" Apa kamu mau mandi? ", tanya Boss, melihat Noeul yang mulai menggeliat diatas kasur karena tubuh mereka yang berkeringat.
" Bersama? ", tanya Noeul kembali, tapi sebelum Boss bisa mengatakan ya, si brunet mendengus, melirik kekasihnya. " Apa kamu bisa menjaga tanganmu? "
" Nggak. Aku sangat ingin melakukannya lagi... ", Boss berhenti, menggigit bahu Noeul dan menjilatinya tepat setelahnya, bagaimana aroma kuat Noeul yang memabukkan mengenai hidungnya. " Tapi aku juga lelah ", ucapnya sambil mencium bahu dan tulang selangka Noeul. " Dan juga aku nggak mau membiarkanmu pergi "
" Aku ada di rumah yang entah berantah dan tumitku sakit, bagaimana mungkin aku bisa melarikan diri ", canda Noeul, jemarinya mengacak-acak rambut hitam Boss.
" Sayang sekali, kamu harus tinggal bersamaku kalau gitu ", jawab Boss, tersenyum sebelum mencium bagian lain dari kulit Noeul.
Noeul tersenyum mendengar celotehan kekasihnya. " Iya, sayang sekali ", lalu menyetujui, menutup matanya dan menghembuskan napas gemetar saat Boss mengisap tulang selangkanya. " Aku harus tinggal bersamamu beberapa hari lagi "
" Kamu pasti sangat ingin pergi, kan? ", ucap Boss sambil meninggalkan cupang lain tepat di bawah tulang selangka Noeul, membuatnya mengerang lagi, dan Boss bersumpah bahwa jika dia tidak terlalu lelah, kemungkinan besar dia akan memyerang Noeul lagi, membuat si brunet berteriak lebih keras dari sebelumnya. Persetan staminanya!
" Tentu saja ", Noeul mengangguk, matanya terpejam karena pikirannya hanya terfokus pada mulut dan sentuhan Boss.
Bibir Boss meninggalkan kulit Noeul sesaat setelah erangan ketiga keluar dari bibir si brunet, dan Boss terkekeh melihat rengekan kekasihnya disertai dengan gusar yang tidak puas. " Ini karena staminamu yang buruk! ", gumam Noeul, mengerutkan kening.
" Bukan itu yang kamu katakan beberapa menit yang lalu, tapi ya memang. Aku kurang tidur, jadi.. Ya ". Boss menarik diri, meraih tangan Noeul dan membuat si brunet duduk. " Ayo mandi ", kata yang lebih tinggi, menarik tangan Noeul untuk membuat laki-laki pemarah itu berdiri dan mengikutinya ke kamar mandi. Dengan sumpah serapah yang lain, Noeul menurut dan bangkit dari tempat tidur, beberapa langkah pertama yang sulit, yang memberi Boss ruang untuk berkomentar, " Bisakah kamu mengulangi kalau memang staminaku buruk? Karena tubuhmu sepertinya ingin memprotes ", guraunya.
" Ini karena tubuh besarmu dan kamu hampir menghancurkanku menjadi dua, jadi ini bukan tentang aku yang sakit tapi tentang kamu yang mematahkan punggungku "
" Kamu nggak mengeluh tadi "
" Sekarang ya "
" Kasihan banget ". Boss menyeret Noeul ke kamar mandi, menuju bak mandi besar dan melepaskan tangan Noeul untuk memeriksa suhu air dengan benar. Setelahnya Boss tersenyum dan mengisyaratkan untuk masuk ke bak mandi. " Ayo, masuk ", ajak Boss.
" Kamu duluan ", jawab Noeul. Boss menghela nafas pasrah dan masuk begitu saja. Sedikit mengernyit saat aur hangat menyentuh tubuhnya. " Kakimu nggak apa-apa? Apa masih perih? Kalau ya kamu mandi di shower aja? "
" Nggak. Aku baik. Dan aku mau berendam. Badanku sakit ". Noeul naik ke bak mandi dengan hati-hati. Boss membantunya duduk di antara kedua kakinya, memeluk dari belakang dan membenamkan wajahnya ke bahu Noeul. " Kamu sangat lengket ", komentar Noeul sambil tertawa, dan menyandarkan punggungnya ke dada Boss, menutup matanya ketika dia merasakan air panas di kulitnya.
" Tapi sepertinya kamu menyukainya ", kata Boss, menempatkan ciuman di bahu Noeul lagi.
" Memang ", jawab Noeul ringan.
Mereka tetap diam saat air memenuhi bak mandi, tubuh mereka menempel erat saat lengan Boss melingkari pinggang Noeul. Boss terus memberinya ciuman lembut, membuat si brunet semakin rileks, sambil menikmati aroma manis Noeul bercampur dengan aroma sabun dan hangatnya air. Benar-benar kombinasi yang sempurna.
KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)
Fiksi PenggemarSetiap orang di sekitar Boss selalu mengatakan bahwa cinta itu ada di sekitar kita, dan kita akan menemukannya, tapi mereka semua salah! Satu-satunya yang Boss temui adalah bajingan pendek yang menabrak Boss di suatu pagi dan menumpahkan kopinya saa...
