Ketika Noeul tiba-tiba pingsan, semua orang mulai panik, terutama First dan Fort. Untungnya, Ja ada di sana untuk menenangkan mereka dan berpikir rasional. Sementara First sedang menggendong Noeul dan memohon sahabatnya untuk bangun dan Fort sibuk dengan melakukan hal yang sama tapi bukannya berbisik, dia malah berteriak pada pria malang yang tidak sadar yang bahkan tidak mendengarnya, Ja mulai meminta orang untuk memanggil ambulans.
Salah satu pelanggan mendatangi mereka, mengatakan bahwa dia seorang dokter dan segera memeriksa Noeul. First dan Fort diseret oleh sang koki saat pria berusia akhir lima puluhan tersebut duduk di samping Noeul, memeriksa denyut nadi, napas dan suhunya.
Seluruh restoran sedang menonton kejadian itu, berbisik sambil bertanya-tanya satu sama lain apa alasan si pelayan bisa pingsan, sementara dokter masih menepuk-nepuk pipi Noeul perlahan, mencoba untuk menyadarkan. Ja menyuruh First dan Fort untuk tidak menghalangi sang dokter melakukan tugasnya, sedangkan Boss ditinggalkan sendirian di antara kerumunan pelanggan yang penasaran. Dia hanya berdiri di sana dan menyaksikan dada Noeul yang naik turun lebih cepat daripada orang normal, hatinya sakit melihat wajah pucat Noeul.
" Apa pria ini mengeluhkan tubuhnya yang tidak sehat akhir-akhir ini? ", tanya dokter.
" Dia sakit sejak hari Senin ", ucap First buru-buru menggigit kukunya karena gugup.
Senin? Boss bertanya pada dirinya sendiri dalam pikirannya. Sembari mengepalkan tinjunya, Boss mencoba untuk tidak merasa bersalah, mengatakan pada dirinya sendiri bahwa Noeul yang terkena flu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Bagaimana dia bisa bertanggung jawab untuk sesuatu seperti ini?
" Bisakah anda memberi saya penjelasan yang lebih terperinci mengenai kondisinya baru-baru ini? "
" Uhm... Dia terlihat sangat lelah dan.. Aku tidak tahu, aku- "
Ja mengusap punggung tangan First, memberi isyarat kepadanya untuk berhenti bicara dan kekasihnya mengangguk. Kemudian, sang koki berlutut di samping dokter dan mulai berbicara dengan tenang, " Ia memiliki dua pekerjaan paruh waktu dan bekerja lembur semalaman di tempat kerjanya yang kedua, sehingga ia tidak punya banyak waktu untuk tidur. Sejak Senin, dia sudah demam, tapi dia menolak untuk cuti seharipun "
" Oh.. Begitu " dokter mengangguk. " Apakah ia sering sakit? "
" Sekali atau dua kali setahun " Ja menjawab pertanyaan berikutnya dengan mudah.
" Apakah dia pernah pingsan sebelumnya? "
" Tidak pernah "
" Ada problem kesehatan yang serius? "
" Tidak "
" Apakah ia pernah berada dalam situasi tertekan akhir-akhir ini? "
" Beberapa kali "
Boss hanya menyaksikan percakapan di depannya dengan mata dan mulut terbuka lebar, tidak percaya bagaimana halus dan tenangnya Ja. Kebalikan total dari dua orang di belakangnya yang mungkin berpikir bahwa Noeul sudah sekarat. Kekhawatiran Ja terasa jelas di matanya, tetapi suaranya mantap. Dia tahu bahwa panik tidak akan menyelesaikan apa-apa, dan Boss mengagumi sang koki untuk menjadi yang paling pintar diantara mereka.
Saat sang dokter membuka mulutnya, mungkin untuk mengajukan pertanyaan lain, Noeul mengeluarkan rengekan kesakitan yang menarik perhatian semua orang. Restoran tersebut menjadi hening karena setiap orang menyaksikan Noeul was-was dan menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Perlahan, Noeul membuka matanya dan memutar kepalanya ke kanan. Meskipun matanya terbuka, dia tampaknya tidak sepenuhnya terjaga. Noeul terlihat lebih seperti dia mimpi di siang hari. First langsung hendak menceramahi Noeul begitu tahu sahabatnya sudah sadar. " Noeul, kamu- "
KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)
FanfictionSetiap orang di sekitar Boss selalu mengatakan bahwa cinta itu ada di sekitar kita, dan kita akan menemukannya, tapi mereka semua salah! Satu-satunya yang Boss temui adalah bajingan pendek yang menabrak Boss di suatu pagi dan menumpahkan kopinya saa...
