40: Sosok Bunda

3.3K 229 29
                                        

Boleh follow andarrr dulu?

Makasih😊

●●●

"Nanggung ah mau masuk," cicit Arial.

Arial dan Dafa membolos di kantin sekolah. Melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lebih, pasti jika masuk ke kelas bakalan kena omel guru mapel mereka.

"Dahlah sini ae, nongki-nongki. Daripara masuk kelas ikut pelajaran matematika, apa nggak males," sahut Dafa mencomot mendoan kecap ala ibu kantin.

 Daripara masuk kelas ikut pelajaran matematika, apa nggak males," sahut Dafa mencomot mendoan kecap ala ibu kantin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Pelajaran udah sampai mana, Po?" tanya Arial mengingat seberapa sering dirinya izin.

"Pelajaran apaan?" tanya Dafa.

"Matematika,"

"Algoritma nggak sih? Lupa juga gue, apa gue kalau pelajaran merhatiin sih Al, paling gue tinggal turu," ungkap Dafa.

"Turu mah kerjaan gue."

Ditengah asyiknya ngobrol, Dafa mendadak menepuk-nepuk pundak Arial keras. "Pak Fian Al, ayo kabur!"

Arial refleks menoleh. Kedua remaja itu langsung beralih dari tempat duduknya, mereka jalan setengah jongkok untuk menghindari guru BK yang memergoki murid-muridnya ketahuan bolos alias tidak masuk kelas.

"Po! Es teh gue ketinggalan," bisik Arial setelah mereka berhasil sampai ke pintu belakang kantin.

"Lupain! Anak sebelah kena razia, ntar kita bisa dihukum," ujar Dafa mengintip suasana di dalam kantin.

Arial menatap malang nasib es teh miliknya yang masih tersisa setengah gelas. Padahal sudah Arial hemat untuk teman ngobrol selama satu jam kedepan bersama Dafa. Eh malah ketinggalan saking paniknya.

"Udahlah Al ... es teh doang, ntar beli lagi," Dafa mengusap pundak Arial melihat raut galau sang empu.

"Hey kalian!" seru suara bariton keras mengejutkan mereka.

"Cabut!" pekik Dafa. Mereka berdua langsung memalingkan wajah. Jangan sampai Pak Fian mengenali wajah mereka berdua, bisa-bisa beliau mengubungi wali kelas dan mengadukan ulah nakal remaja-remaja ini.

Arial dan Dafa berlarian melewati lorong sempit belakang kantin. Apabila lurus lorong tersebut akan menghubungkan tempat parkir.

Feeling Dafa pasti di ujung tempat parkir sudah ada guru lagi, Dafa memanjat tembok sampingnya. Diikuti Arial, ia melakukan hal yang sama, kemudian mereka berdua meloncat dari atas pagar tersebut.

"Haaah ... aman kayaknya," Dafa mengeluarkan debas lega.

Arial mengerjapkan mata. Melewati berbagai rintangan kocak tadi cukup menguras tenaga Arial yang belum pulih sepenuhnya. Dan sekarang Arial harus menerima akibatnya.

Stepbrother✔️ [Tamat]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang