Boss memutuskan untuk menghabiskan malam bersama Noeul, tidak ingin meninggalkan kekasihnya hari ini. Tidak ada masalah dengan dia menginap, karena dia sudah memiliki pakaian cadangan di apartemen Noeul, dan tempat kerjanya juga lebih dekat sehingga dia tidak membutuhkan mobilnya untuk sampai ke sana. Dan jika pada akhirnya mereka akan mengalami masalah ke depannya, Boss akan memilih untuk bermalam di sini karena dia tahu Noeul membutuhkan kehadirannya sekarang. Emosi si brunet sedang berantakan.
Perjalanan pulang ke apart sebagian besar dihabiskan dalam keheningan karena keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, namun keduanya terus menempel sepanjang jalan. Boss hanya bisa membayangkan bagaimana khawatirnya Noeul tentang hasil dari berbagai hal, sementara sang CEO memikirkan apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kehilangan Noeul tidak ada dalam daftar kemungkinan, dan dia bertekad untuk bicara dengan ayahnya tentang masalah hubungannya dengan Noeul besok. Namun, dia membutuhkan argumen yang baik, bukan hanya sikap marah dan umpatan ketika dia berbicara dengan pria tua itu. Dia perlu memikirkan semuanya, dan akan jadi pertarungan yang sengit karena ayahnya punya segudang alasan yang akan ia gunakan. Boss sudah bisa membayangkannya, tetapi jika pilihan lain adalah membiarkan Noeul pergi maka dia lebih suka berdebat dengan ayahnya daripada kehilangan si brunet.
Boss bertanya-tanya bagaimana dia bisa berubah begitu banyak setelah hanya beberapa bulan dengan Noeul. Baru saja dia sepenuhnya sadar jika Noeul membuatnya lebih berani dan menjadi orang yang lebih baik. Beberapa bulan yang lalu, dia tidak akan berpikir dua kali sebelum memecat salah satu karyawannya karena tidak bekerja tepat waktu, tetapi mengingat kata-kata Noeul 'kamu nggak tahu apa yang sedang dialami orang itu, mungkin ada keadaan yang sangat buruk yang harus diselesaikan'. Waktu itu Boss memastikan untuk bertanya mengapa karyawannya sangat terlambat beberapa hari terakhir. Pada akhirnya, dia mengetahui bahwa ibu karyawannya sakit dan dia perlu berada di sana untuk memastikan ibunya meminum obat paginya. Tanpa Noeul dalam hidupnya, dia mungkin tidak akan bertanya. Noeul memiliki dampak yang sangat besar pada pola pikirannya.
Sejujurnya, Boss tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Noeul lagi di dalamnya. Malam-malam malas mereka dihabiskan bersama di ranjang kecil Noeul, pertengkaran bodoh mereka tentang film, tawa mereka tentang acara tv konyol... itu semua akan hilang jika Boss belum siap untuk mendebat ayahnya dan dia benar-benar tidak akan bisa menghadapinya. Dirinya dan Noeul mungkin tidak punya banyak waktu untuk satu sama lain, tetapi potongan-potongan kenangan di sana-sini cukup untuk Boss, bayangan untuk melihat Noeul sepulang kerja membuatnya bekerja lebih keras dan lebih cepat. Bahkan jika Boss hanya bisa melihat kekasihnya beberapa menit, mengobrol cepat tentang teh atau kopi atau jus yang sangat disukai Noeul, Boss sangat menghargai momen-momen itu. Dia menghargainya karena hal-hal terkecil pun terasa istimewa dengan Noeul.
" Apa kamu mau mandi dulu, atau haruskah aku duluan? ", Noeul bertanya dengan tenang ketika mereka akhirnya melangkah ke apartemen kecil si brunet, membuat Boss tersadar dari pikirannya. Boss melihat Noeul yang tidak menatapnya, malah menatap ke tanah seolah-olah dia takut melihat Boss. Sang CEO tidak menyukainya sedikit pun.
" Kamu pergi dulu " kata Boss sambil melepas sepatunya. Ketika Noeul melakukan hal yang sama, sang CEO mencoba menangkap matanya tetapi tidak berhasil, Noeul sangat pandai menghindari permainan ini. Merasakan jantungnya mengepal, Boss menggigit bibirnya sambil bertanya-tanya apa yang bisa dia katakan untuk membuat Noeul merasa lebih baik karena dia benar-benar benci melihat kekasihnya begitu khawatir. Dia ingin memberitahu Noeul untuk berhenti memikirkan ayahnya, dia ingin memberitahunya untuk berhenti khawatir karena Boss yang akan mengurusnya, dia ingin memberitahunya bahwa dia akan melakukan apa saja untuk melindungi Noeul dan semua orang yang dipedulikan si brunet. Namun, satu-satunya hal yang keluar dari mulutnya pada akhirnya adalah, " Tenangkan dirimu. Kamu nggak perlu terburu-buru "
KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)
FanfictionSetiap orang di sekitar Boss selalu mengatakan bahwa cinta itu ada di sekitar kita, dan kita akan menemukannya, tapi mereka semua salah! Satu-satunya yang Boss temui adalah bajingan pendek yang menabrak Boss di suatu pagi dan menumpahkan kopinya saa...
