Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Baby Sitting (2)

330 33 3
                                        

Noeul menelpon Ja mungkin sepuluh menit setelah dia selesai berbicara dengan Boss. Ia membutuhkan waktu untuk memilih kata dan menyiapkan argumen yang baik jika Ja menentang gagasan tentang Tan dan dirinya menghabiskan malam di rumah Boss.

" Umm.. Ja.. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu ", ucap Noeul gugup.

" Ada apa, Eul? ". Noeul meneguk ludahnya kasar. Suara Ja yang serak membuat si brunet semakin tidak tenang.

" AkumaumengajakTankerumahBoss ", ucap Noeul dalam satu tarikan nafas. Entah Ja mendengarnya atau tidak, namun Ja tidak mengatakan apa-apa. Sambungan telepon mereka mengambang begitu saja. Noeul juga tidak berani bertanya lebih dulu.

" Aku memang menyukai Boss. Tapi aku belum percaya dia sepenuhnya ", jawab Ja setelah lama terdiam. Noeul sudah menduga Ja pasti tidak akan- " Tapi aku tetap setuju kamu berada disana. Tan alergi dingin, aku nggak mau dia menjadi beban karena tidur di apartmu ", jawab Ja sedikit menyinggung. Namun Noeul malah tersenyum. Memang benar adanya kalau apart nya sedingin musim salju.

" Baiklah. Terima kasih Ja "

" Nggak. Aku yang terima kasih. Sampaikan juga pada Boss. Aku akan membuatkan kue coklat yang agak banyak nanti "

Setelah Noeul menutup telepon dengan izin Ja untuk menginap dengan Tan di rumah Boss, si brunet memakan potongan terakhir makan siangnya yang sudah dingin dan membuang ke sampah, menjatuhkan diri kembali ke tempat tidurnya. Benar-benar tidak banyak yang bisa dilakukan di apartnya selain tidur dan menonton televisi, jadi Noeul tidak merasa bersalah sama sekali ketika dia menghabiskan jam-jam berikutnya seperti itu, berbaring di tempat tidurnya sambil mengganti saluran dan tertidur kembali selama beberapa menit.

Tapi kemudian dia melihat jam dan ketika menyadari hanya tinggal satu jam sebelum jam lima, Noeul bangkit dari tempat tidur dalam hitungan detik dan berjalan ke kamar mandi. Tidak akan ada masalah dengan waktu satu jam untuk bersiap-siap, tetapi karena dia menyuruh Boss untuk berada di sana sebelum pukul lima, dia mengharapkan sang CEO muncul sekitar pukul empat tiga puluh atau semacamnya.

Noeul sudah keramas kemarin jadi dia hanya perlu membersihkan tubuhnya agar tidak berbau seperti burger dan kentang goreng. Namun, mandi pun butuh waktu, semoga Boss akan datang lebih cepat sebelum Ja, supaya dia bisa minta ijin langsung dengan sang koki.

Noeul bertanya-tanya apa yang harus dipakai, tetapi karena mereka tidak akan keluar dan akan menghabiskan semua waktu di rumah Boss, si brunet berpikir dia akan memakai celana olahraga, kemeja dan sweater sederhana saja. Lagi pula, dia akan bermain-main dengan Tan, dan memakai celana jeans tentu akan menghambat gerakannya. Pada akhirnya, Noeul mengeluarkan celana olahraga abu-abu di lemari pakaiannya, kemeja putih dan sweter hitam, memakainya sebelum kembali ke kamar mandi dan menata rambutnya. Noeul juga melempar sikat giginya ke dalam ransel kecil dan piyama yang akan dia buat tidur.

Tak lama kemudian, Noeul mendengar seseorang mengetuk pintu. Mungkin itu salah satu tetangga, pikir Noeul, lalu berjalan menuju pintu. Memang ada seorang nenek tua demensia yang selalu mengetuk seluruh pintu di apart itu. Menganggap dirinya seumuran dengan Noeul sehingga ia sering datang ke apart si brunet, mengajaknya jalan-jalan atau makan di luar, persis seperti remaja.

Namun ketika ia membuka pintu, betapa terkejutnya Noeul saat melihat pria jangkung dengan jaket panjang tepat di depan matanya, tersenyum sampai kedua matanya menyipit.

" Bagaimana kamu bisa melewati- "

" Halo juga untukmu " Boss terkekeh melihat Noeul begitu terkejut. " Beberapa wanita membiarkanku masuk, apalagi nenek tua yang seperti remaja itu "

" Oh... Kalau gitu masuklah "

Saat Noeul mengundang Boss masuk, dia menatap sang CEO dari ujung kepala sampai ujung kaki. Boss pasti baru saja selesai dari pekerjaannya, dilihat dari setelan mewah dan dasi bersama dengan sepatu dan celana yang licin, dan mantel besar yang kini di tangannya. Di apartemen Noeul yang berteriak 'aku agak miskin' di mana-mana, Boss sepertinya tidak pantas berada di sini. Tapi Boss tetap datang dengan santainya, tanpa merasa jijik sekalipun. Boss memang mungkin terlihat diluar jangkauan dari luar, tapi sebenarnya Boss adalah pria dewasa yang biasa saja.

BELOVED ENEMY (BOSSNOEUL)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang