" Terima kasih tuhan, kamu akhirnya di sini! " Fort menghembuskan nafas keras dan menutup matanya, lega karena akhirnya Boss menampakkan batang hidungnya. Ia hampir kehilangan harapan terakhir.
Mengapa demikian? Awalnya Fort hanya mengobrol dengan Peat sepanjang waktu di sudut ruangan dan belum melihat bahwa Boss tidak ada di acara mereka. Dan ketika orang-orang mulai bertanya tentang keberadaan Boss hampir tiap lima menit, Fort mulai sadar bahwa sang CEO tidak ada disana, dimana hal tersebut juga mulai merusak percakapan antara Fort dan Peat hingga Fort memutuskan untuk menelepon sahabatnya.
Saat Fort akhirnya tahu kalau sudah beberapa jam Boss tidak ada di pesta dan pria itu bahkan tidak sadar jika dia harus berada di sana sepanjang waktu, sebagai wajah dari perusahaan dan tidak hanya muncul selama sepuluh menit lalu pulang, dia segera panik, takut Boss tidak akan berhasil memberikan sambutan dan Fort lah yang harus menggantikannya, karena merupakan orang kedua yang bertanggung jawab. Masalahnya dia tidak menyiapkan apa-apa.
Untungnya, lima belas menit setelah Fort berbicara dengan Boss di telepon, pria itu muncul, tanpa cacat, dan detak jantung Fort mulai kembali normal.
" Santai, Fort ". Boss menepuk pundak sahabatnya setelah dia melepas mantel dan menyerahkannya pada salah satu pelayan yang berdiri di dekat pintu, bertingkah seolah dia tidak memberikan serangan jantung pada Fort.
" Dari mana saja kamu? ". Fort mendesis dan menyingkirkan tangan Boss, tersenyum seakan semuanya baik-baik saja saat para tamu lain melirik ke arahnya. Mereka berjalan bersama ke meja di mana makanan disajikan, Fort sangat membutuhkan makanan manis untuk menenangkan dirinya.
" Mencoba untuk berkencan dengan Noeul, tapi kamu menelepon dan merusaknya ". Boss menuduh Fort dan cemberut. Fort menatapnya dengan alis terangkat sambil memilih apa yang akan dimakan, terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan temannya.
" Apa maksudmu? ", tanya Fort, belum sadar apa yang ia dengar.
" Persis apa yang aku bilang tadi ". Boss juga mengambil piring, mengawasi makanan yang ditawarkan. Dia sangat lapar dan segala sesuatu di atas meja terlihat benar-benar lezat, dan itulah masalahnya. Bagaimana dia akan memilih ketika ada begitu banyak makanan yang ia sukai?
" Dia nggak akan mau kencan denganmu ", ucap Fort simpel. Pernyataan itu membuat Boss merasa sedikit gelisah karena sahabatnya terdengar begitu yakin tentang hal itu, dan itu membuat Boss mempertanyakan kemampuan merayunya. Bukankah seharusnya Fort menjadi teman terbaik Boss? Dia harus menghiburnya daripada merusak rencana dengan komentar jahatnya.
" Mau bertaruh? ", tantang Boss dengan seringai yang seharusnya menyembunyikan ketidakamanan, tapi Fort tidak peduli karena matanya masih berbinar menatap makanan manis di atas meja. Jika saja ia melihat saat Boss mengucapkan hal itu, Fort sudah yakin itu hanya omong kosong.
" Huh, apa? "
" Ayo taruhan kalau aku bisa membuatnya tidur denganku dalam dua minggu ". Fort akhirnya berpaling, menatap mata Boss dengan begitu kuatnya sampai-sampai Boss ingin lari, membenci bagaimana mata itu tampaknya menatap langsung ke dalam jiwanya. Keheningan antara mereka mulai terbentang, dan Boss tidak yakin apa yang Fort fikirkan, tapi saling memandang dalam diam membuatnya sedikit tidak nyaman.
" Nggak! ", ucap Fort setelah diam sekian lama, menggelengkan kepalanya karena ide bodoh Boss.
" Kenapa nggak? Takut kamu akan kalah? "
" Sebenarnya aku yakin aku akan menang, tapi dengan taruhan yang kekanak-kanakan pada salah satu teman baikku bukanlah sesuatu yang bisa aku setujui " jawab Fort sambil mengernyitkan alisnya, nada suaranya hampir marah. Boss tahu bagaimana Fort melindungi teman-temannya, dan tiba-tiba dia merasa begitu bodoh karena menyuarakan ide tentang taruhan. Tentu saja Fort tidak akan setuju.
KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)
Fan-FictionSetiap orang di sekitar Boss selalu mengatakan bahwa cinta itu ada di sekitar kita, dan kita akan menemukannya, tapi mereka semua salah! Satu-satunya yang Boss temui adalah bajingan pendek yang menabrak Boss di suatu pagi dan menumpahkan kopinya saa...
