tidak sengaja gadis blonde itu menemukan setitik darah dari ujung bibir adiknya. Seketika Rosè mengerti alasan mengapa adiknya sangat lama didalam toilet. Hati Rosè seperti dihantam oleh besi yang sangat tajam saat mengetahui hal itu.
Namun Lisa berhasil dibuat terkejut tatkala tiba-tiba Rosè berjongkok dihadapannya, "Naiklah."
Lisa yang merasa aneh dengan sikap kakaknya sontak terdiam, "Naiklah, bukankah dulu kau pernah mengatakan jika ingin jadi wonder woman?"
Lisa terkekeh mendengar kalimat kakaknya. Iapun langsung naik kepunggung kakaknya sembari menempelkan dagunya pada pundak Rosè.
"Unnie.." panggil Lisa membuat Rosè refleks menghapus air matanya.
"Ne?" jawab Rosè yang berusaha menstabilkan suaranya.
"Aku lelah," kalimat Lisa membuat isak tangis Rosè semakin tak tertahan.
"Ada unnie disini. Kau bisa bersandar pada unnie jika lelah," kalimat Rosè mengundang senyum manis dari Lisa.
"Bukankah manusia selalu datang dan pergi?" tanya Lisa membuat Rosè sontak tiba-tiba berhenti ditempatnya.
"Lantas kita akan pergi bersama."
Note
Tetap trobos walau ngantuk menghantui 🧍♀️ Semoga feelnya kerasa ya...
KAMU SEDANG MEMBACA
Home?
FanfictionKim Lisa, perempuan berdarah bangsawan yang terpaksa kehilangan segalanya karena bakat yang ia miliki. Demi melindungi keluarganya, Lisa tumbuh menjadi manusia berhati dingin. Lisa rela melakukan apapun untuk mencapai tujuannya, bahkan dengan tumpah...
