16: Obat

4.9K 224 22
                                        

Sambil dengerin musiknya ya supaya feel-nya lebih terasa🧡

●●●

Arial kembali ke kamar setelah merasa kondisinya lebih baik. Diperlakukan tidak adil sudah menjadi makanan sehari-hari cowok berusia enam belas tahun itu. Arial mandiri hingga mengompres keningnya tanpa membutuhkan bantuan orang lain.

Belum sampai tiga menit, handuk basah itu sudah mengering saking panasnya suhu tubuh Arial. Arial berbaring terlentang menatap lurus plafon kamar.

Plafon identik dengan atap rumah orang-orang berada. Arial menyelipkan kedua tangannya di bawah kepala, semua ternyata berat untuk dilalui sendiri. Tak ada sandaran untuk berbagi luka, tak ada telinga untuk mendengar suaranya. Arial memejamkan mata sejenak, butuh tenaga ekstra guna mengembalikan energi menghadapi keluarga toxic ini.

"Gue, lemah," gumam Arial tiba-tiba.

Cukup simpel sebenarnya, mereka cuek, Arial juga bisa cuek. Arial sudah menerapkan sikap itu sejak dulu, tetapi tidak mudah mengharuskannya memakai topeng 'cuek' itu setiap hari. Arial bukan lelaki kulkas yang dingin dan menghiraukan perhatian.

Arial menempelkan punggung tangannya di atas kening, Arial beranjak bangun menyibak selimut kemudian menyambar kunci motornya.

Tak pernah seumur hidup Arial meminta orang lain untuk mengerti perasaannya, tetapi dulu setidaknya ada telinga yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Ada bahu untuk bersandar.

Kepergian Ayah lebih mudah terobati ketimbang kepergian Reyndra, meski sama-sama sakit tetapi ketika Ayah pergi ada Reyndra dan Bunda yang saling menguatkan. Tetapi giliran Reyndra yang pergi benar-benar tak ada yang menguatkannya, justru silih orang berganti menyalahkan dirinya sebagai penyebab kepulangan Reyndra ke pelukan Ayah.

"Lo gak adil, Rey. Sumpah," Arial berbicara sembari mengusap nisan Reyndra. "Ajak gue sekarang Rey, gue kangen suara lo Rey, pasti wajah kita tetap mirip kan sekarang?"

Tak ada suara yang menjawab pertanyaan Arial.

"Kalau lo gak bisa bangun setidaknya ajak gue satu alam sama lo lah,"

"Gue ... pengen ikut lo. Kayaknya Bunda gak masalah kalau gue pergi dari dunia ini, toh dia bahagia mengasuh anak tirinya itu sampai nggak pernah tanya kabar gue."

"Jadi hantu di kamar gue gapapa kok Rey, gue kesepian di sana. Farel yang lo bilang butuh motivasi itu makin ke sini anaknya makin songong. Makin ngadi-adi, gue hampir mati sama dia,"

"Haha..."

"Kalau ngomong sendiri kaya gini termasuk sakit mental juga gak sih?"

"Tapi gue gak ngomong sendiri deng, gue kan ngomong sama elo. Elo di bawah sini kan?"

"Gue balik ya Rey. Semoga secepatnya kita bisa ketemu lagi. Assalamualaikum bro."

Arial menepuk lututnya yang sedikit kotor karena terkena tanah. Arial datang ke makam Reyndra tanpa membawa bunga, Arial hanya membawa segenap doa serta cerita yang tak tau lagi harus diutarakan kepada siapa.

Stepbrother✔️ [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang