Awalnya Noeul terkejut karena Boss mengetahui nomornya. Pria dengan kekuasaan mungkin memang seperti itu, pikirnya. Dengan mudah mendapatkan segalanya. Tapi kenapa? Kalau Boss hanya berfikir untuk bercinta dengannya, kenapa dia harus susah payah mencari nomornya?
Dan hari ini ketika Boss mengatakan bahwa dia ingin berteman dengan Noeul, tanpa mengatakan hal aneh-aneh sebelumnya. Atau ini adalah salah satu tipu muslihatnya karena Noeul selalu menolaknya? Bahkan beberapa hari yang lalu, mereka terus berkirim pesan dan menelpon sampai larut malam sampai salah satu dari mereka tertidur - Fort tidak tahu tentang ini, kalau dia tahu, Fort pasti sudah menyuruh Noeul untuk mengganti nomornya. Tapi sudah beberapa hari juga Boss belum menghubunginya. Tapi mengapa Noeul menghabiskan waktunya memikirkan alasan Boss yang belum menghubunginya? Apa yang salah dengan dirinya?
Noeul menghela nafas, tangannya menjambak rambutnya frustrasi. Sambil memandang jam besar di dinding, si brunet merasakan kelegaan menyelimutinya karena melihat shiftnya akan berakhir dua puluh menit lagi. Syukurlah.
Hari ini, yang mengejutkan, rekan kerja Noeul tidak memerintahnya seperti biasa, meskipun mereka masih mengolok-oloknya, sambil terkikik-kikik di belakang punggungnya seperti gadis remaja. Noeul tidak bisa mengerti bagaimana mereka bisa disebut dewasa, ketika mereka seharusnya menjadi contoh yang baik pada yang lebih muda. Noeul merasa mereka hanyalah sekumpulan anak laki-laki dalam tubuh orang dewasa.
" Noeul, nomor empat! ". Sang koki mengatakan sambil menunjuk ke beberapa sup dengan banyak sayuran, membuat Noeul keluar dari pikirannya. Pramusaji itu mengangguk dan mengambil sup itu di tangannya, menggenggam sepasang sumpit dan sendok yang dibungkus tisu dari dapur, kakinya berjalan ke arah meja nomor empat, yaitu di dekat jendela.
Di belakang meja, ada seorang wanita setengah baya duduk dengan kaki bersilang, kukunya yang dicat merah muda mengetuk meja. Noeul telah bekerja sebagai pelayan lumayan lama, dan dia bisa melihat pelanggan mana yang suka menyebabkan masalah atas perkara sepele, dan wanita ini adalah salah satunya.
" Sup anda, nyonya. Selamat menikmati ", ucap Noeul sambil menempatkan sup bersama set sendok garpu di depan wanita itu, memberinya senyum sopan. " Apa anda ingin yang lain? "
" Nggak, kamu bisa pergi ". Ia mengabaikan Noeul dengan suara keras dan mengusirnya seperti anjing. Hati Noeul memanas, rasanya ingin membunuh wanita di depannya ini, tapi ia meredamnya dengan membungkuk, sambil tersenyum -meskipun tidak terlihat- dan berbalik pergi. " Tunggu! ". Wanita itu bersuara lagi, dan Noeul berbalik, dengan senyum palsu kembali ke wajahnya. " Berapa banyak kalori yang ada di makanan ini? "
'Apa-apaan ini?' pikir Noeul, sebelum ia berbicara, " Saya minta maaf, tapi saya tidak tahu, nyonya "
" Kenapa kamu nggak tahu? Kan kamu kerja disini? ". Wanita itu bertanya dengan alis yang mengernyit merendahkan.
Bukannya sombong, tapi Noeul adalah salah satu pelayan terbaik di restoran ini, selalu tahu apa yang harus direkomendasikan ketika orang bertanya tentang apa yang harus mereka pesan, dan selalu mendapat komentar bagus dari pelanggan. Dia tahu setiap makanan dan minuman yang mereka jual di restoran ini, dia tahu berapa harganya tanpa melihat menu, dan apa saja bahan yang bisa menyebabkan alergi. Tapi dia tidak tahu berapa banyak kalori yang ada dalam makanan itu. Maaf, dia bukan ahli gizi.
" Baiklah, saya akan carikan di inter- "
" Nggak perlu. Jika saya harus menunggu kamu untuk datang kembali dengan informasi, makanan ini sudah dingin, melihat berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk membawanya kesini ".
Wanita itu mendengus, dan Noeul harus sangat menahan dirinya agar tidak melompat ke arahnya dan membuang makanan di wajah wanita kurang ajar itu. Pandangan yang ia layangkan tanpa ragu mengatakan bahwa dia jauh lebih dari Noeul, seolah-olah perbedaan sosial mereka sudah jelas dengan pakaian mahal dan perhiasan yang ia kenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)
FanfictionSetiap orang di sekitar Boss selalu mengatakan bahwa cinta itu ada di sekitar kita, dan kita akan menemukannya, tapi mereka semua salah! Satu-satunya yang Boss temui adalah bajingan pendek yang menabrak Boss di suatu pagi dan menumpahkan kopinya saa...
