Meski pucat karena kehilangan banyak darah, namun tak bisa dipungkiri wajah Arial terlihat sangat tenang. Farel memeluk tubuh Arial yang telah dibungkus kain kafan sepenuhnya. Farel janji ini pelukan yang terakhir. Walaupun jiwanya sudah tak ada di raga, kenyamanan masih Farel rasakan ketika berada di sisi Arial.
Raut tenang Arial seolah menyuruh Farel agar ikhlas melepaskan kepergiannya.
"Ikhlas ya Farel, kita segerakan antar Al ke pemakaman," Jovan menepuk pundak Farel.
Farel menoleh kemudian mengangguk.
"Bunda juga ikhlas ya, kita anterin Al sama-sama," Farel berusaha tegar di depan Ranum. Susah payah Farel menarik bibirnya untuk tersenyum, mengembalikan tatapan kosong Ranum yang terus mengarah pada putranya.
Jovan berdiri untuk melihat wajah terakhir Arial sebelum diangkatkan.
"Selamat jalan, Al. Ayah janji akan tetap jagain Bunda kamu. Terimakasih sudah menjadi saudara yang baik untuk Farel, makasih udah bikin Farel menjadi lebih baik. Maafin Ayah sempat berpikir buruk tentang kamu, sempat khawatir setiap Farel ada di dekat kamu. Ayah nyesel pernah berpikir seperti itu. Ayah tau Ayah telat ngucapin ini, waktu kita cuman singkat, tenang di sana ya, Nak." Jovan mengecup kening Arial cukup lama.
●●●
Dafa berdiri di bawah pohon kamboja untuk ikut mendoakan Arial di pemakaman. Dafa ingin sekali mendekat, ingin ikut menaburkan bunga tapi dia sadar kehadirannya tidak diinginkan oleh keluarga mereka. Bahkan tadi Jovan telah mengusirnya secara halus.
Pundak Dafa bergetar, ia menangis tergugu sendirian. Teman-temannya bisa menyaksikan Arial secara dekat, berbeda dengan dirinya yang harus berjaga jarak.
Waktu menaburkan bunga, Kevin melirik sahabatnya yang masih berada di tempat yang sama. Kevin mendekati Dafa, tangis Dafa semakin kencang waktu Kevin memeluknya.
"Al... ayo ngesteh lagi, Al...." Dafa tersedu-sedu.
Semua orang ikut memanggilnya; Popo setelah Arial secara terang-terangan menyapa Dafa menggunakan panggilan tersebut di hadapan banyak orang.
"Po," celetuk Arial.
"Hah?" Dafa mengernyitkan kening.
"Bagus juga nama lo jadi Popo, gue manggil lo Popo aja dah."
Dafa bersungut mendengar perkataan Arial. "Udah bener awal kenal lu manggil gua Dafa, terus Dapa, sekarang Popo. Gue bilangin Emak gue awas lo."
Panggilan 'Popo' sudah melekat erat pada diri Dafa. Bahkan tak heran jika orang-orang lebih tau Popo daripada Dafa. Malah beberapa orang ada yang tidak tau jika nama asli Popo adalah Dafa. Popo itu hanya nama samaran, celetuk Arial secara tidak sengaja.
Menjadikan semua orang ikut menyebut dirinya dengan sebutan khusus yang Arial berikan untuknya. Dafa semakin menangis saat teman-temannya menyuruhnya tenang sambil memanggilnya dengan sebutan 'Popo'.
"Udah, Po..,"
"Ntar kalau keluarganya Al udah pulang, kita taburin bunga bareng-bareng ya."
"G-gue nggak pantes..." Dafa menggeleng lemah.
"Hey... Po... kuat lo harus kuat." Kevin menahan pundak Dafa yang terhuyung.
"Vin, gue harus gimana?" Dafa menatap Kevin sayu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stepbrother✔️ [Tamat]
Narrativa generaleArial dan Reyndra merupakan saudara kembar. Ayah mereka meninggal dunia sejak dua tahun silam, seiring berjalannya waktu bunda menikah dengan seorang duda yang memiliki putra bernama Farel. Pada suatu hari Arial sedang bersama Reyndra lalu terjadil...
![Stepbrother✔️ [Tamat]](https://img.wattpad.com/cover/341049285-64-k703397.jpg)