Tidak ada yang berubah selama Noeul berada di Bangkok. Semuanya sama persis, hanya sekarang ada dekorasi Natal di rumah-rumah, toko dan sekolah. Noeul suka tidak ada yang berubah karena dia merasa baru kemarin dia meninggalkan kota ini. Jika terlalu banyak hal yang berbeda, Noeul akan merasa bersalah, menyadari bahwa selama dia berada di Bangkok, neneknya harus berada di sini sendirian.
Bukannya beliau tidak punya teman ─ beliau punya banyak sebenarnya. Neneknya selalu memberitahu Noeul di telepon bahwa beliau bersenang-senang dengan tetangganya saat mereka merajut atau mencoba resep baru, dan Noeul benar-benar bahagia untuknya. Namun, dia masih merasa tidak enak meninggalkannya, bahkan ketika sang nenek bersikeras agar cucunya tidak pergi ke Bangkok. Noeul merasa sangat kesepian ketika dia sendirian di apartemennya yang sangat kecil. Betapa kesepiannya neneknya, di sebuah rumah yang begitu besar.
Noeul menggelengkan kepalanya, membuang fikiran negatif itu, karena neneknya tidak akan suka. Jadi Noeul lebih fokus pada desa yang belum pernah dilihatnya sejak musim panas ketika dia berkunjung tahun lalu. Noeul selalu suka melihat tempat-tempat dimana banyak orang sibuk disana, tetapi sekarang ketika dia harus berurusan dengan Bangkok yang selalu sibuk, dia menghargai ketenangan kampung halamannya yang berharga.
Butuh beberapa jam untuk sampai ke rumah neneknya, karena banyak orang menghentikan Noeul di sepanjang jalan, menanyakan bagaimana kabarnya dan bagaimana Bangkok memperlakukannya. Noeul memberi tahu mereka bahwa dia sangat bahagia akhir-akhir ini, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia tidak berbohong tentang hal itu. Setiap kali Noeul mengatakan dia bahagia dengan hidupnya di Bangkok, dia tersenyum terpaksa, dan sekarang dia tidak perlu melakukannya. Itu perasaan yang luar biasa.
Beberapa orang bahkan menyinggung topik Boss, memberi tahu Noeul bahwa mereka telah melihat berita itu, tetapi Noeul membantah pertanyaan tersebut dengan senyum getir, mengatakan bahwa mereka hanyalah teman. Dan dia juga tidak berbohong tentang itu, tapi kenapa dia merasa sangat aneh mengatakannya? Seperti... agak kecewa?
Ketika dia akhirnya berdiri di depan rumah besar paling besar diantara yang lain, Noeul mendapati dirinya tersenyum bahagia. Tidak peduli berapa banyak kenangan buruk yang terikat ke rumah ini, Noeul masih suka kembali, kembali ke neneknya yang telah melakukan begitu banyak untuknya selama bertahun-tahun.
Noeul berjalan ke pintu utama dan membunyikan bel. Tentu saja dia memiliki kunci, tetapi dia masih ingin mengumumkan bahwa dia akhirnya ada di sini sebelum masuk. Dengan tenang ia memasukkan kunci dan membuka pintu, hidungnya langsung mencium bau makanan khas masakan rumahan dan aroma manis kue yang dibuat neneknya. Noeul menarik nafas dalam-dalam. Aroma rumah benar-benar berbeda.
" Noeul... " Suara tua tetapi masih penuh energi memanggilnya, dan Noeul merasakan air mata menggenang di matanya saat dia menoleh ke arah dapur, dimana neneknya berjalan ke arahnya dalam langkah singkat tapi cepat. Dia sudah mengangkat tangannya, siap memeluk Noeul ketika cukup dekat.
Noeul tidak menunggu satu detik lagi dan tanpa melepas sepatunya, berlari ke arah neneknya, barang bawaannya dijatuhkan di dekat pintu dan dilupakan. Neneknya sangat pendek, dan Noeul harus berjongkok saat dia memeluknya erat-erat, menutup matanya. " Aku sangat merindukanmu, Yaa " bisiknya, air mata kebahagiaan sudah mulai jatuh dari kelopak matanya.
" Sama sayang. Yaa juga merindukanmu ". Nenek Noeul tertawa bahagia, menepuk punggung si brunet. " Tapi berapa kali aku harus memberitahumu untuk melepas sepatumu, hah, anak nakal? "
Noeul tertawa sepenuh hati, dan neneknya ikut tertawa bersama. Mereka tertawa seperti itu untuk sementara waktu, bergetar dalam pelukan satu sama lain, dan Noeul menikmati setiap tepukan di punggung dari neneknya, tangan kecilnya begitu familiar di kulit Noeul. Dia ingat bagaimana tangan kecil dan lembut ini memegang tangannya ketika dia masih muda, di pemakaman orang tuanya, memberinya kekuatan yang sangat dia butuhkan. Dia ingat memberinya kekuatan kembali pada hari suaminya, kakek Noeul, juga meninggal. Tapi saat ini, mereka saling memberi kekuatan, saling berpelukan dengan sangat hati-hati.
KAMU SEDANG MEMBACA
BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)
Fiksi PenggemarSetiap orang di sekitar Boss selalu mengatakan bahwa cinta itu ada di sekitar kita, dan kita akan menemukannya, tapi mereka semua salah! Satu-satunya yang Boss temui adalah bajingan pendek yang menabrak Boss di suatu pagi dan menumpahkan kopinya saa...
